Kantung Baru untuk Anggur Baru
Thursday, March 5th, 2009
Reuni Mantan Maranatha
Yogyakarta, 28 Februari – 2 Maret 2009
1.
Reuni yang bikin teler. Bagaimana tidak? Seluruh dunia tahu bagaimana kalau orang Maranatha (Jogja) sudah kumpul. Habis meeting, rencana mau ke warung poci, ngobrol dulu di ruang meeting. Lalu turun ke kamar untuk menaruh barang, ngobrol dulu di depan kamar. Lalu bergerak ke mobil, ngobrol dulu di sekitar mobil. Baru naik mobil, ke warung poci untuk ngobrol lagi panjang-lebar… dst. Intinya, sambil tidur pun masih terus ngobrol. Dan karena ini reuni hanya dua hari dua malam, alhasil masa tidur jadi menipis. Belum lagi aspek spiritual-mental yang menyala-nyala penuh gairah, semangat, kangen, nostalgia pahit-manis-getir-kecut yang membangkitkan tawa terbahak-bahak saat dikenang. So, ini memang reuni amat singkat, namun sudah bikin teler, dan amat sangat menyenangkan…
Oya, tadinya aku mau bikin laporan ala wartawan, meliput berbagai sisi reuni ini. Tapi, rasanya lebih asyik bercerita dari sudut pandangku sendiri, bagian-bagian yang memang kuketahui (data yang salah silakan dikoreksi). Biar kawan-kawan lain nanti melengkapi dari sudut pandang masing-masing.
2.
Jumat (27/2), sebagian peserta sudah datang. Malam-malam rencana mau angkringan. Aku ditelepon untuk meluncur ke Warung Ki Demang di Jamal. Di sana sudah menunggu, kusebut saja yang dari luar kota: Cak Joe (Batam), Anto (Palangkaraya), Arnold (Denpasar), dan menyusul Heru (Solo). Aku memesan wedang tape dan berbagi mi goreng ayam semur dengan Reynold.
Aku sempat ngobrol dengan Joe. Ia cerita soal sekolah musik yang tengah dirintisnya dengan seorang kawan dari Jogja. Impiannya sekolah ini nanti akan memperlengkapi gereja-gereja dalam pujian-penyembahan.
3.
Sabtu (28/2), sekitar pukul 5 sore, kami sekeluarga dijemput Shane dan Ine serta Anto. Penumpang lainnya… surprise: Pak Ronny & Mbak Santje dari Sidoarjo, beserta dua putri cantik mereka: Grace & Angel. Maria tak bisa ikut karena acara di sekolah. Grace yang dulu anak sekolah Minggu itu kini sudah mahasiswi Universitas Negeri Malang Jurusan Bahasa Jerman. Cepatnya waktu berlalu!
Mobil meluncur agak tersendat di Jakal. Rupanya malam Minggu begini banyak yang ingin menghabiskan waktu dengan menghirup udara dingin segar Kaliurang.
Pak Ronny sekeluarga sempat tinggal di center Jatimulyo, beberapa rumah dari tempat tinggal kami sekarang. Mereka lalu misi ke Purwokerto dan Tegal. Sekarang di Sidoarjo mereka melayani di GPdI. Pak Ronny cerita, ia berinisiatif mengadakan kebaktian pemuda dengan kostum informal, seperti pakai celana jin, awalnya diprotes, namun akhirnya malah disukai.
Sesampai di Taman Eden 3, Andhie Supriadi menyambut kami dan mempersilakan kami memilih kamar masing-masing. Menyusul di belakang kami Heru & Eel bersama Ninik dan Hendro Saputro. Andhie juga memberi tahu, makan malam sudah siap lantai 1.
Di ruang makan inilah, satu demi satu peserta bermunculan. Nah, langsung saja kubuat presensi peserta, baik yang ikut seluruh acara maupun hanya datang satu malam:
Batam: Joe Karsajati, Pedro Tololiu.
Jambi: Omega Cahyono,
Jakarta: Eriel & Sinta, Herry & Meri, Welly & Else, Lesmana & Yanti, Herbert Rajagukguk, Rikky Sebayang, Deny Ratulangi, Rudi Siregar, Arthur Montong.
