Pencarian Jati Diri Seorang Pembunuh
Siapakah aku? Mengapa aku ada di sini? Dari manakah aku berasal? Ke mana aku akan pergi? Pertanyaan mendasar seputar kehidupan seperti itu biasanya muncul dalam wacana filsafat atau khotbah. Kalaupun diangkat dalam film, film seriuslah yang akan memaparkannya.
Benarkah? Nyatanya, film laga pun bisa membesutnya dengan memikat. Petualangan Jason Bourne, mata-mata pembunuh terlatih CIA, melacak jati dirinya menjadi benang merah menawan dalam The Bourne Identity (2002) dan The Bourne Supremacy (2004). Keduanya menangguk lebih dari 500 juta dolar dalam box office global.
Penonton yang penasaran akan akan menemukan jawaban pencarian itu dalam The Bourne Ultimatum, yang kembali disutradari Paul Greengrass (The Bourne Supremacy, United 93). Petualangan Bourne dimulai dengan ”kelahiran kembali” dalam Identity. Gara-gara gagal menjalankan misi, ia ditembak dan dibiarkan mengambang di lautan. Ternyata ia bisa masih hidup, namun telah kehilangan memori. Petunjuk identitas yang dimilikinya hanyalah chip yang tertanam pada pinggangnya, dan kenyataan bahwa dia menjadi buron CIA.
Dalam film ketiga ini, Jason Bourne (Matt Damon) berusaha membongkar masa lalu, agar dapat menemukan masa depan. Ia masih dikejar-kejar mantan bosnya. Dari wartawan Guardian, Simon Ross (Paddy Considine), ia mengetahui tentang operasi hitam CIA yang disebut Black Briar. Organisasi ini tak lain adalah pengembangan dari Threadstone, program yang telah mengubah Bourne menjadi mesin pembunuh dahsyat. Setelah kehilangan memori dan kehilangan kekasih, kini Bourne mesti berhadapan dengan gerombolan pembunuh dengan pelatihan yang jauh lebih canggih, di bawah komando Noah Vosen (David Strathairn). Dalam menepiskan musuh-musuhnya, Bourne berkelebat dari Moskow, Paris, Madrid, London, Tangier hingga New York City.
Nasib Jason Bourne barangkali mengingatkan anda pada sosok pahlawan lain yang juga mengabdi pada pemerintahnya. Ia mengabdi pada atasannya dengan setia dan mematuhi perintah-perintahnya. Namun, hati nuraninya terganggu oleh perilaku sang atasan. Ujungnya, ia menjadi pelarian, dikejar-kejar oleh bosnya yang bersenjata lengkap. Ya, seperti disinggung Jeffrey Overstreet, Bourne mirip dengan Daud yang diburu oleh Raja Saul. Kisah lama itu ternyata masih menggetarkan.
Nama Jason Bourne kebetulan juga seinisial dengan mata-mata pembunuh lain, James Bond. Namun, kesamaan itu hanya berhenti sampai di situ. Dalam sebuah wawancara, Matt Damon menegaskan kontras di antara keduanya. Menurut Damon, Bond itu ”seorang imperialis dan dia itu misoginis. Ia membunuh orang dan tertawa dan menenggak martini dan bergurau tentang hal itu.” Sebaliknya, ”Bourne itu pria yang paranoid. Ia buronan. Ia bukan agen pemerintah. Pemerintah memburu dia. Ia penganut monogami yang mencintai pacarnya yang sudah meninggal dan terus-menerus memikirkannya. Ia benar-benar berlawanan dengan James Bond.”
Bourne memang telah diprogram untuk menjadi pembunuh tanpa nurani, namun nyatanya program paling canggih pun tak sanggup membungkam nuraninya. Kepatuhan terhadap atasan, bagi Bourne, rupanya tak identik dengan mengkompromikan apa yang benar. Bandingkan dengan tentara yang menembaki rakyat lantas berlindung dalam dalih ”sekadar melakukan komando atasan”.
Pencarian jati diri Bourne lalu sekaligus menjadi perjalanan penebusan atas dosa dan kejahatannya pada masa lalu. Dan, semuanya itu dituturkan lewat sebuah film laga! ***