Membalikkan Hati Bapa

April 2nd, 2008 by ariesaptaji

Allah bisa menyatakan diri-Nya sebagai Pencipta. Sebagai Raja. Sebagai Panglima Balatentara. Namun, saat Dia mengutus Anak-Nya yang tunggal untuk menjadi manusia, Yesus Kristus memperkenalkan kepada kita Allah sebagai Bapa. Yesus berdoa kepada Allah dengan menyebut-Nya Bapa, dan mendorong kita untuk berdoa seperti itu juga. Apa yang istimewa dalam sosok ’bapa’ sehingga Allah menyebut diri-Nya sebagai Bapa Surgawi kita?

Saya kerap tersentuh dengan film yang menampilkan dinamika hubungan ayah-anak, baik sebagai tema pokok maupun tema samping. Seperti ayah yang bergumul untuk memahami hasrat anak laki-lakinya menari balet dalam Billy Elliot, ayah yang harus mengambil keputusan sulit untuk melindungi keluarganya dalam Monsoon Wedding, atau ayah yang telah meninggal saat anaknnya berumur 6 tahun dan 30 tahun kemudian menyapa anak itu lewat sebuah radio panggil dalam Frequency. Gambar-gambar yang menampilkan keakraban ayah-anak juga acap menggugah hati.

Selain menyebut diri-Nya ”Bapa”, sosok bapa itu sendir berkaitan dengan Allah. Dalam Alkitab kata ”bapa” muncul hampir seribu lima ratus kali. Apakah Allah tengah menggarisbawahi pentingnya bapa atau ayah?

Para bapa ditetapkan Allah sebagai kepala bagi keluarganya. Dengan wewenang tersebut, para bapa sekaligus memikul tanggung jawab – tanggung jawab untuk memahami dan mendayagunakan pengaruh yang dapat memberkati keluarganya. Sayangnya, banyak ayah saat ini yang malah menyalahgunakan tanggung jawab itu dan meremehkan wewenang yang diembannya.

Adakah suatu kebetulan bila Allah, seperti diamati Rick Johnson, penulis Better Dads, Stronger Sons, menutup firman-Nya pada era Perjanjian Lama dengan menegaskan pentingnya peran para bapa? “Maka ia akan membuat hati bapa-bapa berbalik kepada anak-anaknya dan hati anak-anak kepada bapa-bapanya supaya jangan Aku datang memukul bumi sehingga musnah” (Mal. 4:6).

Tentu saja Allah bisa memilih tanda lain untuk menggenapi nubuat tadi. Dia bisa berkata, ”bila orang kembali ke jemaat,” atau ”bila tidak ada lagi kelaparan atau perang.” Nyatanya, Dia memilih menyoroti pemulihan hubungan ayah-anak sebagai tanda kedatangan kembali Tuhan.

Kata ”musnah” dalam ayat ini sebuah kata yang sangat keras, menyarankan pemusnahan total. Dengan kata lain, yang bisa mengelakkan kita dari pemusnahan total dan memampukan kita bertahan dan berjaya sebagai bangsa adalah bila para pria menyambut dan menjalankan wewenang dan tanggung jawab yang Allah percayakan kepada mereka.

Allah jelas-jelas memiliki rancangan istimewa bagi para pria pada umumnya, dan para ayah pada khususnya. Allah memilih anda untuk memimpin anak-anak anda, menjadikannya orang yang berbudi luhur. Kalau Allah sudah memilih kita, tentu Allah tak akan membiarkan kita seorang diri menghadapi kemungkinan gagal. Sebaliknya, Allah akan menolong anda bila anda mencari Dia untuk mendapatkan hikmat dan kearifan. Allah akan bekerja di dalam dan melalui diri anda bila anda mengizinkannya.

Secara khusus, seperti dinyatakan John Piper, kesehatan seksual anak-anak kita sangat ditentukan oleh perhatian, pengajaran, sentuhan, dan kasih kita. Baik anak laki-laki maupun anak perempuan, perkembangan seksualitas mereka secara sehat lebih ditentukan oleh adanya sosok pria (Allah) yang ilahi, kuat, dan penuh kasih daripada oleh sosok perempuan (ibu) dalam hidup mereka. ***

Friends or Fans?

