Archive for April, 2007

Kala: Di Tengah Gulita, Lahirlah Sang Penyelamat

Thursday, April 19th, 2007

KalaRamalan Jayabaya soal pengharapan akan Ratu Adil di tengah sebuah zaman edan. Harta karun terpendam peninggalan presiden pertama. Juga, masih belum lupa ‘kan isu harta karun di bawah Prasasti Batutulis, Bogor, yang melibatkan seorang menteri itu? “Sejarah mistis”, meminjam istilah seorang tokoh di film ini, dan isu-isu berbau klenik memang wacana khas negeri ini. Bukan cuma menjalar dari mulut ke mulut, namun menyeruak sampai menjadi bahan pemberitaan media massa.
Dan, tuturan mistis itu kini menjadi landasan kisah film thriller fantasy bergaya noir yang dibesut dengan gesit oleh Joko Anwar. Paduan kisah detektif, kisah hantu dalam balutan magic realism, kisah cinta yang singkat namun menyengat, dan kisah pencarian harta karun, Kala mengangkat bahan-bahan klenik tadi menjadi sebuah dongeng berkelas tentang kelahiran seorang superhero.
  Di sebuah negeri antah-berantah yang dibayangi chaos, seorang polisi bernama Eros (Ario Bayu) menyelidiki kematian lima laki-laki yang dibakar oleh massa. Janus (Fachri Albar), wartawan pengidap narkolepsi yang tengah dalam proses perceraian dengan istrinya (Shanty), meliput insiden tersebut untuk korannya.
Dalam upaya mewawancarai salah satu istri korban, tape recorder Janus berhasil merekam perkataan perempuan itu tentang sebuah tempat misterius. Perempuan itu sendiri tak lama kemudian mati mengenaskan tertabrak bis. Ketika akhirnya Janus bertemu dengan adik si perempuan, penyanyi kelab malam bernama Ranti (Fahrani), Janus diberitahu, perkataan dalam rekaman itu mengandung kutukan. Hanya satu orang yang boleh mengetahuinya. Kalau sampai ada orang kedua yang mengetahuinya, salah satu dari mereka harus mati. Korban telah jatuh, dan korban-korban lain siap menyusul.
Perkataan rahasia tersebut ternyata bertautan dengan, ya itu tadi: ramalan Jayabaya, harta karun yang disembunyikan oleh presiden pertama negeri itu, dan pengharapan akan munculnya seorang penyelamat bagi bangsa yang dilanda kekerasan, ketidakadilan dan keserakahan. Melalui penyelidikan, Eros akhirnya berhasil menguaknya. Namun, itu juga berarti, bagi dirinya dan Janus, salah satu dari mereka harus mati. Sebelum malaikat maut menjemput, mereka hanya bisa menunggu pertolongan dari sang penyelamat, Ratu Adil yang dinanti-nantikan.
Joko Anwar, setelah komedi romantis segar Janji Joni, menuturkan film keduanya ini secara cergas. Keping demi keping teka-teki tersusun rancak, ketegangan demi ketegangan susul-menyusul, secara pelan tapi pasti menyingkapkan misteri. Yang jelas, berbeda dengan kebanyakan film Indonesia yang kelimpungan dalam urusan logika, Joko justru amat piawai dan ketat menata untaian sebab-akibat. Dan penonton dibuat cingak, tercingangah di ujung kisah.
Tata artistik dan sinematografinya, dengan penerangan yang minimal tapi optimal, secara menawan menampilkan sebuah kota yang gulita, pedih, dan menyimpan ancaman di sudut-sudutnya. Tampilannya mengingatkan pada kota-kota lama Indonesia pada masa kolonial saat penerangan masih menggunakan lampu gas. Kota antah-berantah itu juga belum mengenal telepon selular, namun toko eletroniknya memajang tumpukan televisi menyala di etalase, memungkinkan tokoh kita memantau sejumlah berita penting.
