6 Sinyal Agar Tidak Terjungkal

PemimpinKesuksesan dan kegagalan tidak jarang berjarak setipis kulit bawang. Seorang atlet yang dikalungi medali emas Olimpiade esoknya menjadi bahan cemoohan publik sedunia karena ketahuan menenggak doping. Seorang presiden diganjar penghargaan intenasional di bidang pangan, beberapa bulan kemudian lengser karena dianggap sebagai biang krisis ekonomi di negerinya. Seorang pengusaha kelas kakap mendadak dinyatakan bangkrut. Seorang rohaniman terkemuka tergelincir dalam skandal seksual.

Kabar buruknya, tragedi semacam itu bisa menimpa siapa saja, di bidang apa saja. Tidak ada seorang pun yang kalis dari ancamannya. Kabar baiknya, kerontokan semacam itu biasanya tidak terjadi secara serta-merta. Seperti lalu lintas, sepanjang jalan ada sinyal-sinyal peringatan. Mematuhinya bisa menolong kita terhindar dari kecelakaan; menutup mata tak ayal membuat kita terjungkal.

Mark Sanborn, seorang pembicara profesional dalam bidang kepemimpinan, manajemen perubahan, layanan pelanggan dan kerjasama tim, menelaah enam sinyal tanda bahaya yang perlu diwaspadai para pemimpin.

#1 Pergeseran Fokus
Pergeseran ini bisa bermacam-macam bentuknya. Tak jarang pemimpin tak tahu lagi mana yang penting dan patut diprioritaskan. Bisa pula pemimpin yang mestinya “berpikir besar” malah terjebak mengutik-utik perkara remeh (micro-managing).
Pemimpin yang lebih berkonsentrasi “melakukan” daripada “menjadi” juga telah bergeser fokusnya. Hasil kerja seorang pemimpin biasanya mengalir dari visi dan karakternya. Pemimpin yang terlalu berorientasi pada tindakan pada gilirannya akan melalaikan pentingnya pengembangan pribadi.
Apakah fokus utama anda saat ini? Apakah pemikiran anda berkembang atau mengerut? Jawaban atas pertanyaan ini menandakan apakah fokus kepemimpinan anda terarah pada tempatnya.

#2 Komunikasi Buruk
Fokus yang tidak jelas membuahkan disorientasi, dan berujung pada komunikasi yang buruk. Kalau pemimpin bingung dan tidak yakin akan tujuannya, tak jarang ia menyelubunginya dengan komunikasi yang samar-samar. Lalu, bagaimana pengikutnya diharapkan dapat memahaminya dengan baik?
Pengikut yang berdedikasi dituntut secara otomatis dapat “mencium” tujuan pemimpinnya tanpa harus diberi tahu. Kesalahpahaman dipandang sebagai kurangnya komitmen si pengikut, bukannya akibat komunikasi yang keruh dari si pemimpin. Ini tentu tidak fair.
Komunikasi yang baik menuntut kerja keras. Pemimpin kudu memahami benar-benar tujuannya untuk memiliki titik pijak bagi komunikasi yang efektif.

#3 Keengganan Mengambil Risiko
Sukses terdahulu, alih-alih menjadi modal untuk meraih sukses selanjutnya, kemungkinan justru membebani langkah pemimpin. Bagaimana mempertahankan kinerja yang hebat itu? Bagaimana mencetak lagi sukses serupa, atau sekalian yang lebih baik? Ia pun lebih dibayang-bayangi oleh ketakutan akan kegagalan daripada dipantik oleh impian akan sukses.
Akibatnya, mereka enggan untuk mengambil risiko yang perlu, dan cenderung bermain aman. Keinginan untuk menjajal inovasi juga memudar.
Apa yang lebih penting bagi anda: jerih upaya atau hasil akhir? Bila diperlukan, masih bersediakah anda mengambil risiko? Pemimpin yang arif tidak menempuh perubahan secara nekad sehingga berisiko menghancurkan pencapaian terdahulu; tidak pula dilumpuhkan oleh ketakutan sehingga terancam menjadi mandul.

#4 Kegoyahan Integritas
Kredibilitas pemimpin berangkat dari kompetensi dan karakternya. Bila kedua aspek ini tidak selaras, integritas pemimpin pun dipertanyakan.
Padahal, prinsip pokok pemimpin tak lain adalah integritas. Ketika integritas tidak lagi diprioritaskan, ketika kompromi etika dibenarkan, ketika tujuan menghalalkan cara – saat itulah pemimpin tergelincir menuju tubir kegagalan.
      Dalam kondisi itu, pengikut cenderung hanya dianggap sebagai bidak, sekadar kendaraan untuk mencapai tujuan. Kepemimpinan berubah menjadi manipulasi, orang diperdayakan bukannya diberdayakan, dan pemimpin pun kehilangan empati terhadap pengikutnya.
      Keteguhan integritas, dengan demikian, perlu terus-menerus dicermati. Adakah konflik antara keyakinan anda dan perilaku anda? Apakah anda mulai membiarkan kompromi berlangsung? Sangat bagus bila pemimpin senantiasa membuka diri pada mentor atau penasihat yang kompeten untuk mengarahkannya dalam keselarasan tata susila.

#5 Self-Management Buruk
Kepemimpinan itu memang menggairahkan, namun sekaligus sangat menguras stamina. Masalahnya, pemimpin kerap dipandang sebagai superman dengan cadangan energi tanpa batas. Tanda-tanda keletihan dan stres lalu sering ditepiskan begitu saja – atau dikompensasi dengan “hiburan” yang menabrak pagar etika dan moralitas.
Pemimpin yang mengabaikan kebutuhan fisik, psikologis, emosional, dan spiritual mereka, mesti siap-siap menghadapi bencana. Seperti bahan bakar, bila jarum penunjuk mendekati titik “kosong”, berarti anda memerlukan penyegaran kembali dan pengisian ulang. Luangkan waktu khusus untuk memulihkan kembali kondisi anda. Kepemimpinan anda hanya dapat bertumbuh dan berkembang bila bahan bakar anda penuh.

#6 Kehilangan “Cinta Pertama”
Kepemimpinan berangkat dari cinta dan impian, suatu visi yang menggugah seseorang untuk mendedikasikan hidup demi mewujudkannya. Dengan landasan itu, kerja keras dalam kepemimpinan justru mendatangkan kepuasan dan bahkan menyenangkan.
Sayangnya, pemimpin tak luput dari sindroma “panas-panas cirit ayam”. Di tengah jalan ia bisa kehilangan gairah dan motivasi, “cinta pertama” yang menggerakkan mereka pada mulanya, dan merasa sedang menjalani sesuatu yang kurang berarti.
Untuk menjaga kobaran cinta pertama tersebut, pemimpin perlu acap merenungkan: Kenapa saya dulu bersedia memangku kepemimpinan? Adakah alasan itu telah berubah? Apakah saya masih ingin memimpin?
      Dengan mencermati keenam sinyal di atas, dan menanggapinya secara tepat, kita dapat terlepas dari kejatuhan yang menyakitkan. Seperti menghadapi penyakit, bukankah lebih baik mencegah daripada mengobati? ***

Leave a Reply