January 17th, 2008 by ariesaptaji

Awal tahun lalu aku melihat-lihat profil seorang pengarang di Friendster (Fs). Aku berniat menambahkan dia sebagai temanku, tapi ternyata di profilnya tidak ada link ‘Add as a Friend’. Sebagai gantinya adalah ‘Become a Fan’. Ah, ini profil yang disediakan bagi orang-orang yang ngefans pada pengarang ini rupanya. Kutengok ke sebelah kanan paling atas. Di situ biasanya berderet dalam dua baris foto enam teman orang bersangkutan. Nah, di halaman profil pengarang ini ada tambahan banner kecil ‘Fan Profile’, dengan iming-iming ‘Get Yours!’

Kemelitanku terpantik. Kusimak kelebihan-kelebihan yang ditawarkan bila orang mengubah profilnya dari jaringan pertemanan normal menjadi ‘fan profile’. Wah, kayaknya bisa dipakai nih sekalian untuk promosi buku terbaruku. Tergiur, meskipun ada semacam peringatan bahwa kalau sudah berubah ke ‘fan profile’ tidak bisa dikembalikan jadi normal lagi (hihi, kayak operasi plastik saja!), kupilih mengubah profilku. Fs pun menayangkan info bahwa perubahan profilku tengah diproses.

Saat online berikutnya… tada! Profilku sudah malih, kini juga dihiasi banner ‘Fan Profile’. Daftar teman – sekitar 200-an – yang kupunyai pun lenyap, berganti menjadi daftar fan. Yup, mereka-mereka itu, dari teman yang memang kukenal dekat sampai teman yang cuma iseng kutambahkan dan kuterima selama berkelana di dunia maya, semua orang itu kini bukan lagi temanku, melainkan… fan-nya Arie Saptaji Wahyu Widodo!

Ooo… aku sempat tertegun sebentar. Lalu, cengar-cengir. Lalu, merasa jadi setengah dungu. Dunia lagi jungkir-balik, nih! Antara friend dan fan itu ‘kan amat sangat lebih jauh dari antara Anyer dan Jakarta! Ini akunya yang nggak paham, telmi, atau gara-gara cepat tergoda oleh promosi, sampai-sampai tidak menyimak bahwa daftar temanku akan berubah menjadi daftar fan itu sudah tercakup dalam paket perubahan profil?

Di antara daftar nama teman itu ada pengarang, editor, sutradara, penyanyi, penyiar televisi, pokoknya sosok-sosok yang layak masuk hitungan selebritas, begitulah. Dulunya kemungkinan besar jelas aku yang menjawil mereka, terdorong oleh snob, biar dikira punya pertemanan dengan orang terkenal. Dan, orang-orang itu dengan senang hati telah memenuhi permintaanku untuk dijadikan teman. Lalu kini, ujug-ujug, bumi gonjang-ganjing langit kelap-kelap… gubrakz, mereka berbalik menjadi fan inyong! Lah apa tidak diketawain monyet?

Tak kalah membuat bibir nyengir, teman-teman yang dulu menjawil atau kujawil karena ingin menjalin pertemanan, kini tanpa permisi kupaksa jadi fan pula. Semuanya! Aduh biyung… kok ngisin-isini temen to kowe ki, Ar! Mbok ngilo!

Dengan perubahan ini, pola hubungan jelas berubah. Sebagai friend, kita membangun hubungan egaliter, setara satu sama lain. Dalam hubungan fan, kita membangun hirarki: gue yang dikagumi – lu yang mengagumi. Dan Fs menunjukkan perubahan itu dengan sungguh canggih.

’Fan profile’ memang amat agresif dalam mempromosikan profilku. Gambar profilku muncul di halaman profil setiap orang yang (terpaksa) ngefan padaku. Wajib nampang! Kayak ’featured friend’ saja, namun dengan posisi tersendiri. Kecuali kalau orang itu mutung dan memutuskan menghapus kaitannya denganku seperti Clementine menghapuskan kenangan akan Joel di Lacuna! (Kukira, ada – entah berapa orang – yang melakukannya. Buktinya? Di profilnya tidak muncul bahwa he or se is a fan of me! Tuh, narsis berat, ‘kan?!)

