Selasa Malam, Gudeg, dan Mati Bujang
Wednesday, June 13th, 2007
Selasa Kliwon, 12 Juni 2007. Malam kian merangkak tua. Perut dikenyangkan oleh sajian Gudeg Sagan, gudeg basah yang menurutku paling mak nyus di Yogya; benak disegarkan dengan tukar cerita dan curah gagasan bersama rekan-rekan yang terkumpul. Ada rombongan dari FKY: Stevie, Gendhotwukir, Untoro, Aan, dan Mario Bo Niok, yang akan meluncurkan novelnya “Ranting Sakura” hari Sabtu. Ada suami-istri Ragil-Anindita. Aku mengajak kawan, Yosua. Yang mengundang kumpul-kumpul, dan dengan dermawan menraktir kami semua dari royalti novel barunya yang laris manis, Akmal NB, muncul belakangan. Ia diiringi Fajar Nugroho, sutradara muda yang passionate, dan Gangsar Sukrisno dari Bentang. Sudah bisa ditebak, obrolan pun berkisar seputar sastra, penerbitan, dan film. Gayeng.
Dari situ rombongan – minus Ragil-Anindita – meluncur ke Zerosith, studio ph di kawasan Nologaten. Menu berikutnya: “Mati Bujang Tengah Malam” (MBTM), film cerita terbaru besutan Fajar, yang masih dalam tahap editing. Kami diminta ramai-ramai mengomentari dan memberi masukan.
MBTM diolah dari cerpen berjudul sama yang ditulis Fajar pada 2005. Skenarionya digarap oleh Donny Prasetyo, yang malam itu juga hadir bersama sejumlah crew lain.
Nasib Armand, si bujang dalam kisah ini, tak ayal langsung nyambung dengan riwayat ratusan ribu sarjana pengangguran di negeri ini. Lulus cumlaude, namun selama tiga tahun terlunta-lunta, tak kunjung berhasil mendapatkan pekerjaan. Keluarga di rumah meminta dia pulang kampung saja. Pacarnya memutuskan hubungan secara sepihak. Lengkaplah kemalangan si Armand. Sampai pertemuan dengan seorang lelaki misterius menjungkirbalikkan dunianya.
Secara teknis, Fajar tampak makin mahir dengan medium tuturnya. Meski sisipan flashbacknya semula agak sulit diikuti, namun akhirnya cerita bergulir dengan mulus (untung pula aku sudah sempat membaca petilan skenarionya). Sudut-sudut pengambilan gambarnya lumayan berani dan bervariasi, seperti beberapa bird’s-eye-views. Menarik pula saat sosok Armand terpuruk di tengah bangku taman sementara lalu lintas di kiri-kanannya terus bergegas. Atau, Armand menghilang muncul di balik bis kota yang berseliweran dengan pakaian yang berganti-ganti. Bau dokumenter juga muncul, seperti dalam shot pengakuan Armand dan pemanfaatan voice over. Selebihnya, Yogyakarta, yang dalam benakku terkesan klasik dan tradisional, kini tampil molek dan metropolis. Oya, iringan musiknya asyik sebagai dengaran, namun terlalu riang untuk kisah yang gloomy ini.
Fajar menunjuk film-film seperti ”21 Grams” dan ”Babel” sebagai pemberi pengaruh pendekatan yang dipilihnya. Pengaruh itu tampaknya masih cair. ”21 Grams” menyajikan multiplot secara bersilangan, maju-mundur, bertubrukan, sampai di ujung film baru penonton bisa menemukan pertautannya. MBTM, meski disisipi sejumlah flashback, berplot tunggal, berfokus pada sosok Armand. Maka, ketika kisah si Armand sudah rampung, dan ternyata kita masih diberi penjelasan soal si lelaki misterius itu, film lalu terasa berpanjang-panjang. Namun, rupanya sutradara memang bukan melulu hendak menuturkan pilihan tragis Armand, melainkan mau menyoroti apa yang bisa disebut, kalau aku tidak salah menangkap ujaran Gangsar Sukrisno, konspirasi penggeseran isu media, dengan Armand sebagai salah satu korbannya. Malam itu aku menyebut ending MBTM sebagai twisting, namun yang lebih tepat tampaknya adalah shifting. Ya, karena skenario belum memberikan prabayang yang memadai dari sudut si lelaki misterius.
Yang istimewa dari film ini, sebagai nilai jualnya, tentu kehadiran Eross ’Sheila on 7’ Candra sebagai Armand dan Artika Sari Dewi sebagai Amelia, pacar Armand. Selain Garin, mana coba sutradara Indonesia yang berhasil menggaet Artika main film? Sampai dua kali lagi!
Akhirnya, kalau benar film ini tentang konspirasi penggeseran isu media, MBTM lalu memenuhi nubuatannya sendiri. Saat film ini dilempar ke pasar nanti, aktualitas keputusan yang diambil Armand di ujung film mungkin sudah kurang menyengat – tergeser oleh isu-isu lain. Namun, justru karena isu media terus berganti dengan cepat, bukankah kita perlu diingatkan akan isu tertentu yang memang penting? ***

Kumpulan cerpen keduaku, Lintasan Cinta, telah diterbitkan PBMR ANDI (2007). Isinya sembilan cerpen bertopik cinta, keluarga, dan persahabatan. Salah satunya “Maskumambang”, pemenang penghargaan Sayembara Mengarang Cerpen Femina 2006.