Archive for April, 2008

Menemukan Tujuan Hidup

Wednesday, April 2nd, 2008

”Mengapa saya dilahirkan?”

            Kalau pertanyaan itu ungkapan keputusasaan seorang TKI yang dianiaya majikannya di negeri jiran, lantas malah dijebloskan ke dalam penjara, kita akan ikut geram. Kalau pertanyaan itu desah kepedihan seorang bapak tunawisma yang tidak memiliki biaya untuk menguburkan anaknya sehingga terpaksa membopong jenazahnya sepanjang jalan, kita akan ikut pilu. Dalam forum yang serius, pertanyaan semacam itu biasanya diutarakan di tengah wacana filsafat atau ceramah keagamaan.

            Namun, kali ini pertanyaan tersebut terlontar dari mulut seorang tokoh yang telah disemati salah satu penghargaan paling bergengsi di muka bumi ini. Suatu hari sebuah artikel memerikan kehidupannya yang sangat sukses itu secara mendetail. Pembaca tentu akan menyimpulkan bahwa sang tokoh telah menjalani sebuah kehidupan yang utuh, memuaskan, penuh faedah. Namun, di ujung artikel itu, orang tersebut mengucapkan pernyataan yang sungguh mengusik. Ia berkata, ”Namun, anda tahu, ada pertanyaan-pertanyaan yang masih mengganggu saya saat ini seperti halnya lima puluh tahun yang lalu.” Dan, pertanyaan utama yang mengganggu tokoh kita itu tak lain adalah pertanyaan eksistensial tadi, ”Mengapa saya dilahirkan?”

Tokoh kita itu bernama Isaac Singer. Ia pemenang Nobel Sastra 1978.

Pencapaian seluhur itu ternyata belum juga menjawab kegelisahannya perihal makna hidup. Di mana lagi kita bisa menemukan jawaban yang memuaskan? Kekuasaan, kekayaan melimpah, gebyar popularitas, kenikmatan indrawi – tidak sedikit orang yang telah membuktikan bahwa semuanya itu bukan sumber kebahagiaan final, bukan penyingkap makna kehidupan. Psikolog terkenal Karl Jung mengakui, ”Ketiadaan tujuan hidup adalah penyakit saraf yang menimpa generasi ini.”

Dalam Katekismus Singkat yang dipakai di gereja-gereja Inggris ada pertanyaan: "Apakah tujuan utama manusia?" Jawabannya: "Tujuan utama manusia adalah memuliakan Allah dan menikmati Dia untuk selama-lamanya." Jawaban ini selaras dengan seruan kedua puluh empat tua-tua yang tersungkur dan menyembah Dia yang hidup sampai selama-lamanya, "Ya Tuhan dan Allah kami, Engkau layak menerima puji-pujian dan hormat dan kuasa; sebab Engkau telah menciptakan segala sesuatu; dan oleh karena kehendak-Mu semuanya itu ada dan diciptakan.” Dalam terjemahan versi King James diungkapkan: ”untuk kesenangan-Mu semuanya itu ada dan diciptakan.” Ya, Allah menciptakan kita untuk kesenangan-Nya; Ia menjadikan kita untuk diri-Nya sendiri!

Kesia-siaan hidup ditakar dari kegagalan kita menggenapi tujuan hidup yang telah digariskan sebelumnya oleh Pencipta kita. Kehidupan yang egois, berpusat pada pengejaran ambisi dan pemuasan pribadi, menyeret kita ke dalam rawa-rawa kesia-siaan.

            Kita akan mulai menemukan tujuan hidup saat kita mengalihkan pandangan dari diri sendiri. Kita tidak melihat diri kita sebagai pusat. Sebaliknya, kita menyadari bahwa keberadaan kita di dunia ini adalah untuk memuliakan Allah. Ketika kita menyadari bahwa kita hidup untuk mencari dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, bukannya membangun Kerajaan Aku, di situlah kita akan menemukan sumber kepuasan sejati. ***

Impian yang Luruh

Wednesday, April 2nd, 2008

Kadang-kadang kita bisa memetik hikmah dari kegagalan. Pengalaman buruk dapat menyengat kita, mengingatkan kita akan jalan yang lebih baik. Kisah berikut ini kiranya menggugah kita untuk menjalani kehidupan secara arif.