Keuntungannya, ketertampakan profilku di Fs meningkat pesat. Jumlah pemirsa profilku meroket. Dan sebagian, sungguh bikin ge-er, rela ngefan pada daku…

Selanjutnya, ini yang kurasa berat. Dalam hubungan sebagai teman, karena setara tadi, kita bisa saling menengok profil satu sama lain, dan leluasa untuk saling mengirim kabar. Tidak demikian dengan per-fan-an, khususnya pada mereka yang ngefan padaku (cie!) setelah profilku berubah. Kalau mereka membatasi profil dan atau pengiriman pesan pada mereka hanya bisa diakses teman-teman mereka, daku (yang konon digemari oleh mereka itu) termasuk yang tidak dapat mengakses profil mereka – karena fan memang beda dari friend! Berabe, kan? Padahal, di antara fan baruku itu, ada penyanyi kondang-makondang yang pengin kukenal lebih dekat, tapi dia menutup profil-nya bagi non-friend. Mau-maunya dia memenuhi permintaanku untuk jadi fanku (ya, aku yang menjawilnya)! Lagi-lagi, inilah duniaku yang lagi jungkir balik itu…

Dulu, enak banget kalau mau menambah teman, tinggal dengan sopan bilang, “Mau nggak jadi temanku?” Bisa menjemput bola, dan menunggu tanggapan. Sekarang, kok ya nggak lucu kalau meminta orang, “Mau nggak ngefan padaku?” Ah, apa bedanya dengan kontestan idol-idolan yang minta dukungan sms itu?

Hm, apa aku mesti bikin dua profil? Satu untuk pertemanan satu untuk per-fan-an? Kalau memang mau cari fan, mestinya ya bikin dong ’fan profile’ dari nol, bukan memaksa friends menjadi fans!

Oh, repotnya… ***

Yang mau ngefan pada Arie Saptaji, monggo join di http://profiles.friendster.com/ariesaptaji

Kemah atau Mezbah?

January 13th, 2008 by ariesaptaji

Pada zaman Enos orang mulai memanggil nama Tuhan. Henokh “hidup bergaul dengan Allah.” Nuh mendirikan mezbah bagi Tuhan sekeluar dari bahtera setelah air bah surut. Abram mendirikan mezbah sejak awal Tuhan memanggilnya keluar dari Ur-Kasdim sampai, setelah namanya diubah menjadi Abraham, ketika Tuhan memintanya mengorbankan Ishak, anaknya yang tunggal. Kebiasaan mendirikan mezbah itu terus dilanjutkan baik oleh anaknya, Ishak, maupun cucunya, Yakub.

Mezbah menjadi monumen yang signifikan di tengah ziarah mereka. Pada masa itu hanya orang-orang tertentu yang mendirikan mezbah bagi Tuhan. Ada pun kebanyakan orang lain, dimulai dari Yabal, terbiasa mendirikan kemah.

Kemah tak lain pangkalan dalam kehidupan domestik dan bisnis. Dengan mendirikan kemah, Yabal pun mulai memelihara ternak. Nuh mabuk dan telanjang di kemahnya setelah menuai anggur. Lot mendirikan kemah di dekat Sodom. Allah mengunjungi Abraham di kemahnya. Ishak menikahi Ribka di kemah ibunya, Sara. Kemah, dalam istilah saat ini, mewakili kesibukan sekuler kita: keluarga, pendidikan anak, karier, bisnis.

Namun, tidak semua orang berpikir untuk mendirikan mezbah. Hanya para leluhur Israel yang setia melakukannya secara turun-temurun. Di situlah mereka mengambil jarak dan jeda dari kesibukan keseharian untuk memanggil nama Tuhan, membakar korban, mempersembahkan ucapan syukur, membuhulkan perjanjian dengan-Nya. Mezbah menandakan denyut kehidupan rohani, hubungan dan persekutuan dengan Tuhan.

