Archive for October, 2007

Warrior: Sepatu untuk Sahabat

Wednesday, October 31st, 2007

Warrior Mulanya sebuah cerpen yang dimuat di Hai pada 1980-an. Tanggal pasti tidak terlacak. Nomor bukti koleksiku hilang.

Sempat kutawarkan sinopsisnya untuk dijadikan FTV. Tidak terpilih. Tapi, aku jadi belajar bikin skenario, dan membayang-bayangkan bagaimana cerita itu mesti diperpanjang untuk dibuat film paling tidak sepanjang 1 jam.

Pada 2007, cerpen itu dimasukkan dalam antologi Lintasan Cinta (PBMR ANDI).

Untuk hadiah ultah pribadi dan ultah pernikahan, Juli 2007, aku tergoda memanjang-manjangkannya seperti yang kubayangkan dalam rancangan skenario FTV, namun dalam bentuk novel (novelet). Sekitar seminggu, jadilah cerpen panjang 50 halaman.

16 Juli 2007. Nekat kukirim karya itu ke GPU. Incar ikan besar saja sekalian, pikirku.

Tertanggal 29 Agustus, datanglah balasan dari Donna Widjajanto, editor fiksi GPU. Komentarnya, "naskah tersebut cukup bagus, menyentuh, dan gaya bahasanya lancar", namun "terlalu pendek". Dan, ia menantangku untuk mengembangkannya paling tidak dua kali lipatnya: menjadi 100-150 halaman!

Waladalah, dua kali lipatnya? Nggak salah tuh? Maksudnya, aku sadar plot ceritaku itu tipis banget. Sudah untung bisa molor jadi 50 halaman. Mau bagian mana lagi yang dimolorkan?

Untunglah saat itu lagi baca Mantra Pejinak Ular-nya Kuntowijoyo, Laskar Pelangi-nya Andrea Hirata, Imperia dan Nagabonar Jadi 2-nya Akmal Nasery Basral. Dari Kuntowijoyo, aku belajar menyisipkan bahan-bahan campursari yang seakan tak mendukung cerita, namun toh tetap asyik dibaca (cerita wayang, pandangan Abu Kasan Sapari tentang alam, sajak-sajak cintanya, dsb). Laskah Pelangi memusingkan sebagai novel, tapi bahannya memang gila. Nah, kenapa tidak sekalian kuaduk-aduk nostalgia masa SMP dan situasi-kondisi Ngadirejo tahun 1984 (latar ceritaku)? Akmal mengajarku kesabaran melukiskan detail.

Dengan ajian yang setidaknya kupelajari dari ketiga jagoan tadi, kurombak Warrior. Kukebut. Jadilah naskah sepanjang 106 halaman, dan pada 16 Oktober sudah siap kukirim balik.

Tanggal 16 Oktober kuterima email dari Donna yang mengabarkan bahwa, dengan sejumlah revisi minor di sana-sini, naskah itu layak terbit.

Dhuh Gusti, matur nuwun sanget — novelet pertamaku siap terbit!

Maka, kususun blog "sepatu warrior" untuk merekam jejak perjalanannya.

Pemenang Itu Kagak Ada Matinya!

Wednesday, October 31st, 2007

Pemenang

Adrenalin kita ikut terpacu saat pembalap favorit kita melesat dalam persaingan ketat di lintasan F1. Kita terpaku di tempat duduk ketika sang superhero terlibat dalam konflik pamungkas yang akan meneguhkan kembali kedigdayaannya. Kita melakukan standing ovation bagi para pahlawan dan pemenang. Dan, tak dapat disangkal pula, kita tentu berhasrat untuk dapat berdiri dalam deretan mereka yang berjaya.

Kita dilahirkan dengan DNA pemenang. Ini bukan sekadar naluri untuk bertahan hidup dan menjungkalkan lawan dalam survival of the fittest. Kemenangan ini justru lebih terarah pada kesadaran akan tujuan hidup, dan kebulatan hati untuk menggenapinya – betapapun mahal harga yang mesti dibayar.

Lalu, kenapa tak sedikit orang yang menjadi pecundang dalam hidup ini? DNA pemenang memang bukan benih yang siap tumbuh dan berkembang dengan sendirinya. Di dunia yang tidak sempurna ini, rumput liar lebih gampang tumbuh daripada padi. Begitu juga, agar tidak dicekik oleh apatisme, DNA pemenang perlu dipupuk dan dirawat.

