Resensi ‘Secangkir Teh Hangat’ di WikiMu
Thursday, November 29th, 2007
‘Secangkir Teh Hangat di Beranda Rumah’ diapresiasi oleh Panjikristo di WikiMU.
Matur nuwun, Mas Panji!
‘Secangkir Teh Hangat di Beranda Rumah’ diapresiasi oleh Panjikristo di WikiMU.
Matur nuwun, Mas Panji!
Malam ini di udara Yogya!!
Jumat, 23 November 2007
Mulai pk. 19.45 - 20.45 WIB
di Sasando FM, Yogyakarta
Arie Saptaji akan diwawancarai seputar proses kraetif dan buku-bukunya yang diterbitkan PBMR ANDI, khususnya Lintasan Cinta (fiksi) serta Bible Trivia 1-2 dan 365 Tebakan Jadul & Gaul.
Tersedia 3 hadiah menari untuk 3 penanya terbaik!
Simak!
Meditasi. Ini kedengarannya seperti sebuah kosa kata asing bagi kebanyakan umat kristiani. Orang Kristen bermeditasi serasa sebagai sebuah kejanggalan, sesuatu yang tidak lazim. Kita cenderung mengaitkannya dengan spiritualitas agama-agama Timur. Nyatanya, meditasi adalah salah satu mata rantai penting dalam ibadah kristiani.
Meditasi tak lain adalah resep kesuksesan Yosua. Kitab Mazmur dibuka dengan pentingnya meditasi. Timotius didorong oleh Paulus untuk bertekun dalam meditasi guna menjaga kebugaran dan vitalitas rohaninya.
Bermeditasi dengan merenungkan firman Tuhan juga menjadi praktik keseharian jemaat Tuhan dari abad ke abad. Guigo II, seorang biarawan abad ke-12 misalnya, menguraikan ”tangga” doa sebagai lectio, meditatio, oratio, contemplatio (membaca Alkitab, bermeditasi, berdoa, berkontemplasi).
Mengapa penting bermeditasi? Charles Haddon Spurgeon (1834-1892), ”Raja Pengkhotbah” dari Inggris, memaparkan empat manfaat utama bermeditasi atau merenungkan firman Tuhan.
Pertama, bermeditasi menolong kita menemukan ”intisari” kebenaran firman Allah. Orang yang makan tidak menelan makanannya begitu saja, namun makanan itu mesti melewati proses pencernaan sejak dari mulut sampai ke usus, agar sari-sarinya dapat terserap dengan baik oleh tubuh. Gabah perlu digiling menjadi beras sebelum dapat ditanak dan kemudian dinikmati sebagai nasi.
Begitu juga dengan firman Tuhan. Tidak cukup kita hanya membaca, mendengarkan, menandai atau mempelajarinya. Kita juga perlu bermeditasi atau merenungkannya untuk meresapkan nilai-nilai kebenaran tersebut.
Kedua, bermeditasi menolong kita menanamkan kebenaran itu di dalam ingatan kita. Kita semua cenderung gampang lupa. Khotbah yang kita dengar pada pagi hari, tak jarang siangnya sudah kita lupakan. Perikop Alkitab yang kita baca sebelum mandi pagi, sehabis sarapan sudah tak kita ingat lagi. Lalu, saat kita diperhadapkan pada tantangan dan masalah hidup, kita seperti prajurit yang tidak memegang senjata – tidak tahu mesti mendayagunakan prinsip firman Tuhan yang mana untuk menyikapinya. Merenungkan firman Tuhan, mengunyahnya berulang-ulang seperti sapi memamah biak, menjadikan firman itu lekat dalam ingatan.
Ketiga, bermeditasi menolong kita menyingkapkan kebenaran dan memahami maknanya. Mungkin saja orang menemukan butiran emas di permukaan tanah, namun sebagian besar bungkahan emas terpendam di kedalaman bumi. Artinya, kita perlu menggalinya untuk mendapatkannya. Bermeditasi, dengan demikian, tak lain sebuah kerja keras untuk menggali bungkahan kebenaran yang tersembunyi di kedalaman firman Tuhan. Perlu waktu dan kesabaran.
Keempat, semakin terbiasa kita bermeditasi, semakin mudah pula kita menyambut kebenaran. Pernah memasak di tungku tanah liat? Kalau apinya masih kecil, dan Anda memasukkan kayu yang masih agak lembab, kemungkinan besar api itu akan padam. Namun, saat apinya sudah berkobar-kobar, kayu yang masih lembab pun akan disambarnya. Orang yang terbiasa bermeditasi menjaga api di tungku hatinya senantiasa menyala-nyala. Bagi orang semacam ini, khotbah yang sederhana dan disampaikan oleh pengkhotbah yang membosankan pun bukan masalah: ”kayu yang lembab” itu akan dibakarnya dan membuat hatinya kian berkobar!
Begitu besar manfaat meditasi, namun, seperti tersirat dari uraian di atas, bermeditasi juga sebuah kerja keras, suatu disiplin rohani. Meditasi bukan suatu praktik yang bisa dilakukan sambil lalu. Kita perlu meluangkan waktu khusus, dan sejenak menutup diri dari kesibukan dunia yang menuntut perhatian kita.
Tak mengherankan kalau meditasi terasa sebagai sesosok momok menakutkan bagi orang-orang modern yang supersibuk. Seperti ditengarai oleh Winkie Pratney, ”Orang sekarang ini takut akan keheningan. Orang cenderung lebih suka bergerak, bertindak, atau melakukan kesibukan apa saja, karena mereka takut mendengar suara Allah. Padahal justru kesibukan itulah yang menghambat kita untuk mengenali diri kita yang sebenarnya dan sosok Allah yang sesungguhnya.”