Jogja: Tomy & Pipin, Reynold & Iie, Arie & Rina, Shane & Ine, Mibsam Rehuil Manu, Eq, Kris & Ambar, Eko & Irma, Ook, Ninik, Hendro, Andhie & Ida, Andi & Ita, Tony & Vivin, Stefanus Dadang, Tri Prasetyo, Ichus, Kris Juliadi, Yosua Sirait, Chocho Paputungan.
Solo: Heru & Eel, Jarot, Lilik.
Semarang: Yani & Ita.
Sidoardjo: Ronny & Santje.
Depansar: Yessy Arnold.
Palangkaraya: Bambang Bahan, Anto, Harnopelin.
Papua: Izaak Wondiwoy.
AS: Bob Weiner.
Sebagian datang lengkap dengan anak-anak, sebagian lagi datang sebagai lajang sementara.
3.
Aku antara lain ngobrol dengan Stefanus. Ia cerita pengalamannya ketika kerja di pertambangan. Gaya hidup yang berbeda (tidak merokok, tidak memaki, peduli dan mau bergaul dengan bawahan) membukakan kesempatan baginya untuk berbagi tentang Tuhan dan imannya.
Tony membawa satu album khusus foto-foto tua, sebagian berlokasi di center Puluhdadi. Arnold masih berambut sebahu, Heru Handoko masih langsing ramping, Herlak brewokan…
Reynold cerita pengalaman saat diajak mencari beras sampai ke Cilacap. Beras gratis sangat menggiurkan bagi anak-anak center saat itu. Nyatanya, sudah bersepeda motor jauh-jauh, dalam keadaan demam, sesampai di lokasi beras ternyata sudah tak ada. Untunglah, perjalanan itu malah menghilangkan demamnya!
Obrolan semacam itu terus bergulir satu per satu sambil kami menunggu Eriel & Sinta serta Bob yang sedang dijemput di bandara. Kalau diperhatikan wajah-wajah di ruangan itu satu per satu, ada yang sepuluh tahunan sudah tak bersua, kebanyakan tak banyak berubah: masih muda-muda dan segar-segar… cie! Perubahan nyata pada postur tubuh: dulu kurus kapiran kurang terurus, sekarang lemu ginuk-ginuk alias mendapatkan vitamin yang cocok. Tinggal Omega Cahyono yang tubuhnya masih ramping seperti dahulu.
4.
Ketika Eriel & Sinta dan Bob datang, kami turun ke aula kecil di lantai dasar. Bob, dengan baju formal berdasi, memberi salam dan berbagai soal DNA rohani dan pentingnya menjadi orang Kristen dunia. Maranatha dipanggil untuk memenangkan, membangkitkan, dan mengutus kaum muda (win – build – send, ingat?) untuk mendatangkan perubahan melalui 3R: revival (kebangunan rohani), reformasi masyarakat, dan restorasi Gereja Perjanjian Baru. Kita perlu menjadi orang Kristen yang berfokus pada Kerajaan Allah, bukan hanya sibuk dengan jemaat lokal dan pelayanan sendiri. Kita berfokus mulai dari yang global (Kerajaan Allah, bangsa-bangsa) lalu turun ke bagian-bagiannya sampai yang terkecil (jemaat lokal, keluarga, pribadi). Semacam think globally, act locally, begitulah.
Nantinya Tomy memancing komentar, ”Mas Arie, apa coba yang baru dari khotbah Bob Weiner?”
”Pesennya tetep sama. Ilustrasinya saja yang bertambah mengikuti perkembangan. Kayak saat ini ada ilustrasi dari Olimpiade Beijing. Apa lagi?”
”Sekarang Bob suka ke mal?”
”Maksudnya?”
”Dia kasih diskon lima puluh persen.”
”Hah?”
”Dulu, VIP seminggu menjangkau dua belas orang. Sekarang dia kasih hanya enam orang!”
Bob membagi-bagikan foto keluarga, foto pernikahan Stephanie, foto klasiknya bersama Ronald Reagan, dan foto terbarunya bersama ”Barack Obama”….
Yang mengesankan, ia mengakui kesalahan Maranatha dulu. Maranatha berusaha membuat orang berubah dengan kekuatan pengawasan, kontrol (”Lihat mata saya!”), dan rebuke. Kita lupa bahwa yang bisa mengubah seseorang hanyalah perjumpaan dengan Allah. Karenanya, untuk melihat seseorang berubah, yang bisa kita lakukan hanyalah mengajarkan dan mendorongnya untuk membangun keintiman dengan Tuhan, mengalami perjumpaan dengan-Nya hari demi hari. That’s the missing ingredient!