Sikap-sikap apa saja yang kondusif untuk mengembangkan DNA pemenang kita? Berikut ini empat di antaranya. Yang pasti, dituntut disiplin, komitmen dan kosistensi kalau kita ingin melihat hasilnya.

Endurance
Musuh utama seorang pemenang tak lain adalah dirinya sendiri. Loyo, gampang menyerah, enggan mencoba lagi, trauma gagal – semua itu akan menghimpit benih-benih kemenangan. Orang yang gigih, sebaliknya, akan berjuang untuk “mematikan diri sendiri”: melepaskan sikap yang cengeng dan ambisi yang egois guna mengejar tujuan hidup yang bermakna.
Ketabahan juga berarti mencurahkan energi dan upaya sebaik-baiknya dalam menyelesaikan tugas yang dipercayakan dan menggapai visi yang dicanangkan. Ketabahan bersumber dari kecintaan pada apa yang kita lakukan dan kesadaran akan berharganya tujuan yang kita kejar. Dengan begitu, kita secara sadar memilih untuk melakukan sesuatu secara benar dan secara sungguh-sungguh.

Being Energy-Giver
Adalah lebih baik memberi daripada menerima. Kedewasaan, dan potensi kemenangan kita, ditentukan pula oleh kesediaan dan kemurahan hati dalam memberi. Para pecundang hidup dengan membuang-buang energi (energy-waster), dengan bersikap pasif dan menunggu kesempatan emas mendatangi mereka. Atau, lebih parah, mereka malah menyedot energi orang-orang di sekelilingnya (energy-taker), dengan bersikap egois, suka mengecam, dan enggan diperintah.
Adapun energy-giver, mereka membuat hidup lebih hidup. Ucapan, tindakan, dan sikap mereka membangkitkan semangat orang lain. Antusiasme mereka menular. Mereka sadar betul, dengan memberi mereka tak akan pernah kekurangan. Memberi adalah investasi. Karena apa yang mereka tabur, akan mereka tuai dengan berlimpah.

Joyfulness
Joy (sukacita) berbeda dari happiness (kebahagiaan). Kebahagiaan bersifat sementara, dan ditentukan oleh keadaan sekitar. Adapun sukacita meluap dari dalam, lebih kokoh dan lestari. Sukacita beranjak dari keasadaran akan kasih ilahi tanpa syarat (agape) — kesadaran bahwa kita dihargai, disukai dan diterima apa adanya oleh Pencipta kita, bahwa kita leluasa untuk menjadi diri kita sendiri. Sukacita selanjutnya menggugah dedikasi karena dengannya kita menyadari betapa hidup ini sebuah anugerah yang berharga.
Seorang pemenang mengelakkan godaan untuk mengejar pemuasan seketika dan sesaat. Dengan sukacita sebagai bahan bakar, ia menjalani hidup dengan kesadaran “membangun” – kesadaran bahwa “kehidupan saya sedang mengembangkan, melakukan, dan mencapai sesuatu yang bermakna”. Kegagalan, karenanya, tak pernah jadi kata terakhir baginya; kegagalan justru mengurangi alternatif yang salah dan kian mendekatkan kita pada pilihan yang benar.

Hopefulness
Hidup kerap bergulir tak terduga. Saat kita sudah berupaya sebaik-baiknya, mendadak ada pelaku kejahatan menjarah aset kita, atau musibah menghancurkan bisnis kita, atau penyakit melumpuhkan kita. Kehidupan kadang secara brutal menyajikan kegetiran.

Seorang pemenang mengelak untuk menjadi pahit, atau terjerembab ke dalam fatalisme, atau bersandar pada optimisme muluk. Ia melihat adanya bigger picture di balik setiap kejadian. Ia menyadari keterbatasan dirinya, dan mengandalkan kebaikan Tuhan yang berdaulat. Dengan pengharapan, ia mencari sisi terbaik dan kemungkinan hasil atau jalan keluar terbaik, lalu mengupayakan yang terbaik untuk mewujudkannya.