Kemah dan mezbah semestinya bukan dua aspek kehidupan yang terpisah. Allah pun tidak hanya hadir saat kita membangun mezbah; adakalanya Dia menyambangi kita di dalam kemah, seperti yang dialami oleh Abraham. Namun, tentu saja, kita perlu menyadari perbedaan keduanya yang mendasar. Kemah mengacau pada tempat kediaman di bumi, kehidupan fana yang akan berakhir saat kita meninggal. Mezbah, sebaliknya, mewakili aspek kehidupan kita yang tak akan terputus oleh maut, malah dikukuhkan di dalam kekekalan. Mezbah, dengan demikian, lebih utama daripada kemah: hubungan dengan Allah adalah sumber bagi segala kesibukan sekuler kita.

Dengan berkeluarga, kita mendirikan kemah. Pertanyaannya, apakah kita juga menegakkan mezbah untuk menopangnya? “Apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.” Ucapan Yesus yang tak ayal dikutip dalam liturgi pernikahan kita itu menegaskan pula pentingnya membangun mezbah dalam kehidupan keluarga. Keluarga terbentuk melalui segitiga perjanjian. Ada perjanjian antara seorang pria dan seorang perempuan, namun selanjutnya masing-masing bersama-sama mengikat perjanjian pula dengan Tuhan. Pernikahan, dengan demikian, bukan sekadar komitmen untuk membangun kemah, namun terutama komitmen untuk mendirikan mezbah bagi Tuhan bersama-sama.

Kalau kita hanya melihat pada ikatan antara suami dan istri, kedua orang ini bisa mengalami kekecewaan, kehilangan kemesraan, atau merasa tidak cocok lagi setelah sekian lama berumah tangga. Pernikahan menjadi institusi yang rentan dan rapuh. Hadirnya unsur Tuhan mengubah segalanya.

Ikatan dengan Tuhan merupakan simpul terpenting dalam kehidupan keluarga. Inilah aspek yang tidak boleh diceraikan oleh manusia. Hubungan suami-istri bisa saja mengalami ketegangan atau konflik, namun sepanjang kita bersedia mendirikan mezbah dan menghadirkan Tuhan, Dia pasti menyediakan jalan penyelesaian dan pemulihan. Melalui mezbah keluarga, membina hubungan dan persekutuan dengan Tuhan, keluarga menemukan dasar dan sumber keharmonisan sejati. ***

Membanggakan, Menggentarkan, Memprihatinkan, dan Tidak Terduga

January 13th, 2008 by ariesaptaji

Saya menulis artikel, dimuat di sebuah majalah rohani populer, yang beredar ke berbagai gereja lintas denominasi. Artikel itu akan dibaca oleh orang-orang yang tertarik dengan topik bersangkutan. Ada yang menganggap artikel itu bagus, dan menyetujui pandangan saya. Ada pula yang mengerutkan kening, menganggap tulisan itu menyesatkan umat. Paling tidak begitulah yang saya bayangkan.

Selain menulis, di gereja saya kadang-kadang juga diberi kepercayaan untuk berkhotbah atau memimpin pendalaman Alkitab. Ya, kebanyakan di gereja saya sendiri; sejauh ini belum banyak gereja atau persekutuan yang mengundang saya menjadi pembicara.

Tulisan saya, dengan demikian, menerobos lebih jauh daripada pelayanan lisan saya. Kalau diundang menjadi pembicara, pengundang tentu sedikit banyak mempertimbangkan latar teologis saya. Salah satu pihak, misalnya, sempat memberi catatan, agar saya tidak menyinggung soal bahasa lidah. Artinya, kalau saya nekad melanggar aturan, berarti lampu merah menyala: saya tak akan diundang lagi ke lingkungan mereka.

Tulisan saya relatif bebas dari kekangan semacam itu. Artikel saya bisa sampai ke tangan jemaat yang kemungkinan besar tidak akan mengundang saya menjadi pembicara. Saya menulis artikel atau buku tentang Harry Potter, misalnya, dan menyanjung simbol dan nilai kristiani yang terkandung di dalamnya. Gereja yang pandangannya berlawanan dengan saya tentu tak berminat untuk mengundang saya sebagai pembicara. Namun, bisa saja anggota jemaat tersebut tetap membaca artikel atau buku saya, bukan? Kalau ada larangan resmi dari majelisnya, jangan-jangan artikel atau buku saya itu malah akan dicari-cari dan jadi laris!

