laskar pelangi memusingkan
Aku baru membaca Laskar Pelangi setelah dua tahun itu terbit dan menghebohkan dunia perbukuan Indonesia. Baru masuk Bab 9, aku sudah merasa pusing. Tentu saja apa yang hendak disampaikan oleh buku itu sangat bagus, namun cara Andrea Hirata menuturkannya jelas masih perlu diperhalus. “Bahan dasar” yang elok itu dikerjakan secara terburu-buru. Bagian-bagian tertentu lebih terbaca seperti ensiklopedia daripada bagian terpadu dari sebuah narasi (dalam hal ini, kekenesan Imperia–nya Akmal membubuhkan berbagai informasi tambahan yang sebenarnya bisa saja dipangkas bagaimanapun terasa lebih menggelinding dan menyatu dengan rangkaian kisah).
“Penyakit” paling menonjol dalam LP adalah kronologi yang tidak runtut. Andrea belum berhasil menyuling kenangannya dan menyajikannya dalam rangkaian yang enak diikuti urutannya. Bandingkan dengan buku-buku Little House atau cerita kenangan N.H. Dini yang lebih mengalir. Jadinya, kecermelangan sebelas anggota Laskar Pelangi memang menakjubkan, namun sekaligus serba menimbulkan pertanyaan: Dari mana asalnya? Kecerdasan yang ini (misalnya argumentasi Kucai saat enggan jadi ketua kelas lagi itu) terjadi pada saat mereka umur berapa? Kurun waktu dari kelas 1 SD sampai 3 SMP tidak dipilah-pilah dengan baik, tidak diceritakan tahap demi tahap. Gambaran Pak Harfan, misalnya. Semula saya kira hanya menampilkan kesan Ikal atasnya pada hari pertama masuk sekolah, namun rupanya kesan terhadap sosok kepala sekolah itu sepanjang masa sekolahnya. Ada juga judul bab yang terasa berlebihan: Perempuan-perempuan Perkasa. Ternyata, fokusnya hanya tertuju pada Bu Mus. Perempuan-perempuan lain hanya disinggung sambil lalu dalam satu paragraf awal.
Tampaknya Andrea Hirata hanya menulis memoar (?) ini untuk anggota Laskar Pelangi dan orang-orang yang mengenal masa kecilnya, yang tetap bisa relate meski penceritaannya melompat maju-mundur. Untuk disajikan bagi publik yang lebih luas, mestinya penyampaiannya ditata ulang. Kok bisa-bisanya disebut-sebut mengikuti jejak Pram? Alamak, jauh nian!
Aku jadi penasaran, kalau nanti LP jadi difilmkan, bagaimana penulis skenario akan menata kenangan Andrea Hirata itu – dengan bayangan, setiap anggota Laskar Pelangi paling tidak diperankan oleh dua aktor: satu untuk masa kecil (SD) dan satu lagi untuk masa remaja (SMP). Lebih enak diikutikah? ***