Kemah atau Mezbah?
Pada zaman Enos orang mulai memanggil nama Tuhan. Henokh “hidup bergaul dengan Allah.” Nuh mendirikan mezbah bagi Tuhan sekeluar dari bahtera setelah air bah surut. Abram mendirikan mezbah sejak awal Tuhan memanggilnya keluar dari Ur-Kasdim sampai, setelah namanya diubah menjadi Abraham, ketika Tuhan memintanya mengorbankan Ishak, anaknya yang tunggal. Kebiasaan mendirikan mezbah itu terus dilanjutkan baik oleh anaknya, Ishak, maupun cucunya, Yakub.
Mezbah menjadi monumen yang signifikan di tengah ziarah mereka. Pada masa itu hanya orang-orang tertentu yang mendirikan mezbah bagi Tuhan. Ada pun kebanyakan orang lain, dimulai dari Yabal, terbiasa mendirikan kemah.
Kemah tak lain pangkalan dalam kehidupan domestik dan bisnis. Dengan mendirikan kemah, Yabal pun mulai memelihara ternak. Nuh mabuk dan telanjang di kemahnya setelah menuai anggur. Lot mendirikan kemah di dekat Sodom. Allah mengunjungi Abraham di kemahnya. Ishak menikahi Ribka di kemah ibunya, Sara. Kemah, dalam istilah saat ini, mewakili kesibukan sekuler kita: keluarga, pendidikan anak, karier, bisnis.
Namun, tidak semua orang berpikir untuk mendirikan mezbah. Hanya para leluhur Israel yang setia melakukannya secara turun-temurun. Di situlah mereka mengambil jarak dan jeda dari kesibukan keseharian untuk memanggil nama Tuhan, membakar korban, mempersembahkan ucapan syukur, membuhulkan perjanjian dengan-Nya. Mezbah menandakan denyut kehidupan rohani, hubungan dan persekutuan dengan Tuhan.
Kemah dan mezbah semestinya bukan dua aspek kehidupan yang terpisah. Allah pun tidak hanya hadir saat kita membangun mezbah; adakalanya Dia menyambangi kita di dalam kemah, seperti yang dialami oleh Abraham. Namun, tentu saja, kita perlu menyadari perbedaan keduanya yang mendasar. Kemah mengacau pada tempat kediaman di bumi, kehidupan fana yang akan berakhir saat kita meninggal. Mezbah, sebaliknya, mewakili aspek kehidupan kita yang tak akan terputus oleh maut, malah dikukuhkan di dalam kekekalan. Mezbah, dengan demikian, lebih utama daripada kemah: hubungan dengan Allah adalah sumber bagi segala kesibukan sekuler kita.
Dengan berkeluarga, kita mendirikan kemah. Pertanyaannya, apakah kita juga menegakkan mezbah untuk menopangnya? “Apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.” Ucapan Yesus yang tak ayal dikutip dalam liturgi pernikahan kita itu menegaskan pula pentingnya membangun mezbah dalam kehidupan keluarga. Keluarga terbentuk melalui segitiga perjanjian. Ada perjanjian antara seorang pria dan seorang perempuan, namun selanjutnya masing-masing bersama-sama mengikat perjanjian pula dengan Tuhan. Pernikahan, dengan demikian, bukan sekadar komitmen untuk membangun kemah, namun terutama komitmen untuk mendirikan mezbah bagi Tuhan bersama-sama.
Kalau kita hanya melihat pada ikatan antara suami dan istri, kedua orang ini bisa mengalami kekecewaan, kehilangan kemesraan, atau merasa tidak cocok lagi setelah sekian lama berumah tangga. Pernikahan menjadi institusi yang rentan dan rapuh. Hadirnya unsur Tuhan mengubah segalanya.
Ikatan dengan Tuhan merupakan simpul terpenting dalam kehidupan keluarga. Inilah aspek yang tidak boleh diceraikan oleh manusia. Hubungan suami-istri bisa saja mengalami ketegangan atau konflik, namun sepanjang kita bersedia mendirikan mezbah dan menghadirkan Tuhan, Dia pasti menyediakan jalan penyelesaian dan pemulihan. Melalui mezbah keluarga, membina hubungan dan persekutuan dengan Tuhan, keluarga menemukan dasar dan sumber keharmonisan sejati. ***
January 18th, 2008 at 6:22 am
segala sesuatu yang melandaskan nama Tuhan maka akan diberkati. bukankah FirmanNya mengatakan, ” Diberkatilah orang yang mengandalkan Tuhan “. jika kita mau membangun Medzbah dulu sebelum kita nmembangun kemah maka kita akan diberkati. Mas aku setuju pendapatmu. GBU