Menemukan Tujuan Hidup
”Mengapa saya dilahirkan?”
Kalau pertanyaan itu ungkapan keputusasaan seorang TKI yang dianiaya majikannya di negeri jiran, lantas malah dijebloskan ke dalam penjara, kita akan ikut geram. Kalau pertanyaan itu desah kepedihan seorang bapak tunawisma yang tidak memiliki biaya untuk menguburkan anaknya sehingga terpaksa membopong jenazahnya sepanjang jalan, kita akan ikut pilu. Dalam forum yang serius, pertanyaan semacam itu biasanya diutarakan di tengah wacana filsafat atau ceramah keagamaan.
Namun, kali ini pertanyaan tersebut terlontar dari mulut seorang tokoh yang telah disemati salah satu penghargaan paling bergengsi di muka bumi ini. Suatu hari sebuah artikel memerikan kehidupannya yang sangat sukses itu secara mendetail. Pembaca tentu akan menyimpulkan bahwa sang tokoh telah menjalani sebuah kehidupan yang utuh, memuaskan, penuh faedah. Namun, di ujung artikel itu, orang tersebut mengucapkan pernyataan yang sungguh mengusik. Ia berkata, ”Namun, anda tahu, ada pertanyaan-pertanyaan yang masih mengganggu saya saat ini seperti halnya lima puluh tahun yang lalu.” Dan, pertanyaan utama yang mengganggu tokoh kita itu tak lain adalah pertanyaan eksistensial tadi, ”Mengapa saya dilahirkan?”
Tokoh kita itu bernama Isaac Singer. Ia pemenang Nobel Sastra 1978.
Pencapaian seluhur itu ternyata belum juga menjawab kegelisahannya perihal makna hidup. Di mana lagi kita bisa menemukan jawaban yang memuaskan? Kekuasaan, kekayaan melimpah, gebyar popularitas, kenikmatan indrawi – tidak sedikit orang yang telah membuktikan bahwa semuanya itu bukan sumber kebahagiaan final, bukan penyingkap makna kehidupan. Psikolog terkenal Karl Jung mengakui, ”Ketiadaan tujuan hidup adalah penyakit saraf yang menimpa generasi ini.”
Dalam Katekismus Singkat yang dipakai di gereja-gereja Inggris ada pertanyaan: "Apakah tujuan utama manusia?" Jawabannya: "Tujuan utama manusia adalah memuliakan Allah dan menikmati Dia untuk selama-lamanya." Jawaban ini selaras dengan seruan kedua puluh empat tua-tua yang tersungkur dan menyembah Dia yang hidup sampai selama-lamanya, "Ya Tuhan dan Allah kami, Engkau layak menerima puji-pujian dan hormat dan kuasa; sebab Engkau telah menciptakan segala sesuatu; dan oleh karena kehendak-Mu semuanya itu ada dan diciptakan.” Dalam terjemahan versi King James diungkapkan: ”untuk kesenangan-Mu semuanya itu ada dan diciptakan.” Ya, Allah menciptakan kita untuk kesenangan-Nya; Ia menjadikan kita untuk diri-Nya sendiri!
Kesia-siaan hidup ditakar dari kegagalan kita menggenapi tujuan hidup yang telah digariskan sebelumnya oleh Pencipta kita. Kehidupan yang egois, berpusat pada pengejaran ambisi dan pemuasan pribadi, menyeret kita ke dalam rawa-rawa kesia-siaan.
Kita akan mulai menemukan tujuan hidup saat kita mengalihkan pandangan dari diri sendiri. Kita tidak melihat diri kita sebagai pusat. Sebaliknya, kita menyadari bahwa keberadaan kita di dunia ini adalah untuk memuliakan Allah. Ketika kita menyadari bahwa kita hidup untuk mencari dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, bukannya membangun Kerajaan Aku, di situlah kita akan menemukan sumber kepuasan sejati. ***
May 27th, 2008 at 7:25 am
ketika kita hanya memuaskan diri kita, tujuan hidup tak mengenai sasaran.
ketika kita bermanfaat untuk orang lain, saat itulah kita berarti untuk Tuhan. bukankah Tuhan berfirman , ” apa yang kau lakukan untuk saudaraku yang paling hina ini, maka kau melakukannya untuk Aku.”
untuk itulah kita diciptakan yaitu untuk menyenangkan pencipta kita