Kegigihan Menhapus Perbudakan
Sebuah cita-cita, dan perlu waktu 20 tahun untuk memperjuangkannya. Berlangsung di arena politik, yang cenderung diwarnai aneka intrik dan pergulatan kekuasaan, pencapaian tersebut kian mengesankan.
Itulah prestasi William Wilberforce, anggota Parlemen dan aktivis reformasi moral di Inggris pada abad ke-18. Selama 20 tahun ia mengikhtiarkan penghapusan perdagangan budak di negeri adidaya abad itu. Upayanya ini dilandasi nilai-nilai kristiani dan dijalani dengan kegigihan, ketabahan, dan visi yang terfokus. Kisah Wilberforce inilah yang diusung menjadi film Amazing Grace.
Film garapan Michael Apted ini dirilis pada 23 Februari 2007, bertepatan dengan ulang tahun ke-200 keputusan Parlemen Inggris melarang perdagangan budak di seluruh koloninya. Undang-undang itu tak lain buah jerih payah William Wilberforce (Ioan Gruffudd) bersama kaum abolisionis (penentang perbudakan) pendukungnya. Film ini menyoroti kejadian-kejadian penting sepanjang 25 tahun perjuangan Wilberforce, dari 1782 sampai 1807.
Saat itu perdagangan budak mencakup ribuan orang Afrika, ratusan kapal, dan jutaan poundsterling. Bisa dikatakan, perbudakan menjadi tulang punggung perekonomian Inggris dan sebagian besar Eropa. Tidak banyak orang tahu tentang “Jalur Tengah” melintasi Atlantik, yang diperkirakan memakan korban satu dari setiap empat orang Afrika. Para budak hanya dianggap sebagai “properti”, tak berbeda dari kuda.
Perbudakan bukan dipandang sebagai perkara moral, melainkan sekadar urusan bisnis. Tak ayal pihak-pihak yang berkepentingan secara sengit menentang kampanye Wilberforce. Penentang utamanya adalah Lord Tarlton (Ciaran Hinds) dan Duke of Clarence (Toby Jones). Adapun pendukung Wilberforce tak kurang dari William Pitt (Benedict Cumberbatch), sahabatnya yang saat itu menjadi Perdana Menteri, dan John Newton (Albert Finney), penulis lagu ”Amazing Grace”, yang dijadikan judul film ini.
Amazing Grace dapat dijadikan pelajaran berharga bagi para politisi, mereka yang menyebut diri sebagai wakil rakyat dan wakil rakyat. Politik cenderung dicurigai sebagai gelanggang yang kotor dan hanya dijadikan ajang pertarungan kekuasaan dan ambisi pribadi atau partai.
Dalam diri William Wilberforce kita melihat sesosok politikus yang bergerak oleh visi dari Tuhan. Ia bukan sekadar tebar pesona, namun bersungguh-sungguh tebar kinerja – bila perlu dengan melawan arus pendapat umum yang tidak berpihak pada keadilan.
”Akankah kau menggunakan suaramu untuk memuji Tuhan atau mengubah dunia?” tanya William Pitt suatu ketika. Wilberforce pun memakai kemampuannya berorasi untuk mendesakkan pembebasan kaum yang tertindas, dalam hal ini para budak. Politik, nyatanya, bisa didayagunakan untuk memperjuangkan kesejahteraan umum.
Melalui Wilberforce kita juga mendapatkan contoh kepahlawanan yang belakangan ini memudar. Yang banyak disoroti media, tokoh-tokoh yang dipahlawankan dewasa ini, tak jarang hanyalah selebritas di bidang entertainment, olah raga, dan ya, politik dan militer.
Kita kesulitan menemukan sosok-sosok berkarakter unggul yang memperlihatkan bagaimana menjadi manusia seutuhnya itu. Sosok yang teguh berdiri membela prinsip moral meskipun mesti menghadapi konflik, kebencian, kekerasan, dan perlawanan. Kapan terakhir kali kita menjumpai pahlawan moral yang sumbangsihnya sungguh-sungguh mengubahkan kehidupan umat manusia? ***