5.
Bob diantarkan ke hotel, yang lain hijrah ke warung poci di depan taman bermain. Benar saja, malam Minggu begitu, tempat itu sesak padat. Pilihan pun bergeser ke warung sate Pak Min yang buka 22 jam! (Nggak tahu kapan mereka mengambil dua jam istirahat!)
Warung segera penuh dengan peserta reuni, Eriel memesan 300 tusuk sate ayam dan 100 batang sate kelinci, minuman silakan pesan sendiri-sendiri, teh panas atau ronde. Obrolan berlanjut sampai…
Dua bencong melenggang ke ambang pintu dan langsung kricik-kricik menepuk tamborin dan menembangkan baris awal Kucing Garong. Izaak teriak menghentikan mereka, ”Mas (atau Mbak?) bisa nyanyi yang lain nggak? Tuhan Yesus tidak berubah!” Izaak mencoba menyanyikan lagu itu mengajari mereka.
Kedua bencong itu bengong berpandangan.
”Tuhan Yesus iku sopo to?” kata bencong yang satu.
”Wis nyanyi wae!” sambar temannya.
”Tuhan Yesus tidak berubah….” Ya, liriknya begitu, tapi melodinya, asoi… tetap saja… Kucing Garong! Kok ya kebetulan pas banget! Seluruh warung bergetar terpingkal-pingkal. Apalagi kedua bencong itu menutup lagu dengan begitu aduhai, sambil melenggokkan pantat, mereka berdendang, ”Tuhan Yesus tidak berubah… (staccato) se-la-ma-la-ma-nya!” Sukses deh mereka ”merusak” bayangan lagu itu di benak kami semua.
6.
Minggu (1/3), peserta turun ke Jogja untuk kebaktian penjangkauan Youth Awakening. Kami kebagian kloter terakhir, tiba di Auditorium RRI, Jl. Gejayan, tepat mendahului mobil yang menjemput Bob. Ruangan sudah penuh sesak dengan 500 lebih hadirin. Aku malah menyelinap ke luar, diantar Yosua mengambil buku yang rencana hendak kujual seusai kebaktian.
Balik lagi, Bob sudah menjelang akhir khotbah. Masih seputar misi dunia, fokus pada Kerajaan Allah, komitmen sepenuh hati pada Kristus, hidup dalam kekudusan. Akhirnya Bob mengundang jemaat untuk bangkit dari kursi dan maju ke depan, bahkan naik ke panggung. Ia menyampaikan berita Injil secara singkat, dengan ilustrasi presiden yang menggantikan hukuman mati bagi anaknya, dan menantang orang untuk bertobat. Yang mengangkat tangan sekitar 5 orang. Lainnya diajak untuk berkomitmen pada tujuan Allah. Bob juga berdoa kesembuhan. Sesudahnya, kebaktian rehat sejenak, untuk diteruskan dengan sesi berikutnya berupa pengajaran.
Kesempatan rehat dimanfaatkan untuk foto-fotoan, sempat ketemu dengan Gogoh Sulaksono, lihat gambar-gambar di laptop Izaak, lalu makan siang bareng Pak Ronny di warung Bale. Mau pesan ayam bakar dan ayam goreng, eh, stok ayamnya lagi habis. Ya sudah kami semua makan nasi goreng.
Selesai makan, Rina dan anak-anak pulang ke rumah, nggak naik ke Kaliurang lagi karena besok anak-anak sekolah. Kembali ke RRI, aku nggak masuk ke dalam, tapi duduk di luar bareng Eriel, Sinta, Reynold, dan Arnold, membaca visi Youth Awakening dalam bahasa Inggris susunan Eriel yang sudah lengkap. Eriel lalu mengajak makan ke Selera Kuring, namun para istri mengatakan lebih mak nyus di Pelem Golek. Meluncurlah dua mobil ke Jl. Monjali.
7.
Aku naik lagi ke Kaliurang ikut mobil Tomy. Bambang dan Anto singgah di Mirota Batik untuk membeli oleh-oleh. Tunggu saja potret Anto berblangkon di Facebook.
Setelah mandi aku ke kamar Bambang dan Anto, ngobrol seputar keadaan jemaat di Palangkaraya. Tak lama kemudian rombongan Solo datang. Lalu kami naik ke atas untuk makan. Kali ini Kris & Ambar yang membawa foto-foto kenangan, tiga album kalau nggak salah. Ditunggu upload-nya ya Mr. Fotografer!

