Archive for July, 2008

Curdie dan Ibunya

Sunday, July 13th, 2008

CurdieThe Princess and the Goblin, dongeng anak-anak terkenal karangan George MacDonald. Pendeta, novelis dan penyair Skotlandia ini bisa disebut "bapa rohani"-nya C.S. Lewis. Karya-karyanya yang memancarkan cheerful goodness ‘kebaikan yang menyenangkan hati’, khususnya Phantastes, telah memukau imajinasi Lewis dan meyakinkannya, bahwa kebenaran itu bukan sesuatu yang menjemukan.

Dalam salah satu bagian dongeng ini, dikisahkan hubungan Curdie, anak seorang penambang, dan Ibunya. Nyonya Peterson adalah lbu yang sangat baik dan manis. Ibu-­ibu yang lain memang baik dan manis, dengan segala kelebihan dan kekurangannya, namun Nyonya Peterson benar-benar baik dan manis, serba lebih dan tanpa kekurangan. Rumah sederhana di lereng bukit telah dijadikannya surga kecil bagi suami dan anaknya – tempat peristirahatan yang nyaman bagi mereka sepulang dari tambang yang redup dan berdebu. Tangannya memberikan kehangatan, namun kasar, tebal dan besar karena tekun bekerja bagi mereka; karena itu, di mata para malaikat, tangannya tampak sangat indah.

Suatu ketika, Curdie kerja lembur di tambang selama sekian malarn. Itu dilakukannya antara lain agar dapat membelikan rok merah baru bagi ibunya sebelum musim dingin tiba. Namun, sekalipun Curdie bekerja keras, kenyamanan yang dihasilkan oleh kerja keras Ibunya jauh lebih dirindukan Curdie bila dibandingkan dengan kerinduan ibunya akan rok baru, sekalipun pada musim dingin. Ini bukan berarti Curdie dan Ibunya menghitung-hitung seberapa besar yang telah mereka lakukan bagi yang lain: perhitungan itu justru akan merusakkan segala-galanya.

Dan ini bukan cerita tentang kasih Ibu sepanjang jalan, kasih anak sepenggalah. Lebih dalam dari itu. Penggalan dongeng ini menggambarkan dengan bagus kesimpulan Yohanes tentang mengasihi Allah, "Sebab inilah kasih kepada Allah, yaitu, bahwa kita menuruti perintah-perintah-Nya. Perintah-perintah-Nya itu tidak berat" (I Yohanes 5:3).

Perintah-perintah-Nya tidak berat kalau kita mengasihi Dia. Kalau kita tidak berhitung-hitung dalam memberi diri dan melayani Dia – kalaupun benar-benar dihitung, akan jomplang-lah timbangan kita: karena Tuhan serba baik dan tanpa kekurangan. Karena itulah Paulus menasihati kita "demi kemurahan Allah" (Roma 12:1), agar mempersembahkan tubuh kita, seluruh hidup kita, untuk memuliakan Tuhan. Dari sini kita bisa melayani Dia dengan sukacita dan dengan gembira hati.

Dan dalam kisah Curdie tadi, bukan lagi perintah Ibunya saja yang dilakukannya. Ia hendak memberikan pula apa yang menjadi kerinduan hati ibunya. ***

Manusia Wakil Allah

Sunday, July 13th, 2008

GodmanManusia diciptakan dengan tujuan untuk mewakili Allah di bumi ini. Ia membawa rupa dan gambar Allah. Ciptaan lainnya dapat melihat Allah melalui manusia karena manusia begitu menyerupai atau mirip dengan Tuhan yang menciptakannya.

Sebagai mahkota ciptaan Allah, manusia memikul tanggung jawab khusus dalam hidupnya. Mazmur 8 menggambarkannya dengan indah.