Mengingat daya penetrasinya yang hebat, pelayanan literatur jadi membanggakan dan sekaligus menggentarkan. Membanggakan, karena kita bisa melayani umat Tuhan melintasi ruang dan waktu. Menggentarkan, karena hal itu mengandung tanggung jawab yang besar pula. Seperti diingatkan oleh Yakobus, orang yang menjadi pengajar – dan penulis dalam pengertian tertentu adalah pengajar – akan dituntut pertanggungjawaban dengan standar yang lebih berat. Dengan kata lain, modal utama seorang penulis sebenarnya bukanlah kemahiran mengolah kata, melainkan integritas pribadi – kesesuaian antara tulisan dan keseluruhan gaya hidupnya. Sungguh berat, bukan?

Namun, tampaknya bukan itu penyebab tidak banyaknya orang yang berminat terjun dalam pelayanan literatur. Saya terlibat dalam pelayanan literatur, dimulai dengan mengurus warta jemaat, sudah hampir dua puluh tahun. Sepanjang itu, rekan pelayanan saya terus berganti dari periode ke periode. Nah, jumlah mereka yang masih bertahan di bidang kepenulisan, dengan tulisannya terpublikasi di media massa atau terbit menjadi buku, bisa dihitung dengan jari sebelah tangan. Sebagian besar memilih menekuni pelayanan lain atau bekerja di bidang yang tidak banyak bersinggungan dengan penulisan kreatif. Pelayanan literatur, bagi mereka, tinggal jadi nostalgia masa lalu.

Pelayanan literatur, bagaimanapun, memang bukan bidang yang keren dan gemerlap. Meskipun relatif luwes menelusup ke segala penjuru, pelayanan ini kebanyakan bergerak di balik layar, fungsinya lebih mirip sebagai pelengkap. Kalau orang tertarik dengan khotbah seorang pengkhotbah, mungkin ia berharap ada buku yang bisa dibaca lebih lanjut. Atau, kalau majelis gereja mendorong jemaat membeli buku tertentu sebagai bahan pendalaman Alkitab, barulah buku itu akan dicari-cari.

Belum ada riset yang bisa dikutip statistiknya, namun kelihatannya jemaat, dan kebanyakan ibadah gereja, lebih berfokus pada khotbah. Buku baru ditengok bila perlu, dan bila mau. Secara kasar, perbandingan ini bisa dilihat dari perbedaan honor berkhotbah dan menulis. Ketika saya menulis artikel, dengan waktu riset dan penulisan sekitar dua hari, honorarium yang saya terima paling banyak hanya sekian puluh ribu. Namun, ketika artikel yang sama saya jadikan bahan khotbah selama setengah jam di sebuah persekutuan di ibukota, “dana kasih” yang saya terima jumlahnya hampir sepuluh kali lipat honor satu artikel. Hm, coba bayangkan kalau saya diundang sepuluh kali ke persekutuan semacam itu – wah, bisa-bisa jumlahnya mengungguli royalti yang saya terima dalam satu semester!

Selain itu, meskipun bisa melintasi batas-batas denominasi, dampak tulisan cenderung tidak langsung. Orang yang berkhotbah lalu menyampaikan tantangan mimbar akan segera menyaksikan berapa banyak di antara hadirin yang memberikan respon. Jemaat yang dikunjungi atau didoakan juga bisa langsung berterima kasih atas pelayanan tersebut. Sebaliknya, orang yang tersentuh karena sebuah artikel belum tentu memberikan umpan balik kepada penulisnya. Bisa jadi sampai meninggal pun seorang penulis belum tahu sejauh mana dampak karyanya.

Saya jadi ingat akan nasib George MacDonald. Tahun 1858, pendeta dan penulis dari Skotlandia ini, setelah lumayan sukses dengan beberapa buku, menerbitkan dongeng Phantastes. Ternyata buku itu tidak laku karena pembaca menganggap ceritanya ganjil. Penerbit lalu enggan menerbitkan karya-karyanya yang lain.

