Friends or Fans?

Awal tahun lalu aku melihat-lihat profil seorang pengarang di Friendster (Fs). Aku berniat menambahkan dia sebagai temanku, tapi ternyata di profilnya tidak ada link ‘Add as a Friend’. Sebagai gantinya adalah ‘Become a Fan’. Ah, ini profil yang disediakan bagi orang-orang yang ngefans pada pengarang ini rupanya. Kutengok ke sebelah kanan paling atas. Di situ biasanya berderet dalam dua baris foto enam teman orang bersangkutan. Nah, di halaman profil pengarang ini ada tambahan banner kecil ‘Fan Profile’, dengan iming-iming ‘Get Yours!’

Kemelitanku terpantik. Kusimak kelebihan-kelebihan yang ditawarkan bila orang mengubah profilnya dari jaringan pertemanan normal menjadi ‘fan profile’. Wah, kayaknya bisa dipakai nih sekalian untuk promosi buku terbaruku. Tergiur, meskipun ada semacam peringatan bahwa kalau sudah berubah ke ‘fan profile’ tidak bisa dikembalikan jadi normal lagi (hihi, kayak operasi plastik saja!), kupilih mengubah profilku. Fs pun menayangkan info bahwa perubahan profilku tengah diproses.

Saat online berikutnya… tada! Profilku sudah malih, kini juga dihiasi banner ‘Fan Profile’. Daftar teman – sekitar 200-an – yang kupunyai pun lenyap, berganti menjadi daftar fan. Yup, mereka-mereka itu, dari teman yang memang kukenal dekat sampai teman yang cuma iseng kutambahkan dan kuterima selama berkelana di dunia maya, semua orang itu kini bukan lagi temanku, melainkan… fan-nya Arie Saptaji Wahyu Widodo!

Ooo… aku sempat tertegun sebentar. Lalu, cengar-cengir. Lalu, merasa jadi setengah dungu. Dunia lagi jungkir-balik, nih! Antara friend dan fan itu ‘kan amat sangat lebih jauh dari antara Anyer dan Jakarta! Ini akunya yang nggak paham, telmi, atau gara-gara cepat tergoda oleh promosi, sampai-sampai tidak menyimak bahwa daftar temanku akan berubah menjadi daftar fan itu sudah tercakup dalam paket perubahan profil?

Di antara daftar nama teman itu ada pengarang, editor, sutradara, penyanyi, penyiar televisi, pokoknya sosok-sosok yang layak masuk hitungan selebritas, begitulah. Dulunya kemungkinan besar jelas aku yang menjawil mereka, terdorong oleh snob, biar dikira punya pertemanan dengan orang terkenal. Dan, orang-orang itu dengan senang hati telah memenuhi permintaanku untuk dijadikan teman. Lalu kini, ujug-ujug, bumi gonjang-ganjing langit kelap-kelap… gubrakz, mereka berbalik menjadi fan inyong! Lah apa tidak diketawain monyet?

Tak kalah membuat bibir nyengir, teman-teman yang dulu menjawil atau kujawil karena ingin menjalin pertemanan, kini tanpa permisi kupaksa jadi fan pula. Semuanya! Aduh biyung… kok ngisin-isini temen to kowe ki, Ar! Mbok ngilo!

Dengan perubahan ini, pola hubungan jelas berubah. Sebagai friend, kita membangun hubungan egaliter, setara satu sama lain. Dalam hubungan fan, kita membangun hirarki: gue yang dikagumi – lu yang mengagumi. Dan Fs menunjukkan perubahan itu dengan sungguh canggih.

’Fan profile’ memang amat agresif dalam mempromosikan profilku. Gambar profilku muncul di halaman profil setiap orang yang (terpaksa) ngefan padaku. Wajib nampang! Kayak ’featured friend’ saja, namun dengan posisi tersendiri. Kecuali kalau orang itu mutung dan memutuskan menghapus kaitannya denganku seperti Clementine menghapuskan kenangan akan Joel di Lacuna! (Kukira, ada – entah berapa orang – yang melakukannya. Buktinya? Di profilnya tidak muncul bahwa he or se is a fan of me! Tuh, narsis berat, ‘kan?!)

Keuntungannya, ketertampakan profilku di Fs meningkat pesat. Jumlah pemirsa profilku meroket. Dan sebagian, sungguh bikin ge-er, rela ngefan pada daku…

Selanjutnya, ini yang kurasa berat. Dalam hubungan sebagai teman, karena setara tadi, kita bisa saling menengok profil satu sama lain, dan leluasa untuk saling mengirim kabar. Tidak demikian dengan per-fan-an, khususnya pada mereka yang ngefan padaku (cie!) setelah profilku berubah. Kalau mereka membatasi profil dan atau pengiriman pesan pada mereka hanya bisa diakses teman-teman mereka, daku (yang konon digemari oleh mereka itu) termasuk yang tidak dapat mengakses profil mereka – karena fan memang beda dari friend! Berabe, kan? Padahal, di antara fan baruku itu, ada penyanyi kondang-makondang yang pengin kukenal lebih dekat, tapi dia menutup profil-nya bagi non-friend. Mau-maunya dia memenuhi permintaanku untuk jadi fanku (ya, aku yang menjawilnya)! Lagi-lagi, inilah duniaku yang lagi jungkir balik itu…

Dulu, enak banget kalau mau menambah teman, tinggal dengan sopan bilang, “Mau nggak jadi temanku?” Bisa menjemput bola, dan menunggu tanggapan. Sekarang, kok ya nggak lucu kalau meminta orang, “Mau nggak ngefan padaku?” Ah, apa bedanya dengan kontestan idol-idolan yang minta dukungan sms itu?

Hm, apa aku mesti bikin dua profil? Satu untuk pertemanan satu untuk per-fan-an? Kalau memang mau cari fan, mestinya ya bikin dong ’fan profile’ dari nol, bukan memaksa friends menjadi fans!

Oh, repotnya… ***

Yang mau ngefan pada Arie Saptaji, monggo join di http://profiles.friendster.com/ariesaptaji

4 Responses to “Friends or Fans?”

  1. LIA desainku Says:

    hehehe… bener… bener…

  2. simon Says:

    wis ora masalah, yang penting mas Aji bisa menjadi berkat, lebih luas lagi. Ladang pelayanan mas menjadi lebih dahsyat lagi. inilah arti bahwa mas boleh dipakai oleh Tuhan untuk kemuliaanNya. ok mas. GBU

  3. Fery Says:

    I love all your books. Aku fans-mu mas, hehe. http://www.kacamata3d.blogspot.com

  4. Maria Says:

    gimana caranya mengubah jadi fan profile, kagak bisaaaa helppp

Leave a Reply