Namanya Howard Hughes. Kebanyakan orang akan menganggap ia telah berada di puncak dunia. Apa lagi yang masih kurang? Sejak kecil ia telah bermimpi – “Kalau aku besar nanti, aku akan menerbangkan pesawat tercepat yang pernah dibuat manusia, membesut film terhebat yang pernah ada, dan menjadi orang paling kaya di dunia” – dan hidupnya merupakan penggenapan dari impian tersebut.

Ketika masih remaja ia telah mewarisi bisnis ayahnya yang sukses. Dengan kucuran dana yang seperti tak kunjung habis, ia mengerahkan segenap kenekatan untuk mewujudkan serangkaian ide gilanya. Dunia dibuatnya tercengang. Selebihnya, sederetan selebritas jelita jatuh ke dalam pelukannya.

Penggalan hidupnya tersebut diangkat ke dalam film The Aviator (2004) garapan Martin Scorsese. Hughes tampil sebagai sosok yang flamboyan, jenius, visioner, keras kepala, playboy, dan eksentrik. Namun, dia juga sekaligus penyendiri: Dia fobia terhadap orang dan bakteri, dan nantinya digerogoti penyakit mental dan fisik. Dalam dirinya, kita melihat batas tipis antara kejeniusan dan kegilaan. Impiannya, akan pesawat yang mampu terbang di atas awan dan mengangkut banyak penumpang sekaligus, merupakan sebuah terobosan jauh ke masa depan. Di sini kita salut akan kegigihannya mewujudkan visi, berapa pun harga yang harus dibayarnya.

Di sisi lain, menyimak gaya hidupnya yang serba gemerlap, namun sekaligus dihantui gangguan mental, kita serasa menyaksikan embrio budaya pemujaan selebritas, obsesi seksual dan cengkeraman materialisme yang saat ini kian merebak. Sebuah gaya hidup yang menggilas akal sehat.

Film ini merayakan sisi tersebut secara gegap-gempita, namun The Aviator berhenti saat Hughes berada di tubir ketidakwarasan. Scorsese tampaknya enggan memotret akhir tragis tokoh ini. Selama sepuluh tahun terakhir masa hidupnya sampai meninggal pada 1976, Hughes menghabiskan sebagian besar hidupnya dengan menyendiri, berpindah-pindah dari penthouse hotel satu ke penthouse hotel lainnya.

Ketika selama empat tahun tinggal di Desert Inn Hotel, Las Vegas, ia suka menonton televisi mulai dari tengah malam sampai pukul enam pagi. Sayangnya, stasiun setempat hanya mengudara sampai pukul sebelas malam. Asisten Hughes berulang mendesak Hank Greenspun, pemilik stasiun, untuk menyiarkan film-film koboi dan penerbangan kesukaan Hughes pada jam-jam dini hari. Greenspun akhirnya menjawab, “Kenapa dia tidak membeli saja stasiun ini dan memutar program sesuka hatinya?” Hughes sepakat, dan ia pun mengeluarkan 3,6 juta dolar untuk membeli stasiun itu – agar dapat menyiarkan acara favoritnya dari pukul sebelas malam sampai pukul enam dini hari.

Sewaktu ia meninggal dunia, gaya hidupnya yang suka menyendiri dan penggunaan obat-obatan secara berlebihan membuat penampilannya sulit dikenali. Rambut, cambang, kuku jari tangan, dan kuku jari kakinya bertumbuh panjang tak terurus. Tubuhnya yang semula kuat dan tegap tinggal berbobot sekitar 41 kilogram. FBI mesti mengambil sidik jarinya guna mengenali identitas jenazahnya tersebut. Hidupnya berakhir secara mengenaskan. ***

Membalikkan Hati Bapa

Wednesday, April 2nd, 2008

Allah bisa menyatakan diri-Nya sebagai Pencipta. Sebagai Raja. Sebagai Panglima Balatentara. Namun, saat Dia mengutus Anak-Nya yang tunggal untuk menjadi manusia, Yesus Kristus memperkenalkan kepada kita Allah sebagai Bapa. Yesus berdoa kepada Allah dengan menyebut-Nya Bapa, dan mendorong kita untuk berdoa seperti itu juga. Apa yang istimewa dalam sosok ’bapa’ sehingga Allah menyebut diri-Nya sebagai Bapa Surgawi kita?