Setelah ngobrol santai berkelompok-kelompok, Reynold mengajak semua peserta duduk melingkar. Aku diminta memimpin sharing. Nanti setelah Eriel dan Bob datang baru pindah ke aula.
Satu per satu peserta bercerita. Joe menceritakan pengalamannya memulai dari nol di Padang, dan kini setelah ia di Batam, ia mendengar jemaat di sana sudah berjumlah 70-an orang. Arthur yang paling awal oncat dari Medan sekarang melayani di GKPB, juga dipercayai untuk memegang kaum muda. Begitu juga dengan Rudi Siregar yang sempat melayani di GKPB, dan sekarang menangani kaum muda di jemaat Barsilea, Banten. Omega Cahyono melayani di GBI Abadi dalam bidang musik, namun setahun terakhir ini ia bergumul, berdoa dan berpuasa, tentang pelayanannya ke depan. Istrinya, yang bukan orang Maranatha, merasakan bahwa Tuhan mau Omega kembali terlibat ke dalam pelayanan kaum muda. Omega tentu kaget karena istrinya itu tidak terlalu paham kiprahnya di Maranatha. Maka, momen reuni ini membuatnya semakin bergairah untuk kembali melayani kaum muda. Heru juga terus setia dengan visi kaum muda sampai gereja-gereja lain di Solo mengenal kekuatan mereka tersebut dan mempercayakan pengurusan berbagai event kepemudaan kepada mereka. Generasi Baru Solo antara lain mengadakan kebaktian rock ‘n roll untuk menjangkau komunitas rocker dan underground di kota itu. Anto juga dipakai untuk melayani kaum muda di kota-kota tempatnya bekerja. Bambang memutuskan untuk tidak menjadi anggota legislatif lagi, dan setelah undur dari DPRD akan berfokus melayani jemaat. Tomy memaparkan bahwa jemaat Jogja dibawa ke level berikutnya, dengan dipercaya jemaat-jemaat lain membantu membangkitkan pelayanan kaum muda. Ia sendiri saat ini terlibat dalam kepengurusan GBI Yogyakarta. Arnold diperlengkapi untuk melayani keluarga-keluarga, namun pada awal tahun ini Tuhan membukakan pintu untuk melayani kaum muda. Semula baru ada 12 pemuda di jemaatnya, namun ketika mengadakan penjangkauan, ada 60 pemuda yang hadir dan dilayani. Eq panjang lebar menceritakan petualangannya keluar-masuk Maranatha (sampai ada yang komentar, “Bagus kalau dibuat novel!”), tentu dengan highlight bagaimana Tuhan memakainya untuk menularkan prinsip kelompok sel dan pergerakan kaum muda di jemaat lain. Izaak menceritakan perintisan jemaat di Sorong yang dimulai dari pembunuh dan pelacur, dan sekarang jemaat itu sedang membangun tempat kebaktian berkapasitas 1.500 orang…
Entah ketika orang keberapa sedang sharing, Bob masuk. Ia lalu memberikan komentar atas kesaksian masing-masing orang. Hehe, kupikir mau ganti memberikan pengajaran dia.
Dari kesaksian-kesaksian itu, jelaslah bahwa orang-orang Maranatha itu akan sukses saat mereka bergerak menurut DNA rohani, panggilan yang Tuhan letakkan melalui pergerakan ini: melayani kaum muda.
Saat Bob masuk, dan kemudian disusul Eriel & Sinta, aku lupa menanyakan pada Reynold, apakah sharing akan terus dilanjutkan atau acara mau dipindahkan ke aula. Ini kan memang reunian, bukan konferensi pelatihan. Kita mau silaturahmi, sharing, dan kangen-kangenan. Jadi, biarlah suasana ”konferensi meja bundar” yang sudah cair itu terus mengalir.
Akhirnya, Bob kembali menegaskan visi Kerajaan Allah, dan menumpangkan tangan pada seluruh peserta reuni.
8.
Setelah rehat dan fellowship sebentar, dan Bob diantar ke hotel, ”konferensi meja bundar” kembali dilanjutkan. Eriel sharing, menegaskan apa yang TIDAK ingin dibangunnya dan apa sebenarnya yang sedang dibangunnya.