Singkatnya, seorang pemenang itu nggak ade matinye! ***

Pencarian Jati Diri Seorang Pembunuh

Wednesday, October 31st, 2007

Bourne

Siapakah aku? Mengapa aku ada di sini? Dari manakah aku berasal? Ke mana aku akan pergi? Pertanyaan mendasar seputar kehidupan seperti itu biasanya muncul dalam wacana filsafat atau khotbah. Kalaupun diangkat dalam film, film seriuslah yang akan memaparkannya.

Benarkah? Nyatanya, film laga pun bisa membesutnya dengan memikat. Petualangan Jason Bourne, mata-mata pembunuh terlatih CIA, melacak jati dirinya menjadi benang merah menawan dalam The Bourne Identity (2002) dan The Bourne Supremacy (2004). Keduanya menangguk lebih dari 500 juta dolar dalam box office global.

Penonton yang penasaran akan akan menemukan jawaban pencarian itu dalam The Bourne Ultimatum, yang kembali disutradari Paul Greengrass (The Bourne Supremacy, United 93). Petualangan Bourne dimulai dengan ”kelahiran kembali” dalam Identity. Gara-gara gagal menjalankan misi, ia ditembak dan dibiarkan mengambang di lautan. Ternyata ia bisa masih hidup, namun telah kehilangan memori. Petunjuk identitas yang dimilikinya hanyalah chip yang tertanam pada pinggangnya, dan kenyataan bahwa dia menjadi buron CIA.

Dalam film ketiga ini, Jason Bourne (Matt Damon) berusaha membongkar masa lalu, agar dapat menemukan masa depan. Ia masih dikejar-kejar mantan bosnya. Dari wartawan Guardian, Simon Ross (Paddy Considine), ia mengetahui tentang operasi hitam CIA yang disebut Black Briar. Organisasi ini tak lain adalah pengembangan dari Threadstone, program yang telah mengubah Bourne menjadi mesin pembunuh dahsyat. Setelah kehilangan memori dan kehilangan kekasih, kini Bourne mesti berhadapan dengan gerombolan pembunuh dengan pelatihan yang jauh lebih canggih, di bawah komando Noah Vosen (David Strathairn). Dalam menepiskan musuh-musuhnya, Bourne berkelebat dari Moskow, Paris, Madrid, London, Tangier hingga New York City.

Nasib Jason Bourne barangkali mengingatkan anda pada sosok pahlawan lain yang juga mengabdi pada pemerintahnya. Ia mengabdi pada atasannya dengan setia dan mematuhi perintah-perintahnya. Namun, hati nuraninya terganggu oleh perilaku sang atasan. Ujungnya, ia menjadi pelarian, dikejar-kejar oleh bosnya yang bersenjata lengkap. Ya, seperti disinggung Jeffrey Overstreet, Bourne mirip dengan Daud yang diburu oleh Raja Saul. Kisah lama itu ternyata masih menggetarkan.

Nama Jason Bourne kebetulan juga seinisial dengan mata-mata pembunuh lain, James Bond. Namun, kesamaan itu hanya berhenti sampai di situ. Dalam sebuah wawancara, Matt Damon menegaskan kontras di antara keduanya. Menurut Damon, Bond itu ”seorang imperialis dan dia itu misoginis. Ia membunuh orang dan tertawa dan menenggak martini dan bergurau tentang hal itu.” Sebaliknya, ”Bourne itu pria yang paranoid. Ia buronan. Ia bukan agen pemerintah. Pemerintah memburu dia. Ia penganut monogami yang mencintai pacarnya yang sudah meninggal dan terus-menerus memikirkannya. Ia benar-benar berlawanan dengan James Bond.”

Bourne memang telah diprogram untuk menjadi pembunuh tanpa nurani, namun nyatanya program paling canggih pun tak sanggup membungkam nuraninya. Kepatuhan terhadap atasan, bagi Bourne, rupanya tak identik dengan mengkompromikan apa yang benar. Bandingkan dengan tentara yang menembaki rakyat lantas berlindung dalam dalih ”sekadar melakukan komando atasan”.