Saya kerap tersentuh dengan film yang menampilkan dinamika hubungan ayah-anak, baik sebagai tema pokok maupun tema samping. Seperti ayah yang bergumul untuk memahami hasrat anak laki-lakinya menari balet dalam Billy Elliot, ayah yang harus mengambil keputusan sulit untuk melindungi keluarganya dalam Monsoon Wedding, atau ayah yang telah meninggal saat anaknnya berumur 6 tahun dan 30 tahun kemudian menyapa anak itu lewat sebuah radio panggil dalam Frequency. Gambar-gambar yang menampilkan keakraban ayah-anak juga acap menggugah hati.

Selain menyebut diri-Nya ”Bapa”, sosok bapa itu sendir berkaitan dengan Allah. Dalam Alkitab kata ”bapa” muncul hampir seribu lima ratus kali. Apakah Allah tengah menggarisbawahi pentingnya bapa atau ayah?

Para bapa ditetapkan Allah sebagai kepala bagi keluarganya. Dengan wewenang tersebut, para bapa sekaligus memikul tanggung jawab – tanggung jawab untuk memahami dan mendayagunakan pengaruh yang dapat memberkati keluarganya. Sayangnya, banyak ayah saat ini yang malah menyalahgunakan tanggung jawab itu dan meremehkan wewenang yang diembannya.

Adakah suatu kebetulan bila Allah, seperti diamati Rick Johnson, penulis Better Dads, Stronger Sons, menutup firman-Nya pada era Perjanjian Lama dengan menegaskan pentingnya peran para bapa? “Maka ia akan membuat hati bapa-bapa berbalik kepada anak-anaknya dan hati anak-anak kepada bapa-bapanya supaya jangan Aku datang memukul bumi sehingga musnah” (Mal. 4:6).

Tentu saja Allah bisa memilih tanda lain untuk menggenapi nubuat tadi. Dia bisa berkata, ”bila orang kembali ke jemaat,” atau ”bila tidak ada lagi kelaparan atau perang.” Nyatanya, Dia memilih menyoroti pemulihan hubungan ayah-anak sebagai tanda kedatangan kembali Tuhan.

Kata ”musnah” dalam ayat ini sebuah kata yang sangat keras, menyarankan pemusnahan total. Dengan kata lain, yang bisa mengelakkan kita dari pemusnahan total dan memampukan kita bertahan dan berjaya sebagai bangsa adalah bila para pria menyambut dan menjalankan wewenang dan tanggung jawab yang Allah percayakan kepada mereka.

Allah jelas-jelas memiliki rancangan istimewa bagi para pria pada umumnya, dan para ayah pada khususnya. Allah memilih anda untuk memimpin anak-anak anda, menjadikannya orang yang berbudi luhur. Kalau Allah sudah memilih kita, tentu Allah tak akan membiarkan kita seorang diri menghadapi kemungkinan gagal. Sebaliknya, Allah akan menolong anda bila anda mencari Dia untuk mendapatkan hikmat dan kearifan. Allah akan bekerja di dalam dan melalui diri anda bila anda mengizinkannya.

Secara khusus, seperti dinyatakan John Piper, kesehatan seksual anak-anak kita sangat ditentukan oleh perhatian, pengajaran, sentuhan, dan kasih kita. Baik anak laki-laki maupun anak perempuan, perkembangan seksualitas mereka secara sehat lebih ditentukan oleh adanya sosok pria (Allah) yang ilahi, kuat, dan penuh kasih daripada oleh sosok perempuan (ibu) dalam hidup mereka. ***