Paduan akting para pemerannya juga memuaskan. Kekuatan mereka terasa merata, termasuk pada pendatang baru Ario Bayu dan Fahrani. Aksi Arswendi Nasution sebagai Haryo Wibowo boleh dikenang sebagai salah satu bad guy mengesankan dalam film Indonesia.
Kalau ada yang mau dipersoalkan, barangkali adalah ketidaktuntasan Joko memfantasikan kisahnya. Dia sudah memilih latar antah-berantah, namun masih mencatut acuan dari ramalan Jayabaya. Penamaan tokohnya campur aduk. Eros dan Janus mencomot dari mitologi Yunani, namun terasa hanya diambil namanya saja, tidak sekalian karakteristiknya. Sedangkan Sari, Ranti, Soebandi, Haryo Wibowo, Bambang Sutrisno, Ronggoweni, terdengar sangat n-Jawani. Lalu, Pindoro? Setelah mengaduk-aduk internet, jebul itu nama orang Gypsy dalam dialek Hungaria. Walah! Pertanyaannya, ini sebuah pilihan artistik yang disengaja, atau akibat kecemasan terhadap lembaga sensor mengingat terdapat muatan yang lumayan sensitif dalam film ini?
Bagaimanapun, Joko telah membuat pilihan yang cerdik. Ia jadi leluasa membaurkan berbagai langgam. Di satu sisi terasa sangat Indonesia, di sisi lain Hollywood banget. Simak adegan di perpustakaan itu. Sejak kapan detektif Indonesia (hehe, memangnya ada film detektif Indonesia?) menelusuri perpustakaan untuk mendukung penyelidikan kasusnya? Kayak Morgan Freeman dan Brad Pitt di Se7en saja. Tapi, coba dengar omongan si penjaga perpustakaan yang diperankan Rima Melati. Ia membiarkan pintu belakang terbuka dengan alasan, ”Siapa yang akan merampok perpustakaan? Penduduk kota ini tidak ada yang peduli dengan perpustakaan.” Indonesia sekali!
Sosok makhluk gaibnya, meski namanya ganjil, juga khas Indonesia (baca: Jawa). Ia hanya meruhi (menampak-nampaki) dan tidak membunuh manusia, dan karenanya malah menebarkan teror yang lebih mencekam. Di sisi lain, ia menjadi pamomong bagi mereka yang patut dilindungi.
Akan tetapi, ending-nya perlu diberi catatan tersendiri. Meskipun secara logika cerita sudah solid, namun dalam eksekusinya terasa mengambang.
Pertama, pertarungan terakhir itu kurang nendang sebagai sebuah pertarungan puncak. Sederhana saja alasannya: Sesungguhnya tidak ada lawan tanding yang seimbang bagi si malaikat pencabut nyawa. Dia terlalu tangguh; tidak ada the arch enemy baginya. Lawan sesungguhnya adalah sebuah kondisi yang abstrak: chaos dan kebobrokan moral di tengah kekacauan itu.
Kedua, sang penyelamat yang akhirnya tampil betul-betul membikin kecele, sungguh tak dinyana. Memang sudah ditampilkan prabayang di bagian awal, namun sosoknya jelas menabrak pakem. Kalau menuruti Ratu Adil Jawa, paling tidak kita mengharapkan dia memiliki latar kepemimpin karismatik penuh wibawa, gentur dalam laku asketisme, trahing kusuma rembesing madu (keturunan raja), punya kesaktian atau daya linuwih, orang yang ketiban pulung (mendapatkan wahyu), dan semacamnya. Kalau mengikuti pola superhero Hollywood, biasanya dia pernah melewati pengalaman pribadi yang traumatis, defining moments yang mengubah jalan hidupnya. Tidak demikian dengan sang penyelamat di film ini. Adakah ini sebuah dekosntruksi ala Joko Anwar?
Kalau begitu, dekonstruksi apa yang hendak dilakukannya belum terang benar. Film ini selesai, namun juga terasa belum selesai. Sebagai kisah detektif, misteri telah dipecahkan. Kita sudah tahu siapa si pelaku serta mengapa dan bagaimana dia melakukannya. Di bagian lain, kita baru menyaksikan kelahiran seorang penyelamat, namun belum tahu persis bagaimana sepak terjangnya. Tampaknya kita sedang menunggu sebuah sekuel. ***