Rapuh
Pagi: Besuk kawan, seorang guru SLTA, yang diopname. Demam berdarah. Ia, jadinya, menikmati masa liburnya dengan betul-betul “berlibur”.
Siang: Membeli obat lanjutan untuk menuntaskan penyembuhan alergi putri kami. Kuharap ini resep terakhir setelah tiga — atau empat — tahun ia, sekecil itu, mesti menjalani pengobatan beruntun.
Malam: Melayat. Ayah salah seorang anggota gereja kami meninggal dunia. Serangan jantung. Setelah serangkaian pemeriksaan sebelumnya dokter menyatakan ia baik-baik saja.
Pulangnya: Singgah di rumah kawan lain yang kabarnya flu berat. Ternyata ia sudah merasa enakan.
Sakit-penyakit. Persoalan. Maut. Hidup ini rapuh, ya?
Di ujung malam seorang kawan mengirimiku pesan singkat. Mengutip Mimi Lan Mintuna-nya Remy Sylado, ia tentu tak berniat memukul gong, toh ia seakan menggarisbawahi: “Mutu kebaikan justru teruji melalui kenyataan akan adanya kejahatan yang tidak pernah punah.”
Kerapuhan barangkali mirip dengan kejahatan. Ia senantiasa menguntit kita, menyelinap tak terduga bahkan ketika hari terasa cerah. Ia juga hadir untuk menguji mutu kehidupan kita. Ia terus-menerus menggerus kita, agar tertinggal hanya yang tidak tergerus. Kita bisa kian getir dan buram, acuh tak acuh sampai dungu dan majal, atau malih jadi manis dan bening.
Dengan kebeningan itu, semoga, kita dapat menangkap sekilas pantulan wajah Sang Pembentuk Kehidupan, Dia yang bersemayam dalam terang yang tak terhampiri, yang senantiasa bekerja di balik segala kerapuhan. ***
January 19th, 2008 at 3:50 am
Ehm. Udah baca ya, Mas, MlM-nya Remy?
Renungan ini luar biasa, terutama di paragraf akhir. Aku masih susah membuat kalimat/paragraf seperti itu.
March 1st, 2008 at 6:56 am
kerapuhan itu ada karena kita
dan kerapuhan itu dijinkan ada supaya kita bersandar pada-Nya.
kita pun terus berharap