Pencarian jati diri Bourne lalu sekaligus menjadi perjalanan penebusan atas dosa dan kejahatannya pada masa lalu. Dan, semuanya itu dituturkan lewat sebuah film laga! ***

Family First: Kaya, dan Bahagia, dengan Keluarga

Wednesday, October 31st, 2007

Bagaimana menyeimbangkan bisnis dengan keluarga? Itu pertanyaan yang kerap menggelitik, namun sebenarnya salah bidik. Upaya menyeimbangkan keduanya ibarat berusaha menyenangkan dua bos sekaligus. Mustahil. Salah satunya tak ayal akan terjungkal. Dan biasanya yang jadi korban adalah keluarga. Padahal, seperti diingatkan Johann Wolfgang van Goethe, “Perkara yang paling berharga jangan sekali-kali dikorbankan demi perkara yang kurang berharga.”

Pokok soalnya bukanlah keseimbangan, melainkan prioritas. Prioritas menanyakan: Apa yang paling bernilai dalam hidup ini? Relasi atau prestasi? Sukses atau signifikansi? Pada titik ekstrem, misalnya, mana yang Anda pilih: bisnis yang bangkrut atau keluarga yang amburadul?

Empat nama berikut ini mewakili mereka yang berkarir menjulang, dan kehidupannya keluarganya boleh dijadikan teladan.

Fabio Cannavaro
Gaji: 38.000 poundsterling/minggu

Ia sempat dijuluki sebagai “Pemain Paling Seksi”. Bukan hanya itu, prestasinya di lapangan juga tak kalah mengundang decak kagum. Maradona menyebutnya sebagai pemain terhebat dalam ajang Piala Dunia 2006. Itulah Fabio Cannavaro, pesepakbola Italia yang ditabalkan sebagai Pemain Terbaik Eropa 2006.

Pemain top Italia banyak yang dikenal sebagai playboy. Namun, rupanya Cannavaro termasuk kekecualian. Meskipun gadis-gadis tergila-gila padanya, ia memilih setia pada istrinya, Daniela, yang telah memberinya tiga orang buah hati. Ia meminang Daniela dengan menuliskan kata-kata cintanya di sebuah dinding. Saat diganjar Ballon d’Or, ia mengatakan, “ Saya mendedikasikan Bola Emas ini untuk istri saya.”

Lebih dari itu, keluarga mereka juga tampil sebagai panutan. Kisah cinta dan kehangatan keluarga ini kerap disoroti media sehingga mereka menjadi sosok “keluarga idaman” di Italia, khususnya di Naples, daerah asal Cannavaro.

John Grisham
Pendapatan 2006: 21 juta dollar

Bila jadwalnya bertabrakan, mana yang akan Anda hadiri: penandatanganan buku terbaru Anda atau pertandingan bola anak Anda? “Saya akan nonton anak saya,” jawab John Grisham, novelis kisah-kisah thriller berlatar dunia hukum itu. Ia mengatur tur bukunya agar tidak mengganggu kesempatannya mendampingi anak. “Anak membantu Anda tetap membumi. Bagaimanapun sukses, ketenaran, ego, apapun, anak-anak punya cara untuk mengingatkan bahwa bisa jadi Anda tidaklah sehebat yang Anda bayangkan,” jelasnya.

Perhatian terhadap istri dan anak-anak itu buah didikan keluarga. Ia dibesarkan dalam keluarga Southern Baptist dengan orang tua yang senantiasa siap sedia. “Itu sudah menjadi gaya hidup,” katanya.

Komitmen terhadap keluarga ini, ditunjang pula oleh latar imannya, mendorongnya melahirkan novel-novel yang “bersih”, tidak mengobral adegan seks, kekerasan, dan kata-kata jorok. Karenanya, ia kurang cocok dengan perlakuan Hollywood saat mengadaptasi karyanya.

Pengarang terlaris sepanjang 1990-an ini kembali masuk ke daftar Top 100 Celebrities Forbes 2006 setelah novel muktahirnya, The Broker, laku 1,8 juta eksemplar di AS. Ia juga menjajal ranah nonfiksi dengan buku terbarunya, The Innocent Man (2006).

DenzelwifeDenzel Washington
Pendapatan 2006: 38 juta dolar

Ayah dan ibunya bercerai saat Denzel berusia 14 tahun. Sebuah guncangan besar bagi keluarga yang taat beribadah itu (ayahnya pendeta), dan sempat memantik amarah dalam diri Denzel remaja. Nyatanya, luka tak perlu jadi trauma. Kejadian pahit itu justru membangkitkan tekadnya untuk membangun keluarga yang kokoh.