Hampir sama seperti Allah. Kondisi ilahi manusia menjadikannya tidak sama dengan ciptaan lainnya. Ketidaksamaan ini adalah suatu kehormatan dan kemuliaan, tetapi juga sekaligus tanggung jawab. Ia dituntut untuk bertindak sesuai dengan kehormatan yang ia miliki. Ada berbagai interpretasi teologis yang berbeda-beda mengenai keberadaan manusia sebagai gambar dan rupa Allah. Gambar (image) mengacu pada penampilan manusia yang secara indah menggambarkan Allah; sedangkan rupa (likeness) mengacu pada moralitas, daya rasio dan intelektual manusia yang seperti Allah. Tetapi pada dasarnya, frase "hampir sama seperti Allah" (terjemahan Inggris: "sedikit lebih rendah dari Allah") atau "dalam gambar dan rupa Allah" lebih memperlihatkan ketergantungan manusia kepada Tuhan. Seperti tanaman memerlukan sinar matahari untuk tumbuh, demikian juga kita memerlukan Tuhan sendiri untuk menghidupkan rupa dan gambar-Nya di dalam diri kita. Manusia diberikan kehormatan untuk membawa karakter, kemuliaan dan kuasa Allah di dunia ini di dalam Tuhan, bukan di dalam dirinya sendiri. Oleh karena itu “hampir sama seperti Allah” atau “diciptakan dalam rupa dan gambar Allah” juga mengacu pada keterbatasan manusia bila berjalan tanpa Allah.

Dimahkotai dengan kemuliaan dan hormat. Karena manusia tidak diciptakan sama dengan yang lainnya, iapun dituntut untuk bertindak sesuai dengan penciptaannya. Manusia tidak dapat bertindak seperti alam seisinya. Ia tidak dapat mencontoh dan meniru binatang, alam dan kosmik. Ia tidak dapat hidup kawin-mengawinkan seperti hewan, atau menerapkan sistem yang kuat yang menang (survival of the fittest) dalam perekonomiannya; atau percaya pada cycle of life yang melihat hidupnya integral berputar dalam alam; atau menganggap manusia adalah spesies yang sama dengan hewan mamalia lainnya. Tidak! Manusia lebih tinggi daripada ciptaan lainnya, sebab ia memiliki mahkota kemuliaan dan hormat.

Berkuasa atas segala ciptaan. Manusia ditetapkan untuk melatih wewenang (otoritas) dan kuasa yang ia miliki. Ia harus menjalankan pemerintahan Allah dan menegakkan kebenarannya oleh iman dan Roh Kudus, untuk meneguhkan Kerajaan Allah.

Segala-galanya telah diletakkan di bawah kakinya. Manusia ditentukan untuk memiliki kemenangan. Kemenangan adalah sesuatu yang diberikan Tuhan, yang perlu diterima oleh manusia. Inilah pertempuran dan pertandingan yang sesungguhnya telah ditetapkan Tuhan bagi setiap orang. Setiap orang harus mengambil jalannya dan berjalan di dalamnya. Seperti Yosua dan Kaleb yang berhasil memiliki dan mewarisi janji Allah. Mereka menang dan mereka berhasil memenuhi tujuan hidupnya. Setiap orang bertanggung jawab atas kehidupannya. Apakah ia telah menaklukkan bumi ini dan meletakkannya di bawah kakinya seperti yang telah Tuhan tentukan? Manusia diciptakan bukan untuk pasif dan tanpa pilihan; melainkan aktif dan menentukan pilihannya. ***

Lebih Lambat, Lebih Baik

Sunday, July 13th, 2008

SekolahMakin cepat, makin baik. Lebih dini masuk sekolah, lebih pintar anak kita. Orang tua pun berlomba-lomba menyekolahkan anaknya seawal mungkin. Kalau umur lima atau enam tahun anak sudah masuk SD, sudah lancar membaca, berhitung, menulis, dan berbahasa Inggris, Mandarin atau bahasa asing lain—betapa mekar bangga dada orang tua!

Pandangan semacam ini terfokus pada salah satu aspek perkembangan anak saja. Kesiapan anak masuk sekolah ditakar hanya menurut kemampuan kognitifnya. Kecerdasan intelektualnya dijadikan tolok ukur utama kesuksesan pendidikannya. Perspektif ini mengandung ketimpangan.

