Memberdayakan Kaum Muda
Thursday, March 5th, 2009
Life begins at forty. “Hidup dimulai pada usia empat puluh tahun.” Tampaknya gereja-gereja sekarang termasuk lembaga yang berpandangan demikian. Seolah-olah ada konsesus tak tertulis bahwa Tuhan hanya dapat atau seyogyanya menggunakan mereka yang sudah berumur lebih dari empat puluh tahun untuk melakukan pekerjaan yang benar-benar penting dalam Kerajaan-Nya.
Dalam novel Mochtar Lubis, Jalan Tak Ada Ujung, ada ilustrasi yang mengena untuk keadaan ini. Mr. Kamarruddin – yang bersama rekan-rekan sebaya lainnya yakin: jika Belanda berkuasa lagi, semua akan beres – marah-marah kepada anaknya yang membawa pistol, lari ikut bergerilya, “Haziiilll! Kembali!”
Y.B. Mangunwijaya mengomentari, dalam teriakan itu tersembunyi perasaan yang lebih besar daripada kemarahan, yakni perasaan sayang seorang ayah kepada anak, dan rasa takut anaknya mendapat bahaya maut. Dalam teriakan itu juga tersembunyi rasa takut Mr. Kamarruddin sendiri yang dipendamnya jauh-jauh di dalam hatinya. Takut melihat perubahan-perubahan zaman, perubahan yang tidak dapat dimengerti olehnya.
Sindroma Mr. Kamarruddin ini tampaknya banyak menghinggapi gereja saat ini. Gereja cenderung memandang kaum muda sebagai bagian dari masalah, bukan bagian dari penyelesaian masalah. Dalam pembicaraan tentang anak muda, gambaran yang segera muncul adalah tawuran pelajar, pergaulan bebas, hedonisme atau penyalahgunaan narkoba. Sudah begitu, pelayanan kaum muda kurang ditangani secara serius, lebih sering hanya ditempatkan sebagai “acara tambahan” di tengah rangkaian tugas dan agenda gereja.
Kalau mencermati begitu hebatnya masalah dan tantangan yang dihadapi kaum muda, tidakkah ini justru mengisyaratkan bahwa di balik gejolak dinamika kemudaan mereka, tersimpan suatu potensi yang dahsyat?
Ledakan populasi dunia telah menempatkan kaum muda pada tempat penting yang belum pernah terjadi sebelumnya. Lebih dari separuh penduduk dunia adalah anak muda.
Winkie Pratney, hamba Tuhan yang banyak melayani dan menulis tentang kaum muda, menyatakan, generasi muda mencari sesuatu yang patut dipercayai, sesuatu yang patut diperjuangkan dalam hidup ini, sesuatu yang kalau perlu dibela sampai mati. “Allah juga memberikan perhatian khusus pada kaum muda. Anak muda memiliki imajinasi. Anak muda cepat menangkap suatu visi. Dan mereka akan berani untuk memperjuangkannya sekalipun menghadapi kemustahilan,” lanjutnya.
Dalam Perjanjian Lama, kurban yang dipersembahkan di atas mesbah haruslah hewan yang masih muda, sehat, sedang mencapai puncak kekuatan dan pertumbuhannya. Dagingnya harus segar dan empuk, tanpa cela atau bekas luka, tulangnya tidak ada yang patah, tidak terserang penyakit, dan tentu saja tidak cacat. Hewan kurban ini melambangkan pelayanan yang sungguh-sungguh terhadap Allah dan membantu semua orang percaya untuk menaikkan penyembahan mereka kepada-Nya. Hewan kurban ini sekaligus mengingatkan bahwa mereka harus memberikan yang terbaik kepada-Nya.
Prinsip tersebut tetap relevan pada masa Perjanjian Baru. Roma 12:1 menyatakan, kita harus mempersembahkan tubuh kita, seluruh diri kita, sebagai persembahan yang hidup bagi Allah. Ia menghendaki persembahan terbaik dari diri kita.
Mengapa persembahan masa muda ini bermakna? Masa muda yang masih “empuk” menjadikannya mudah diolah dan dibentuk oleh tangan Tuhan. Dengan mempersembahkan masa muda kepada Tuhan, orang belajar untuk mengendalikan kehidupannya dan mengambil keputusan yang bijaksana. Pada masa muda orang juga lebih fleksibel, dan dengan demikian lebih mudah untuk belajar mempercayai Allah.
Alkitab penuh dengan contoh tokoh-tokoh yang melayani Tuhan sejak masa muda, seperti Samuel, Daniel, Yusuf, Daud dan Yosia. Rasul-rasul Tuhan Yesus juga menerima panggilan mereka pada usia muda.
Dalam sejarah, kaum muda terbukti sebagai salah satu sarana utama Allah untuk memperluas Kerajaan-Nya. Martin Luther masih berusia 33 tahun ketika menyulut peristiwa yang nantinya dikenal sebagai Reformasi Prostestan. Allah menggunakan William Carey yang baru berusia 31 tahun untuk melahirkan gerakan misi modern. Charles Spurgeon, “Raja Pengkhotbah” dari Inggris, mulai berkhotbah pada usia 19 tahun dan memikat sekian banyak orang, sehingga sebelum berusia 30 tahun ia telah membangun dan mengisi penuh Metropolitan Tabernacle di London dengan kapasitas 5.000 tempat duduk. Evan Roberts masih 26 tahun ketika dipakai Tuhan untuk mengobarkan kebangunan rohani di Wales. Di kebangunan rohani itu pula, Tuhan memakai para remaja belasan tahun dan anak-anak kecil untuk melayani dan membimbing orang tua mereka dan orang-orang dewasa lainnya!
Mereka ini barulah sebagian kecil dari ribuan kaum muda yang telah dipakai Allah untuk memajukan Kerajaan-Nya. Dan tentunya Allah masih memanggil dan mengutus kaum muda sampai saat ini, seperti difirmankan-Nya, “Pada saat Engkau menyatakan kuasa-Mu, bangsa-mu akan memberi diri dengan sukarela; dalam perarakan yang kudus, dari kandungan fajar, anak-anak muda akan tampil bagimu seperti embun” (Mazmur 110:3, terjemahan New American Standard).
Untuk itu, gereja perlu menggeser paradigmanya tentang kaum muda. Alih-alih memarginalkan pelayanan kaum muda, gereja perlu menjangkau dan memenangkan generasi muda, serta berkomitmen untuk melayani, melatih dan memperlengkapi mereka dengan segala sumber daya yang tersedia, sehingga mereka dapat melayani kehendak Tuhan dalam generasi ini. ***