Kini, Denzel Washington dikenal sebagai aktor kulit hitam pertama dalam generasinya yang berhasil menerobos jajaran aktor papan atas Hollywood. Bukan hanya sosoknya yang memikat pemirsa multiras, keliatan aktingnya juga terasah. Lima kali ia masuk unggulan Oscar, dan melenggang dengan dua kemenangan lewat Glory (1989, Aktor Pendukung Terbaik) dan Training Day (2001, Aktor Terbaik).

Dalam gelimang sukses itu, keluarga menjadi pangkalan yang menjaga keteguhannya. “Saya selalu berusaha mengajak keluarga saya ikut setiap kali saya berhadapan dengan publik,” katanya. Bukan saja karena ia mencintai mereka, namun juga sebagai “suatu upaya kecil untuk menunjukkan bahwa orang kulit hitam pun bisa membangun keluarga.” Ia ingin mengikis stereotip keluarga kulit hitam berorang tua tunggal.

Sebagai pecinta keluarga, ia meluangkan waktu untuk menonton pertandingan anak-anak, mencicipi masakan istri, dan merayakan hari besar. Mereka juga taat beribadah, dan menyumbangkan sebagian pendapatan bagi gereja dan badan sosial. Saat berkunjung ke Afrika pada 1995, ia dan Pauletta memperbarui ikrar pernikahan mereka dilayani Uskup Agung Desmond Tutu. “Saya sebagaimana adanya saya saat ini karena anugerah Tuhan,” tutur Washington.

Stephen Covey
Pendapatan: tidak diketahui

Nama Stephen Covey sebagai pembicara dan penulis motivasional meroket saat The 7 Habits of Highly Effective People menjadi international bestseller. Oleh Forbes, buku itu dicantumkan dalam daftar 10 buku manajemen paling berpengaruh. Pada 1996, Time menyebutnya sebagai salah satu dari 25 orang paling berpengaruh. Buku terbarunya The 8th Habit: From Effectiveness to Greatness juga kembali berderet di jajaran bestseller.

Di antara berbagai pencapaian dan penghargaan itu, yang paling menyentuh hatinya adalah National Fatherhood Award yang diterimanya pada 2003. Sebagai ayah 9 anak dan kakek 44 cucu, dari pernikahan yang sudah bertahan 50-an tahun, keluarga tetap menduduki tempat utama dalam hidupnya.

“Semuanya terpulang pada prioritas,” katanya. “Tak peduli betapapun sibuknya saya, tim saya tahu bahwa telepon dari istri atau anak-anak saya harus selalu disampaikan kepada saya.”
Ia menerapkan kebijakan serupa bagi stafnya – mendahulukan keluarga lebih dari pekerjaan. Dan keluwesan ini nyatanya menguntungkan. Stafnya rela berupaya melampaui yang diharapkan guna menuntaskan pekerjaan. ***

sumber: Kompas, Wikipedia, Forbes.com, dll.

Kegigihan Menhapus Perbudakan

Wednesday, October 31st, 2007

Amazing

Sebuah cita-cita, dan perlu waktu 20 tahun untuk memperjuangkannya. Berlangsung di arena politik, yang cenderung diwarnai aneka intrik dan pergulatan kekuasaan, pencapaian tersebut kian mengesankan.

Itulah prestasi William Wilberforce, anggota Parlemen dan aktivis reformasi moral di Inggris pada abad ke-18. Selama 20 tahun ia mengikhtiarkan penghapusan perdagangan budak di negeri adidaya abad itu. Upayanya ini dilandasi nilai-nilai kristiani dan dijalani dengan kegigihan, ketabahan, dan visi yang terfokus. Kisah Wilberforce inilah yang diusung menjadi film Amazing Grace.

Film garapan Michael Apted ini dirilis pada 23 Februari 2007, bertepatan dengan ulang tahun ke-200 keputusan Parlemen Inggris melarang perdagangan budak di seluruh koloninya. Undang-undang itu tak lain buah jerih payah William Wilberforce (Ioan Gruffudd) bersama kaum abolisionis (penentang perbudakan) pendukungnya. Film ini menyoroti kejadian-kejadian penting sepanjang 25 tahun perjuangan Wilberforce, dari 1782 sampai 1807.