Secara umum perkembangan manusia normal berlangsung secara stabil dan normal pula. Setiap anak akan melewati fase-fase pertumbuhan sesuai dengan tahapan usianya. Menurut penelitian pendidik Jean Piaget, anak melewati empat fase menuju kedewasaan. Pada fase awal (0-2 th), anak mempelajari cara berkomunikasi dan menyerap dasar-dasar kepercayaan melalui pengetahuan yang diterimanya. Pada fase prastudi (2-7 th), anak mulai memperluas wawasan dan pergaulan, mulai mengembangkan berbagai perlengkapan dasar yang ia perlukan dalam membangun kapasitas hidup. Pada fase belajar (7-11 th), anak bersemangat mencari tahu, mengembangkan segala aspek dirinya, baik rasional, emosional, maupun keterampilan. Mulai usia 11 tahun, anak memasuki fase dewasa, saat ia masuk ke tengah masyarakat dan menerapkan hasil belajarnya dalam kehidupan.

Pendidikan anak perlu memperhatikan fase-fase perkembangan tersebut. Kita tidak dapat mengarbit anak. Memang perkembangan kognitif anak biasanya jauh lebih cepat daripada kestabilan emosinya. Namun, ini bukan alasan untuk mempercepat memasukkan anak ke sekolah. Mengapa?

Pendidikan dimaksudkan untuk mempersiapkan seseorang menjadi betul-betul dewasa, matang di dalam segala aspek pembelajaran dan kehidupan. Anak bertumbuh menjadi manusia seutuhnya, siap memenuhi panggilan Tuhan dalam hidupnya.

Masalahnya, orang tua—didukung pula oleh kultur sekolah di negeri ini—lebih mengutamakan aspek kognitif, dengan mengabaikan atau menomorduakan aspek perkembangan lain dalam diri anak. Pendidikan atau belajar di sekolah berkutat pada mengetahui informasi, menghafalkan, mengerjakan ujian agar lulus UAN, namun sesudahnya gagap menerapkan pengetahuan tersebut dalam kehidupan. Kita sempat dikejutkan dengan kasus seorang juara Olimpiade Fisika Nasional yang gagal lulus SMU. Atau, kita menemukan orang yang cerdas, namun gagap dalam membina hubungan dengan orang lain. Ini baru contoh kecil kegagalan akibat pola pendidikan yang tidak holistik.

Pendidikan adalah pendalaman pengertian yang mengubahkan kehidupan. Hal ini melibatkan seluruh aspek pribadi anak, bukan hanya sisi kognitifnya, namun juga perkembangan rohani dan kesiapan mentalnya. Pada usia di bawah tujuh tahun, perkembangan kerohanian dan mentalitas anak belum siap. Ia, misalnya, masih perlu lebih banyak bermain, bukannya duduk berjam-jam menyimak pelajaran. Walaupun secara kognitif rasional anak itu sudah mampu, ia tetap membutuhkan waktu untuk mengembangkan kestabilan emosinya. Bila dipercepat, pertumbuhan emosionalnya menjadi kurang wajar. Pendidikan yang sehat, sebaliknya, akan memampukan anak menghadapi masalah yang berkaitan dengan ilmu yang dipelajari.

Dalam paradigma ini, anak terlambat masuk sekolah satu atau bahkan dua tahun lebih baik daripada lebih cepat satu atau dua tahun. Mereka itu akan memiliki kematangan pribadi yang kuat. Kematangan yang dipersiapkan (bukan karena anak malas masuk sekolah atau tidak dididik dengan baik) akan menghasilkan kesiapan secara menyeluruh bagi anak untuk berkembang menjadi manusia dewasa. Orang-orang yang berkembang matang seperti ini biasanya akan lebih bijaksana di dalam setiap langkah hidupnya. ***

Sumber: Sutjipto Subeno, ”Tujuh Tahun (Baru) Masuk Sekolah?”, Logos, Edisi 3, 2007.

Finalis CIBFest Zone 2008

Sunday, July 13th, 2008

Cibfesta Dulu ikut karena ingin meluaskan pertemanan, ternyata blog ini terpilih sebagai salah satu finalis CIBFest Zone 2008 kategori personal. Syukurlah! Semoga tulisan di blog ini kian banyak memberkati orang.