Membalikkan Hati Bapa
April 2nd, 2008 by ariesaptajiAllah bisa menyatakan diri-Nya sebagai Pencipta. Sebagai Raja. Sebagai Panglima Balatentara. Namun, saat Dia mengutus Anak-Nya yang tunggal untuk menjadi manusia, Yesus Kristus memperkenalkan kepada kita Allah sebagai Bapa. Yesus berdoa kepada Allah dengan menyebut-Nya Bapa, dan mendorong kita untuk berdoa seperti itu juga. Apa yang istimewa dalam sosok ’bapa’ sehingga Allah menyebut diri-Nya sebagai Bapa Surgawi kita?
Saya kerap tersentuh dengan film yang menampilkan dinamika hubungan ayah-anak, baik sebagai tema pokok maupun tema samping. Seperti ayah yang bergumul untuk memahami hasrat anak laki-lakinya menari balet dalam Billy Elliot, ayah yang harus mengambil keputusan sulit untuk melindungi keluarganya dalam Monsoon Wedding, atau ayah yang telah meninggal saat anaknnya berumur 6 tahun dan 30 tahun kemudian menyapa anak itu lewat sebuah radio panggil dalam Frequency. Gambar-gambar yang menampilkan keakraban ayah-anak juga acap menggugah hati.
Selain menyebut diri-Nya ”Bapa”, sosok bapa itu sendir berkaitan dengan Allah. Dalam Alkitab kata ”bapa” muncul hampir seribu lima ratus kali. Apakah Allah tengah menggarisbawahi pentingnya bapa atau ayah?
Para bapa ditetapkan Allah sebagai kepala bagi keluarganya. Dengan wewenang tersebut, para bapa sekaligus memikul tanggung jawab – tanggung jawab untuk memahami dan mendayagunakan pengaruh yang dapat memberkati keluarganya. Sayangnya, banyak ayah saat ini yang malah menyalahgunakan tanggung jawab itu dan meremehkan wewenang yang diembannya.
Adakah suatu kebetulan bila Allah, seperti diamati Rick Johnson, penulis Better Dads, Stronger Sons, menutup firman-Nya pada era Perjanjian Lama dengan menegaskan pentingnya peran para bapa? “Maka ia akan membuat hati bapa-bapa berbalik kepada anak-anaknya dan hati anak-anak kepada bapa-bapanya supaya jangan Aku datang memukul bumi sehingga musnah” (Mal. 4:6).
Tentu saja Allah bisa memilih tanda lain untuk menggenapi nubuat tadi. Dia bisa berkata, ”bila orang kembali ke jemaat,” atau ”bila tidak ada lagi kelaparan atau perang.” Nyatanya, Dia memilih menyoroti pemulihan hubungan ayah-anak sebagai tanda kedatangan kembali Tuhan.
Kata ”musnah” dalam ayat ini sebuah kata yang sangat keras, menyarankan pemusnahan total. Dengan kata lain, yang bisa mengelakkan kita dari pemusnahan total dan memampukan kita bertahan dan berjaya sebagai bangsa adalah bila para pria menyambut dan menjalankan wewenang dan tanggung jawab yang Allah percayakan kepada mereka.
Allah jelas-jelas memiliki rancangan istimewa bagi para pria pada umumnya, dan para ayah pada khususnya. Allah memilih anda untuk memimpin anak-anak anda, menjadikannya orang yang berbudi luhur. Kalau Allah sudah memilih kita, tentu Allah tak akan membiarkan kita seorang diri menghadapi kemungkinan gagal. Sebaliknya, Allah akan menolong anda bila anda mencari Dia untuk mendapatkan hikmat dan kearifan. Allah akan bekerja di dalam dan melalui diri anda bila anda mengizinkannya.
Secara khusus, seperti dinyatakan John Piper, kesehatan seksual anak-anak kita sangat ditentukan oleh perhatian, pengajaran, sentuhan, dan kasih kita. Baik anak laki-laki maupun anak perempuan, perkembangan seksualitas mereka secara sehat lebih ditentukan oleh adanya sosok pria (Allah) yang ilahi, kuat, dan penuh kasih daripada oleh sosok perempuan (ibu) dalam hidup mereka. ***

‘Secangkir Teh Hangat di Beranda Rumah’