Saat itu perdagangan budak mencakup ribuan orang Afrika, ratusan kapal, dan jutaan poundsterling. Bisa dikatakan, perbudakan menjadi tulang punggung perekonomian Inggris dan sebagian besar Eropa. Tidak banyak orang tahu tentang “Jalur Tengah” melintasi Atlantik, yang diperkirakan memakan korban satu dari setiap empat orang Afrika. Para budak hanya dianggap sebagai “properti”, tak berbeda dari kuda.

Perbudakan bukan dipandang sebagai perkara moral, melainkan sekadar urusan bisnis. Tak ayal pihak-pihak yang berkepentingan secara sengit menentang kampanye Wilberforce. Penentang utamanya adalah Lord Tarlton (Ciaran Hinds) dan Duke of Clarence (Toby Jones). Adapun pendukung Wilberforce tak kurang dari William Pitt (Benedict Cumberbatch), sahabatnya yang saat itu menjadi Perdana Menteri, dan John Newton (Albert Finney), penulis lagu ”Amazing Grace”, yang dijadikan judul film ini.

Amazing Grace dapat dijadikan pelajaran berharga bagi para politisi, mereka yang menyebut diri sebagai wakil rakyat dan wakil rakyat. Politik cenderung dicurigai sebagai gelanggang yang kotor dan hanya dijadikan ajang pertarungan kekuasaan dan ambisi pribadi atau partai.

Dalam diri William Wilberforce kita melihat sesosok politikus yang bergerak oleh visi dari Tuhan. Ia bukan sekadar tebar pesona, namun bersungguh-sungguh tebar kinerja – bila perlu dengan melawan arus pendapat umum yang tidak berpihak pada keadilan.

”Akankah kau menggunakan suaramu untuk memuji Tuhan atau mengubah dunia?” tanya William Pitt suatu ketika. Wilberforce pun memakai kemampuannya berorasi untuk mendesakkan pembebasan kaum yang tertindas, dalam hal ini para budak. Politik, nyatanya, bisa didayagunakan untuk memperjuangkan kesejahteraan umum.

Melalui Wilberforce kita juga mendapatkan contoh kepahlawanan yang belakangan ini memudar. Yang banyak disoroti media, tokoh-tokoh yang dipahlawankan dewasa ini, tak jarang hanyalah selebritas di bidang entertainment, olah raga, dan ya, politik dan militer.

Kita kesulitan menemukan sosok-sosok berkarakter unggul yang memperlihatkan bagaimana menjadi manusia seutuhnya itu. Sosok yang teguh berdiri membela prinsip moral meskipun mesti menghadapi konflik, kebencian, kekerasan, dan perlawanan. Kapan terakhir kali kita menjumpai pahlawan moral yang sumbangsihnya sungguh-sungguh mengubahkan kehidupan umat manusia? ***

6 Sinyal Agar Tidak Terjungkal

Wednesday, October 31st, 2007

PemimpinKesuksesan dan kegagalan tidak jarang berjarak setipis kulit bawang. Seorang atlet yang dikalungi medali emas Olimpiade esoknya menjadi bahan cemoohan publik sedunia karena ketahuan menenggak doping. Seorang presiden diganjar penghargaan intenasional di bidang pangan, beberapa bulan kemudian lengser karena dianggap sebagai biang krisis ekonomi di negerinya. Seorang pengusaha kelas kakap mendadak dinyatakan bangkrut. Seorang rohaniman terkemuka tergelincir dalam skandal seksual.

Kabar buruknya, tragedi semacam itu bisa menimpa siapa saja, di bidang apa saja. Tidak ada seorang pun yang kalis dari ancamannya. Kabar baiknya, kerontokan semacam itu biasanya tidak terjadi secara serta-merta. Seperti lalu lintas, sepanjang jalan ada sinyal-sinyal peringatan. Mematuhinya bisa menolong kita terhindar dari kecelakaan; menutup mata tak ayal membuat kita terjungkal.

Mark Sanborn, seorang pembicara profesional dalam bidang kepemimpinan, manajemen perubahan, layanan pelanggan dan kerjasama tim, menelaah enam sinyal tanda bahaya yang perlu diwaspadai para pemimpin.

