Archive for July, 2007
McClane Ketemu Nagabonar
Monday, July 9th, 2007
John McClane bukan superhero. Dia bukan Spider-man yang dicokot laba-laba mutan atau Superman yang diutus dari planet Krypton. Dia juga bukan jagoan tunggal ala Rambo yang jumawa dan seperti mesin. Dia hanya polisi yang lagi bermasalah dengan istrinya dan terjebak menghadapi aksi terorisme di gedung bertingkat. Dia hanya terpaksa melawan, dicekam kepanikan, sempat salah perhitungan, dan babak belur berdarah-darah, sebelum akhirnya jaya menendang si teroris. Dia, dengan kata lain, sosok yang membumi. Itulah sebabnya penonton keplok pada Die Hard (1988).
Setelah dua sekuel yang tak seindah aslinya, 20 tahun kemudian John McClane (masih diperankan Bruce Willis) beraksi lagi dalam Die Hard 4.0. Sudah tua tentu. Tapi, seperti kelapa, makin tua makin bersantan. Kini dia, yang telah bercerai dengan istrinya, bermasalah dengan putrinya, Lucy (Mary Elizabeth Winstead). Kini dia berhadapan dengan terorisme virtual, didalangi Thomas Gabriel (Timothy Olyphant) dan si cantik jago kung fu Mai (Maggie Q), yang membobol infrastruktur komputer AS yang rentan. Kini dia, yang gagap teknologi, tidak sorangan, tapi didampingi seorang hacker, Matthew Farrell (Justin Long), yang cukup cerdas memetakan pola pikiran si teroris. Selebihnya, aksi gila-gilaan mulai dari sedan versus helikopter hingga truk gandeng versus jet Harrier!
Menyaksikan duo McClane dan Matt, terpikir, ”Kalau sekuel Nagabonar dibuat jadi film laga, mungkin kayak gini jadinya!” Tak percaya? Lihat saja kesejajarannya. Ada kesenjangan antargenerasi (McClane dilecehkan musuhnya sebagai ”jam analog di era digital”) dan hubungan bapak-anak. Ada nasionalisme (aksi teror itu dilakukan menjelang Hari Kemerdekaan AS). Dan, ada ironi kepahlawanan (ini yang memudar di Nagabonar Jadi 2).
Apa artinya jadi pahlawan? Itu, kata McClane pada Matt, membuat kamu ditembaki, dicerai oleh istrimu, dan anakmu tak sudi memakai nama belakangmu. Kenapa kamu melakukannya? Karena orang lain tidak mau melakukannya. Definisi yang tak muluk-muluk. Menohok malah. Yippie-ki-yay!
Ah, jadi ingat Ester, yang ”mungkin justru untuk saat yang seperti ini engkau beroleh kedudukan sebagai ratu.” Juga jadi ingat Yesus, yang ditinggalkan murid-murid-Nya justru saat Ia sedang mendaki Golgota. ***
A hero is one who does what he can. The others don’t. –Romain Rolland