Sekitar 60 tahun kemudian seorang pemuda menemukan Phantastes di kios buku loak di sebuah stasiun. Saat membacanya di atas kereta api, pemuda itu begitu terpikat oleh dongeng fantasi tersebut: daya khayalnya serasa dibaptis. Pemuda itu bernama C.S. Lewis, saat itu seorang ateis.

Ketika kemudian menjadi Kristen, Lewis mengakui, Phantastes telah menjadi semacam titik balik baginya. Di dalam tulisan MacDonald, ia menemukan suatu nuansa kekudusan yang belum pernah dijumpainya sebelumnya. Karya-karyanya yang memancarkan cheerful goodness ‘kebaikan yang menyenangkan hati’, bukan saja memukau imajinasi, namun juga meyakinkannya bahwa kebenaran itu bukan sesuatu yang menjemukan. Lewis kemudian menghasilkan karya klasik, antara lain Mere Christianity dan The Chronicles of Narnia. Siapa sangka sebuah “buku gagal” bisa menjadi benih pertobatan bagi pembacanya?

Begitulah sebagian dinamika pelayanan literatur: membanggakan secara daya penetrasi, menggentarkan secara pertanggungjawaban, cukup memprihatinkan secara ekonomi, dengan dampak yang kadang-kadang sungguh tak terduga. Masih berminat menekuni bidang pelayanan ini? ***

Rapuh

January 13th, 2008 by ariesaptaji

Pagi: Besuk kawan, seorang guru SLTA, yang diopname. Demam berdarah. Ia, jadinya, menikmati masa liburnya dengan betul-betul “berlibur”.

Siang: Membeli obat lanjutan untuk menuntaskan penyembuhan alergi putri kami. Kuharap ini resep terakhir setelah tiga — atau empat — tahun ia, sekecil itu, mesti menjalani pengobatan beruntun.

Malam: Melayat. Ayah salah seorang anggota gereja kami meninggal dunia. Serangan jantung. Setelah serangkaian pemeriksaan sebelumnya dokter menyatakan ia baik-baik saja.

Pulangnya: Singgah di rumah kawan lain yang kabarnya flu berat. Ternyata ia sudah merasa enakan.

Sakit-penyakit. Persoalan. Maut. Hidup ini rapuh, ya?

Di ujung malam seorang kawan mengirimiku pesan singkat. Mengutip Mimi Lan Mintuna-nya Remy Sylado, ia tentu tak berniat memukul gong, toh ia seakan menggarisbawahi: “Mutu kebaikan justru teruji melalui kenyataan akan adanya kejahatan yang tidak pernah punah.”

Kerapuhan barangkali mirip dengan kejahatan. Ia senantiasa menguntit kita, menyelinap tak terduga bahkan ketika hari terasa cerah. Ia juga hadir untuk menguji mutu kehidupan kita. Ia terus-menerus menggerus kita, agar tertinggal hanya yang tidak tergerus. Kita bisa kian getir dan buram, acuh tak acuh sampai dungu dan majal, atau malih jadi manis dan bening.

Dengan kebeningan itu, semoga, kita dapat menangkap sekilas pantulan wajah Sang Pembentuk Kehidupan, Dia yang bersemayam dalam terang yang tak terhampiri, yang senantiasa bekerja di balik segala kerapuhan. ***

Jeda

January 13th, 2008 by ariesaptaji

"Tidak ada tragedi, yang ada hanyalah yang tak terhindarkan. Segala sesuatu ada alasannya: engkau tinggal memilah-milah mana yang sementara dan mana yang abadi.”

            “Manakah yang sementara?”

            “Yang tak terhindarkan.”

            “Dan manakah yang abadi?”

            “Pelajaran-pelajaran yang dipetik dari yang tak terhindarkan itu.”

—Paulo Coelho, Gunung Kelima

1969. 1988. 2000. 2001. 2002. 2006. 2007. 2008. 2009. 2020…

            Kenapa angka-angka itu? Benarkah ada yang lama dan yang baru pada tahun-tahun kita? Waktu kita jalani sebagai hari ini demi hari ini. Dengan bayangan masa lalu yang kian lama kian memanjang. Adapun harapan masa depan berpijar menyemangati di dada. Terwujud oleh kini demi kini.