#1 Pergeseran Fokus
Pergeseran ini bisa bermacam-macam bentuknya. Tak jarang pemimpin tak tahu lagi mana yang penting dan patut diprioritaskan. Bisa pula pemimpin yang mestinya “berpikir besar” malah terjebak mengutik-utik perkara remeh (micro-managing).
Pemimpin yang lebih berkonsentrasi “melakukan” daripada “menjadi” juga telah bergeser fokusnya. Hasil kerja seorang pemimpin biasanya mengalir dari visi dan karakternya. Pemimpin yang terlalu berorientasi pada tindakan pada gilirannya akan melalaikan pentingnya pengembangan pribadi.
Apakah fokus utama anda saat ini? Apakah pemikiran anda berkembang atau mengerut? Jawaban atas pertanyaan ini menandakan apakah fokus kepemimpinan anda terarah pada tempatnya.

#2 Komunikasi Buruk
Fokus yang tidak jelas membuahkan disorientasi, dan berujung pada komunikasi yang buruk. Kalau pemimpin bingung dan tidak yakin akan tujuannya, tak jarang ia menyelubunginya dengan komunikasi yang samar-samar. Lalu, bagaimana pengikutnya diharapkan dapat memahaminya dengan baik?
Pengikut yang berdedikasi dituntut secara otomatis dapat “mencium” tujuan pemimpinnya tanpa harus diberi tahu. Kesalahpahaman dipandang sebagai kurangnya komitmen si pengikut, bukannya akibat komunikasi yang keruh dari si pemimpin. Ini tentu tidak fair.
Komunikasi yang baik menuntut kerja keras. Pemimpin kudu memahami benar-benar tujuannya untuk memiliki titik pijak bagi komunikasi yang efektif.

#3 Keengganan Mengambil Risiko
Sukses terdahulu, alih-alih menjadi modal untuk meraih sukses selanjutnya, kemungkinan justru membebani langkah pemimpin. Bagaimana mempertahankan kinerja yang hebat itu? Bagaimana mencetak lagi sukses serupa, atau sekalian yang lebih baik? Ia pun lebih dibayang-bayangi oleh ketakutan akan kegagalan daripada dipantik oleh impian akan sukses.
Akibatnya, mereka enggan untuk mengambil risiko yang perlu, dan cenderung bermain aman. Keinginan untuk menjajal inovasi juga memudar.
Apa yang lebih penting bagi anda: jerih upaya atau hasil akhir? Bila diperlukan, masih bersediakah anda mengambil risiko? Pemimpin yang arif tidak menempuh perubahan secara nekad sehingga berisiko menghancurkan pencapaian terdahulu; tidak pula dilumpuhkan oleh ketakutan sehingga terancam menjadi mandul.

#4 Kegoyahan Integritas
Kredibilitas pemimpin berangkat dari kompetensi dan karakternya. Bila kedua aspek ini tidak selaras, integritas pemimpin pun dipertanyakan.
Padahal, prinsip pokok pemimpin tak lain adalah integritas. Ketika integritas tidak lagi diprioritaskan, ketika kompromi etika dibenarkan, ketika tujuan menghalalkan cara – saat itulah pemimpin tergelincir menuju tubir kegagalan.
      Dalam kondisi itu, pengikut cenderung hanya dianggap sebagai bidak, sekadar kendaraan untuk mencapai tujuan. Kepemimpinan berubah menjadi manipulasi, orang diperdayakan bukannya diberdayakan, dan pemimpin pun kehilangan empati terhadap pengikutnya.
      Keteguhan integritas, dengan demikian, perlu terus-menerus dicermati. Adakah konflik antara keyakinan anda dan perilaku anda? Apakah anda mulai membiarkan kompromi berlangsung? Sangat bagus bila pemimpin senantiasa membuka diri pada mentor atau penasihat yang kompeten untuk mengarahkannya dalam keselarasan tata susila.

#5 Self-Management Buruk
Kepemimpinan itu memang menggairahkan, namun sekaligus sangat menguras stamina. Masalahnya, pemimpin kerap dipandang sebagai superman dengan cadangan energi tanpa batas. Tanda-tanda keletihan dan stres lalu sering ditepiskan begitu saja – atau dikompensasi dengan “hiburan” yang menabrak pagar etika dan moralitas.
Pemimpin yang mengabaikan kebutuhan fisik, psikologis, emosional, dan spiritual mereka, mesti siap-siap menghadapi bencana. Seperti bahan bakar, bila jarum penunjuk mendekati titik “kosong”, berarti anda memerlukan penyegaran kembali dan pengisian ulang. Luangkan waktu khusus untuk memulihkan kembali kondisi anda. Kepemimpinan anda hanya dapat bertumbuh dan berkembang bila bahan bakar anda penuh.