Maka berkatalah Yesus kepada mereka: “Karena itu setiap ahli Taurat yang menerima pelajaran dari hal Kerajaan Sorga itu seumpama tuan rumah yang mengeluarkan harta yang baru dan yang lama dari perbendaharaannya.”—Matius 13:52
Kita memiliki ”harta yang lama”—warisan nilai, prinsip, dan pengajaran yang kita terima melalui pergerakan Maranatha. Bahan-bahan itu berguna, namun tidak memadai untuk membawa kita masuk ke tanah perjanjian. Hal itu hanya akan membuat kita seperti Musa, yang hanya bisa memandang tanah perjanjian dari jauh, namun tidak pernah memasukinya. Atau, seperti Daud, yang hanya bisa menyediakan bahan-bahan untuk pembangunan Bait Suci, namun tidak diperkenankan Tuhan membangunnya.
Kita memerlukan juga ”harta yang baru”—generasi Yosua yang memasuki tanah perjanjian, generasi Salomo yang membangun Bait Suci. ”Harta yang baru” ini, ”anggur yang baru” ini, tidak bisa diwadahi dengan kantung anggur yang lama. Apa wadah yang baru ini?
Relationship. Kita ingin membangun hubungan, bukan struktur organisasi. Secara organisasi kita sudah terpencar ke berbagai denominasi, namun kita tetap ingin keep in touch dan mendukung satu sama lain. Hubungan yang otentik memungkinkan adanya trust satu sama lain. Dalam atmosfir trust inilah, spiritual covering sungguh-sungguh berlangsung: kita menjadi penjaga saudara kita. Hubungan semacam inilah yang membuat Tuhan mencurahkan berkat dan urapan-Nya (Mazmur 133).
Power. Kita memerlukan power yang tangible. Eriel mencontohkan Jerame Nelson yang dipakai Tuhan secara luar biasa dalam kuasa dan mukjizat. Namun, ia juga anak muda yang cool banget (baru 28 tahun!), dan tidak terlalu hirau dengan formalitas. Mesti menunggu 2 jam, tidak masalah. Berdoa dengan iringan musik cadas, urapan Tuhan juga tetap mengalir deras.
Power ini muncul dari tengah api kekudusan, dari keintiman dengan Tuhan dan takut akan Dia. Namun, paradigma kita tentang kekudusan berbeda dengan perspektif old generation. Bukan lagi kekudusan yang legalistik, tidak boleh ini, tidak boleh itu—melainkan kekudusan yang muncul karena kita berapi-api bagi Tuhan—roh kita menyala-nyala. Katakanlah, kalau dosa dan kenajisan itu kegelapan, kita tidak sibuk mengutuk kegelapan, sebaliknya kita giat menyalakan terang.
Prosperity. Dulu, ibarat di padang gurun, kita begitu bersemangat dalam pelayanan, namun hanya ada manna hari demi hari. Artinya, dana pendukung pelayanan hanya pas-pasan. Kita percaya, dalam pergerakan kali ini, Youth Awakening, Tuhan akan menyediakan dana yang memadai, bahkan berlimpah-limpah.
Namun, tetap, kita tidak akan merekrut orang dengan cara-cara yang dulu. Kita tidak akan bergerak secara eksklusif dan bersikap holier-than-thou. Kita justru ingin membaur dan meniadakan sekat-sekat denominasi. Kita ingin orang tergabung karena mereka rela dan merasa terpanggil. ”Pada hari tentaramu bangsamu merelakan diri untuk maju dengan berhiaskan kekudusan; dari kandungan fajar tampil bagimu keremajaanmu seperti embun.”—Mazmur 110:3
9.
Begitulah. Untuk sebuah acara dadakan, reuni ini beyond my expectation. Peserta juga merasa dibangkitkan bisa bertemu satu sama lain. Karenanya, acara ini diharapkan bisa dilangsungkan secara teratur. Anggaplah sekarang ini baru reuni penjajakan. Direncanakan menjelang atau awal bulan puasa nanti, akan diadakan lagi reuni yang lebih tertata pelaksanaannya. Bagi yang berminat, silakan tunggu kabar-kabar selanjutnya.
Begitulah, itu tadi reuni dan silaturahmi mantan Maranatha dari sudut pandang seorang Denmas Marto. Kutunggu kawan-kawan lain melengkapi.
Love you all, guys!