            Kenapa angka-angka itu? Hanya satu lagi kegenitan manusiawi? Manusiawi, tampaknya iya. Genit atau tidak, biarlah penyair saja yang memberinya sebutan.

            Bayangkan coba sebuah dunia tanpa penanda waktu. Murid-murid sekolah merengut karena tak tahu kapan berhenti duduk bersedekap di bangku kelas dan mulai bisa bertamasya ke luar kota. Sebelumnya, kapan pula seorang anak memasuki usia wajib belajar? Majikan dan karyawan bertengkar soal hari kerja dan hari libur. Ibu hamil bingung kandungannya tiga minggu atau sembilan bulan kurang sehari. Sang presiden mengeluh karena tak sempat rehat dari memikirkan nasib bangsa dan rakyat. Dan kita tak pernah berpesta ulang tahun.

            Ya, kenapa angka-angka itu?

            Barangkali ini: karena hidup perlu dibagi.

            Pada mulanya pembagian hari sesederhana peralihan dari gelap ke terang. Ketika hidup kian rumit, kita mengenal saat tidur dan saat terjaga; musim kawin dan musim bertelur; waktu tanam dan waktu panen; masa perang dan masa damai; zaman batu dan zaman besi; era industri dan era informasi. Lalu, kita membubuhkan angka merah disela deretan angka-angka biru pada kalender.

            Hidup, seperti diungkap Coelho, terdiri atas yang sementara dan yang abadi. Yang sementara seperti serpihan-serpihan debu yang terusir oleh angin. Yang abadi? Kita terus mencoba memaknainya di dalam hati.

            Kita, karenanya, perlu jeda. Perlu ruang untuk tersenyum dan mensyukuri keberhasilan yang tercapai. Perlu berhenti untuk meredakan gulana, dan mengingat bahwa tak banyak kegagalan yang final: masih ada kesempatan untuk membereskan yang gawal dan memulai lagi dari titik yang kita bayangkan sebagai tahap yang baru dan awal. Perlu relung untuk mencerna tawa. Perlu naungan untuk memamah musibah.

            Kita perlu jeda. Untuk memilah-milah yang sementara. Untuk menatah yang abadi. Untuk memberi nama pada detik-detik yang bergegas.

            Tanpa jeda, tanpa kesempatan memberi nama, mungkinkah kita hanya bisa gila? ***

Warrior: Sepatu untuk Sahabat

January 4th, 2008 by ariesaptaji

Warrior_fsblog

Harry Potter Effect di Sasando

December 16th, 2007 by ariesaptaji

Yuk ngobrolin bareng soal Harry Potter!

Saya diundang jadi narasumber talkshow “Harry Potter Effect” (PBMR ANDI, 2007) pada Jumat, 21 Desember 2007, pukul 20.00 – 21.00, di Sasando FM.

Simak dan nimbrung ya!

Berkah Natal

December 16th, 2007 by ariesaptaji

berkah Natal tahun ini serasa bertubi-tubi!!

— 11 Desember, pas ulang tahun Rina, naskah buku 365 Tebakan Tenanan & Plesetan disetujui penerbitannya oleh PBMR ANDI.

— Warrior: Sepatu untuk Sahabat, my first teenlit, terbit menjelang Natal.

— 365 Tebakan Jadul & Gaul, yang memantik ’sekuel’-nya, masuk cetakan kedua. ANDI rupanya punya kebiasaan baru: langsung cetak ulang bila stok buku di gudang sudah habis, penulis diberi tahu belakangan. Pas ke Mirota untuk beli amplop, aku menyisir rak pajangan buku. Buku itu terpajang di sana. Saat kutengok sampul belakangnya, di bagian bawah nomor ISBN, tertera bahwa itu buku cetakan ke-2. Wah, kejutan menyenangnya!

Resensi ‘Secangkir Teh Hangat’ di WikiMu

November 29th, 2007 by ariesaptaji

Sctdibr_1 ‘Secangkir Teh Hangat di Beranda Rumah’ diapresiasi oleh Panjikristo di WikiMU.

Matur nuwun, Mas Panji!