Ambisi Tak Kunjung Mati

Cursegoldenflower_1 Curse of the Golden Flower (2006)

Bunga melambangkan keelokan dan sekaligus kefanaan manusia. Adapun krisan kuning menggambarkan sosok para prajurit. Lalu daun kembang yang terinjak-injak itu tak lain para prajurit yang berguguran dalam peperangan dahsyat: mereka hanyalah tumbal dalam sebuah pertikaian kuasa.

Simbolisme itu bercokol dalam adegan puncak Curse of the Golden Flower garapan Zhang Yimou. Berlatar masa akhir Dinasti Tang, film ini bertutur tentang kekaisaran yang bergolak. Sang Kaisar (Chow Yun Fat) yang ganteng dan bengis tak akur dengan sang Permaisuri (Gong Li) yang cantik dan suka mencebik. Mereka secara strategis memanipulasi ketiga putra mereka untuk mencapai tujuan masing-masing. Kaisar memakai jamur hitam; Permaisuri menggunakan krisan kuning; dan ketiga putra memendam ambisi sendiri-sendiri. Belum lagi keluarga tabib istana yang berkelindan dalam konflik ini.

Confucius secara arif pernah menyatakan, “Zaman dulu, mereka yang ingin menyebarkan nilai-nilai mereka ke seluruh Kerajaan, pertama kali akan mengatur daerahnya sendiri. Untuk bisa mengatur daerahnya sendiri, mereka harus bisa mengatur keluarga sendiri. Dan untuk mengatur keluarga, mereka perlu mengatur diri sendiri lebih dulu. Untuk mengatur diri sendiri, mereka harus memiliki hati yang tulus.”

Film ini memotret kebalikannya. Alih-alih ketulusan, ambisilah yang mendidih dalam masing-masing diri. Ambisi ini lantas meroyak mencabik keluarga. Dan ketika keluarga itu kebetulan duduk di pusat kekuasaan, seluruh bangsa pun terseret dalam pertumpahan darah.

Yang menyayat hati, sesudah pertumpahan darah festival bunga itu masih juga digelar. Kaisar telah menanggalkan jubah naganya; Permaisuri telah melepaskan jubah burung phoenix-nya. Mereka berhadapan dalam geram yang terpendam. Yang tersisa di meja perjamuan itu tinggal ambisi dan racun. Ambisi yang tak kunjung mati. ***

Leave a Reply