#6 Kehilangan “Cinta Pertama”
Kepemimpinan berangkat dari cinta dan impian, suatu visi yang menggugah seseorang untuk mendedikasikan hidup demi mewujudkannya. Dengan landasan itu, kerja keras dalam kepemimpinan justru mendatangkan kepuasan dan bahkan menyenangkan.
Sayangnya, pemimpin tak luput dari sindroma “panas-panas cirit ayam”. Di tengah jalan ia bisa kehilangan gairah dan motivasi, “cinta pertama” yang menggerakkan mereka pada mulanya, dan merasa sedang menjalani sesuatu yang kurang berarti.
Untuk menjaga kobaran cinta pertama tersebut, pemimpin perlu acap merenungkan: Kenapa saya dulu bersedia memangku kepemimpinan? Adakah alasan itu telah berubah? Apakah saya masih ingin memimpin?
      Dengan mencermati keenam sinyal di atas, dan menanggapinya secara tepat, kita dapat terlepas dari kejatuhan yang menyakitkan. Seperti menghadapi penyakit, bukankah lebih baik mencegah daripada mengobati? ***

laskar pelangi memusingkan

Wednesday, October 31st, 2007

LaskarAku baru membaca Laskar Pelangi setelah dua tahun itu terbit dan menghebohkan dunia perbukuan Indonesia. Baru masuk Bab 9, aku sudah merasa pusing. Tentu saja apa yang hendak disampaikan oleh buku itu sangat bagus, namun cara Andrea Hirata menuturkannya jelas masih perlu diperhalus. “Bahan dasar” yang elok itu dikerjakan secara terburu-buru. Bagian-bagian tertentu lebih terbaca seperti ensiklopedia daripada bagian terpadu dari sebuah narasi (dalam hal ini, kekenesan Imperia–nya Akmal membubuhkan berbagai informasi tambahan yang sebenarnya bisa saja dipangkas bagaimanapun terasa lebih menggelinding dan menyatu dengan rangkaian kisah).

“Penyakit” paling menonjol dalam LP adalah kronologi yang tidak runtut. Andrea belum berhasil menyuling kenangannya dan menyajikannya dalam rangkaian yang enak diikuti urutannya. Bandingkan dengan buku-buku Little House atau cerita kenangan N.H. Dini yang lebih mengalir. Jadinya, kecermelangan sebelas anggota Laskar Pelangi memang menakjubkan, namun sekaligus serba menimbulkan pertanyaan: Dari mana asalnya? Kecerdasan yang ini (misalnya argumentasi Kucai saat enggan jadi ketua kelas lagi itu) terjadi pada saat mereka umur berapa? Kurun waktu dari kelas 1 SD sampai 3 SMP tidak dipilah-pilah dengan baik, tidak diceritakan tahap demi tahap. Gambaran Pak Harfan, misalnya. Semula saya kira hanya menampilkan kesan Ikal atasnya pada hari pertama masuk sekolah, namun rupanya kesan terhadap sosok kepala sekolah itu sepanjang masa sekolahnya. Ada juga judul bab yang terasa berlebihan: Perempuan-perempuan Perkasa. Ternyata, fokusnya hanya tertuju pada Bu Mus. Perempuan-perempuan lain hanya disinggung sambil lalu dalam satu paragraf awal.

Tampaknya Andrea Hirata hanya menulis memoar (?) ini untuk anggota Laskar Pelangi dan orang-orang yang mengenal masa kecilnya, yang tetap bisa relate meski penceritaannya melompat maju-mundur. Untuk disajikan bagi publik yang lebih luas, mestinya penyampaiannya ditata ulang. Kok bisa-bisanya disebut-sebut mengikuti jejak Pram? Alamak, jauh nian!

Aku jadi penasaran, kalau nanti LP jadi difilmkan, bagaimana penulis skenario akan menata kenangan Andrea Hirata itu – dengan bayangan, setiap anggota Laskar Pelangi paling tidak diperankan oleh dua aktor: satu untuk masa kecil (SD) dan satu lagi untuk masa remaja (SMP). Lebih enak diikutikah? ***