Karenanya, kehadiran buku-buku renungan semacam ini kiranya bukan dipandang sebagai pengganti waktu meditasi pembaca. Jauh dari itu. Buku renungan paling berhasil bukan ketika ia membuat pembacanya merasa sudah tuntas bermeditasi. Sebaliknya, buku renungan yang bagus seperti seorang pembuka gerbang: ia menggugah pembacanya untuk masuk sendiri ke dalam keheningan taman meditasi. Dengan kata lain, tertantang untuk berlatih dan membiasakan diri merenungkan firman Tuhan. Semoga buku ini bermanfaat seperti itu.
Selamat merenung! ***
(”Kata Pengantar” buku Daya Hidup Terbesar, Jakarta: Penerbit Obor, 2007)
Nancy Alcorn pernah selama lima tahun menjadi kepala bagian olah raga di sebuah lembaga rehabilitasi yang menangani gadis-gadis yang terlibat dalam kenakalan remaja di Tennessee, AS.
Selanjutnya, ia menyelia sebuah panti rehabilitasi di Nashville selama tiga tahun. Di kedua lembaga milik pemerintah tersebut, Nancy menyaksikan gadis-gadis yang terlibat dalam pelacuran, penyalahgunaan narkoba, penganiayaan, dan kriminalitas segera kembali pola hidup destruktif begitu mereka dibebaskan dari pengawasan. Sebagai orang Kristen, Nancy bahwa karena pemerintah tidak mengizinkannya menawarkan kepada para gadis itu satu-satunya sumber transformasi yang sejati, yaitu Yesus, ia pun tidak mampu menangani akar penyebab perilaku menyimpang mereka.
Ia sendiri pernah mengalami transformasi yang mengakhiri pemberontakan masa remajanya, antara lain berupa pergumulan selama lima tahun dengan bulimia. Karenanya, ia merasa frutasi karena tidak dapat membagikan Kebenaran yang menyelamatkan itu. Akhirnya ia memutuskan untuk meninggalkan lembaga pemerintah tersebut dan menjadi pimpinan sebuah lembaga Kristiani, Teen Challenge, di Nashville. Di situlah ia merasa Allah menuntunnya untuk merintis pelayanan bagi kaum wanita muda yang terjebak dalam kebiasaan dan keluarga yang destruktif.
Berbekal 1.000 dolar pesangon dari Teen Challenge, Nancy pindah ke Monroe, Louisiana. Pada 1983 ia mendirikan Mercy Ministries dan memastikan empat hal: Pelayanan itu harus menolak bantuan dana dari pemerintah, agar ia bisa leluasa memberitakan Injil; ia harus memberikan persepuluhan dari semua sumbangan bagi pelayanan itu; ia harus menerima para gadis tanpa memungut biaya sehingga mereka akan tahu bahwa satu-satunya motivasi menjangkau mereka adalah karena kasih Allah yang tanpa pamrih; dan, entah dengan cara bagaimana, Allah akan membungkam orang-orang yang skeptis terhadap upayanya itu, dengan memenuhi setiap kebutuhan Mercy Ministries.
Sedikit demi sedikit Nancy menyaksikan bagaimana Allah menyediakan hal-hal itu: rumah berharga murah dengan sekian banyak kamar tidur; liputan media lokal yang mendorong datangnya sumbangan dana; seorang dokter memberinya dana untuk melunasi cicilan mobilnya. Selain itu, teman-temannya memperkenalkannya kepada berbagai pemimpin bisnis dan gereja yang memberinya bantuan dana dan kesempatan untuk menyebarluaskan kabar tentang Mercy Ministries.
Lapisan cat baru di rumah itu belum mengering ketika Nancy mulai menerima telepon dari sejumlah orang tua gadis bermasalah berat. Penghuni pertama rumah rehabilitasinya adalah Theresa, 19 tahun, yang beberapa kali mencoba bunuh diri serta kecanduan narkoba dan alkohol. Theresa disusul oleh gadis-gadis terluka lainnya yang sangat memerlukan kesembuhan dan pengharapan dari Allah.
Dua puluh tempat tidur di rumah itu segera terisi penuh dengan daftar tunggu yang panjang. Rumah-rumah Mercy yang lain pun menyusul dibuka. Pada 1990 Nancy kembali ke Nashville dan mulai menanam benih pendirian rumah Mercy yang akhirnya dibuka pada 1995. Rumah di Monroe dan Nashville itu juga menyediakan agen adopsi bagi gadis-gadis hamil yang memutuskan untuk menyerahkan bayinya untuk diadopsi. Sejak 1985, pelayanan itu telah menempatkan ratusan bayi ke dalam keluarga angkatnya yang penuh kasih.
Pada 2000 pemimpin pujian Darlene Zschech dan suaminya, Mark, mendirikan Mercy Ministries di Australia dan mendirikan rumah Mercy di dekat gereja mereka di Sidney. Tahun itu juga Joyce dan Dave Meyer dari Joyce Meyer Ministries menghibahkan tanah untuk lokasi rumah Mercy di St. Louis. Mercy Ministries juga siap mengembangkan sayap ke Selandia Baru, Inggris, Seattle, Los Angeles dan Houston. *** (Blessing, November 2007)
– Sumber: Today’s Christian Woman/ars
kita masih gagap
namun, kita akan masuk juga, bukan?
pintu riwayat, ruang yang siap kita gurat
kita membawa bekal dari canda
kita membawa bisik dari angin
kata dan air mata, doa dan tawa
memenuhi laut dan angkasa
kita menyimak pekik camar
dengan asa yang bersahaja:
cukup kita bernaung
di hangat atmosfir-Nya