Archive for January, 2007

Jembatan di Tengah Kesalahpahaman

Wednesday, January 10th, 2007

Babel Babel (2006)

Babel merujuk pada kisah di Kejadian ketika orang-orang angkuh bersekutu untuk membangun menara guna menggapai surga. Tuhan menghukum mereka dengan mengacaukan bahasa mereka dan menyerakkan mereka ke seluruh dunia. Film ini menuturkan betapa gegar komunikasi itu terus berlanjut hingga kini, mengoyak bangsa, masyarakat, keluarga, dan pernikahan. Film ini juga menggaribawahi pepatah lama “nila setitik merusak susu sebelanga”: bagaimana sebuah insiden alit berkembang menjadi geger internasional.

Kisahnya dimulai di pegunungan Maroko. Seorang peternak membeli senapan untuk mengusir serigala. Seorang anaknya yang masih bocah menguji daya jangkau senjata api itu dengan mengincar sebuah bis turis. Di bis itu sepasang turis Amerika, Susan (Cate Blanchett) dan Richard (Brad Pitt), sedang berlibur dalam upaya memulihkan pernikahan mereka. Susan terkena peluru yang ditembakkan si bocah, dan penembakan itu segera ditengarai sebagai aksi terorisme.

Di belahan bumi lain, dua anak Susan dan Richard diasuh seorang imigran gelap, Amelia (Adriana Barraza). Karena orang tua mereka terlambat pulang, Amelia dan keponakannya Santiago (Gael García Bernal) terpaksa membawa keduanya ke Meksiko untuk menghadiri pernikahan anaknya. Kecurigaan petugas penjaga perbatasan membuat perjalanan ini berkelok memedihkan.

Lalu kita terbang ke Jepang. Seorang cewek ABG bisu tuli, Chieko (Rinko Kikuchi), haus akan kasih sayang. Ibunya bunuh diri di depan matanya dan ayahnya (Kôji Yakusho) sosok yang dingin dan berjarak. Mencoba memuaskan dahaga emosionalnya, ia menjajal sejumlah petualangan seksual serampangan. Apa hubungan kisah ini dengan segmen-segmen lainnya?

“Mulanya saya hendak membuat film tentang apa yang memisahkan kita,” tutur sutradara Alejandro Gonzalez Iñárritu. “Namun dalam prosesnya saya diubahkan – dan film saya merupakan perpanjangan diri saya. Akhirnya saya membuat film tentang apa yang menyatukan kita.”

Di tengah kesalahpahaman berkonsekuensi menggiriskan itu, ada jembatan yang bisa menghubungkan kita dengan liyan. Jembatan itu bernama belas kasihan. Kepedulian seorang asing, kebaikan seorang polisi detektif, itu menjadi seperti oasis di padang gurun. ***

Ambisi Tak Kunjung Mati

Wednesday, January 10th, 2007

Cursegoldenflower_1 Curse of the Golden Flower (2006)

Bunga melambangkan keelokan dan sekaligus kefanaan manusia. Adapun krisan kuning menggambarkan sosok para prajurit. Lalu daun kembang yang terinjak-injak itu tak lain para prajurit yang berguguran dalam peperangan dahsyat: mereka hanyalah tumbal dalam sebuah pertikaian kuasa.

Simbolisme itu bercokol dalam adegan puncak Curse of the Golden Flower garapan Zhang Yimou. Berlatar masa akhir Dinasti Tang, film ini bertutur tentang kekaisaran yang bergolak. Sang Kaisar (Chow Yun Fat) yang ganteng dan bengis tak akur dengan sang Permaisuri (Gong Li) yang cantik dan suka mencebik. Mereka secara strategis memanipulasi ketiga putra mereka untuk mencapai tujuan masing-masing. Kaisar memakai jamur hitam; Permaisuri menggunakan krisan kuning; dan ketiga putra memendam ambisi sendiri-sendiri. Belum lagi keluarga tabib istana yang berkelindan dalam konflik ini.

Confucius secara arif pernah menyatakan, “Zaman dulu, mereka yang ingin menyebarkan nilai-nilai mereka ke seluruh Kerajaan, pertama kali akan mengatur daerahnya sendiri. Untuk bisa mengatur daerahnya sendiri, mereka harus bisa mengatur keluarga sendiri. Dan untuk mengatur keluarga, mereka perlu mengatur diri sendiri lebih dulu. Untuk mengatur diri sendiri, mereka harus memiliki hati yang tulus.”

Film ini memotret kebalikannya. Alih-alih ketulusan, ambisilah yang mendidih dalam masing-masing diri. Ambisi ini lantas meroyak mencabik keluarga. Dan ketika keluarga itu kebetulan duduk di pusat kekuasaan, seluruh bangsa pun terseret dalam pertumpahan darah.

Yang menyayat hati, sesudah pertumpahan darah festival bunga itu masih juga digelar. Kaisar telah menanggalkan jubah naganya; Permaisuri telah melepaskan jubah burung phoenix-nya. Mereka berhadapan dalam geram yang terpendam. Yang tersisa di meja perjamuan itu tinggal ambisi dan racun. Ambisi yang tak kunjung mati. ***