Prasmanan Seksualitas Indonesia

3hari Arisan! mengulik topik homoseksualitas. Berbagi Suami menyoroti poligami. Kini, 3 Hari untuk Selamanya menyajikan semacam prasmanan aneka isu seksualitas sebagaimana dilihat dan dialami sepasang remaja menjelang dewasa dalam perjalanan dari Jakarta ke Yogyakarta.

Untuk menginventarisasi sajian prasmanan tersebut, maaf, terpaksa muncul spoiler. Di situ ada kakak yang takut kawin, namun terpaksa kawin karena desakan orang tua. Ada suami-istri yang sudah pisah ranjang sejak anak mereka masih kecil. Ada gadis yang bangga karena sudah ML sebelum menikah (gadis yang sudah tidak gadis?). Ada sepasang gay yang berpelukan setelah memasak mi. Ada suami-istri yang jebul masing-masing sudah bercerai dengan pasangan terdahulunya. Ada erotisme penari tayub. Ada pria beristri dua, yang mengaku terbiasa seranjang bertiga, dan edan-edanan menawari tamunya melakukan orgi (baru pertama ketemu sudah ngomong begituan?). Ada perjaka yang dianggap masih ting-ting, yang akhirnya kehilangan keperjakaannya. Ada Budhe yang ternyata telat kawin. Dan, astaga, ada pula inses! Kurang apa lagi coba?

Itulah panorama yang dilewati Yusuf (Nicholas Saputra) dan Ambar (Adinia Wirasti) dalam perjalanan tiga hari mereka – dan sesudahnya. Sebetulnya hanya Yusuf yang disuruh membawa dengan mobil seperangkat pecah-belah untuk uba rambe malam midodareni. Ambar ikut semobil dengannya karena ketinggalan pesawat gara-gara bangun kesiangan setelah semalaman disko (ya ampun, Home Alone amat! Masa tidak ada yang membangunkan dia!).

Sepanjang jalan mereka disuguhi – dan mencicipi – itu tadi: prasmanan seksualitas. Selebihnya, mereka berbincang dan bertengkar seputar kegalauan sebagai orang muda di ambang kedewasaan, jurang antargenerasi, pemberontakan, kegentaran akan masa depan, prinsip hidup, dan pertanyaan-pertanyaan tentang jati diri.

Pegangan mereka yang pasti adalah rokok-ganja, yang disedothembuskan secara intensif sepanjang film. Sedangkan pegangan hidup? Belum genah. Di satu bagian Ambar menyemprot Yusuf sebagai tidak tahu membedakan mana yang benar dan mana yang salah – tapi apa dia sendiri tahu? Di bagian lain Yusuf menyintingkan gaya hidup Pak Haji, namun dia pun akhirnya mengambil sebuah pilihan yang tak kalah sinting – yah, sebuah pilihan yang akan terus membekas untuk selamanya.

Itu drama pendewasaan yang dihidangkan Riri Riza. Tampil sebagai rentetan potret tanpa penilaian, namun sekaligus tanpa perenungan. Kamera dengan lincah, ditimpali musik yang menggeliat, menguntit Yusuf dan Ambar sampai kita intim dengan mereka, namun tak cukup untuk menyelami mereka. Dialog keduanya, termasuk imbuhan dialek tokoh lain, terasa hidup dan wajar, namun masih dalam taraf generik. Belum sampai pada tawaran refleksi yang berpotensi membekas untuk selamanya. Tak tersua tuturan berkilau ala metafora anggur dalam Sideways. Atau, rentetan obrolan cergas seperti dalam Before Sunrise dan Before Sunset. Barangkali karena Yusuf dan Ambar memang belum sedewasa itu – hanya sok dewasa, dengan beruntun merokok sampai blak-blakan ngomongin seks secara banal.

Di sektor akting, Adinia tampil lebih liat ketimbang Nico. Ia terlihat lebih urakan, rileks dan tanpa beban. Nico malah gagal menyorotkan gejolak birahi Yusuf: ia dingin dan lebih mirip orang yang berpikir keras (perhatikan saja adegan penari tayub itu).

Ngomong-ngomong, sesudah pengalaman sesignifikan itu, Yusuf dan Ambar putus hubungan begitu saja, tidak berusaha keep in touch, sampai mereka terkesiap ketika sembilan bulan kemudian (baru sembilan bulan, dude!) bertemu dalam pesta pernikahan kerabat yang lain lagi? Come on! (Eh, aku kok jadi pinter ngomong boso Inggris seperti Yusuf to?)

Ngomong-ngomong juga, perjalanan Jakarta-Yogya perlu tiga hari? Nginap di Bandung, di Tegal, dan di Sendangsono! Ini tidak tahu arah atau cuma mau piknik sambil menyepelekan tugas yang diemban? Untunglah piring-piring itu bernasib baik-baik saja. Mereka terpajang rapi di sebuah lemari yang kacanya retak akibat gempa.

Ah, ini memang bukan cerita tentang piring kok. Yusuf dan Ambarlah yang, diakui atau tidak, telah retak untuk selamanya – kecuali kalau mereka menemukan rahmat di tengah jalan. ***

One Response to “Prasmanan Seksualitas Indonesia”

  1. krismariana Says:

    aku sempet nonton film ini. emang rada2 prihatin sih pas nonton. jgn2 ini gambaran anak muda sekarang kali ya mas?

Leave a Reply