Tidak Ada Natal Keluarga
Sunday, December 17th, 2006
Saya dibesarkan di tengah keluarga bhinneka tunggal ika. Orang tua saya adalah orang Jawa yang berpandangan bahwa agama adalah ageming aji (baju kehormatan diri). Mereka membebaskan anak-anak memilih agamanya masing-masing. Saya sendiri mengenal kekristenan, sederhana saja, karena diajak tetangga sebelah pergi ke Sekolah Minggu.
Syukurlah, sejauh ini perbedaan agama itu tidak pernah menjadi sumber konflik dalam hubungan persaudaraan kami. Ibu saya pernah berkomentar dengan bangga, "Kami di sini ini Pancasila, kok. Ada Alquran, ada Injil, ada Tripitaka. Mau apa saja, silakan."
Kami setiap tahun bersama-sama merayakan Lebaran, dan saya lebih merasakannya sebagai hari raya orang Jawa. Anak kecil mana yang tidak senang menyalakan petasan dan kembang api, keliling naik andong, sungkem ke sana kemari sambil menikmati suguhan makanan enak, dan tidak jarang diselipi uang saku? Yah, Lebaran adalah kesempatan untuk bersenang-senang sambil bersilaturahmi dan mempererat hubungan persaudaraan dengan tetangga dan keluarga besar.
Namun, saya belum pernah merasakan Natal bersama seluruh keluarga. Mudah dimaklumi. Natal, dalam pandangan masyarakat kita pada umumnya, masih terkemas sebagai hari raya khusus orang Kristen, yang berkonotasi dengan Barat. Belum terpadu sebagai bagian dari budaya lokal sebagaimana Lebaran.
Tentu saja lalu tak ada kebiasaan mengenakan baju baru, memasang hiasan dan pohon terang, atau menyiapkan hidangan Natal bila hari besar itu menjelang. Natal hanyalah perayaan di gereja, atau di sekolah. Hebatnya, pelaksanaan acaranya bisa sejak awal Desember sampai pertengahan Januari. Jadi, selama sebulan lebih, ada saja perayaan di berbagai tempat yang bisa saya datangi. Natal Sekolah Minggu, Natal umum, Natal bersama Kristen-Katolik, Natal di sana, Natal lagi di situ.
Beberapa minggu sebelumnya bersama-sama teman Sekolah Minggu kami sudah berlatih untuk mengisi acara pada perayaan Natal di gereja. Bisa menghapalkan ayat, paduan suara, drama, kelompok vokal, atau pembacaan puisi. Ya, seingat saya, belum pernah saya ikut dalam kelompok tari untuk pertunjukan Natal.
Namun, sudah bisa ditebak, rangkaian acaranya tidak terlalu bervariasi dari tahun ke tahun. Karena itu, seandainya ada yang menanyai saya, apa kenangan Natal masa kecil yang paling berkesan, saya akan mengerutkan dahi. Tentu saya tidak memungkiri, suasana Natal cenderung menggugah rasa kangen dan sukacita tersendiri. Namun, kalau mesti menuturkan sejumput kisah khusus yang mengesankan, saya mesti berusaha keras membongkar arsip perpustakaan kenangan saya.
Salah satu kenangan yang cukup mengesankan itu berkaitan dengan ibu saya. Meskipun beliau sendiri tidak pergi ke gereja, ibu selalu mendukung saya untuk beribadah. Ia mengajari saya dan kakak saya untuk berdoa sebelum tidur. Sebuah doa generik: doa tanpa “di dalam nama Yesus”. Baru setelah saya lumayan besar, dan meniru kebiasaan berdoa di gereja, saya tambahkan sendiri frasa itu.
Istimewanya, setiap saya hendak pergi ke Sekolah Minggu, ibu menyediakan uang saku khusus untuk saya berikan sebagai pisungsung (persembahan). Karena itu, pisungsung saya bisa mencapai seratus rupiah. Kalau tidak salah ingat, waktu itu dengan uang sebanyak itu kita masih bisa menikmati dua-tiga mangkuk baso.
Ibu melakukannya secara teratur. Alasannya?
“Kalian itu, kalau sudah Natalan, Paskahan, atau acara apa lagi, ‘kan pasti keluar uang banyak, padahal semuanya tanpa pungutan biaya. Kalau mau memberi sumbangan sebelum acara, belum tentu uangnya ada. Ya, hitung-hitung kita cicil saja seminggu sekali,” kata ibu.
Ibu saya – bukan seorang teolog, bahkan seorang Kristen pun bukan – telah mengajari saya tentang pemberian. Kebiasaan ibu tersebut secara tidak langsung menanamkan pada diri saya kesadaran bahwa kita pada dasarnya memberi karena kita telah terlebih dahulu diberi. Pemberian, dengan demikian, bukan sekadar pernyataan dukungan bagi orang-orang di sekitar kita, namun juga suatu ungkapan rasa syukur.
Ketika saya semakin besar, dan dapat memahami Alkitab secara lebih baik, saya menemukan bahwa ternyata pelajaran itu sejajar dengan ajaran Alkitab: Kita mengasihi karena Allah sudah terlebih dahulu mengasihi kita. Segala sesuatu saya lakukan bukan untuk mendapatkan kemurahan Allah, melainkan sebagai ungkapan rasa syukur karena anugerah-Nya telah terlebih dahulu dicurahkan bagi saya. Bukankah itu juga sebagian dari pesan Natal?
Dalam beberapa kesempatan, ibu meluangkan waktu untuk memenuhi undangan menghadiri Natal di gereja. Senang rasanya ikut menyanyi dalam paduan suara atau bermain drama Natal, beraksi di panggung, dan menyadari bahwa ibu sedang menyaksikan dengan penuh rasa bangga, tersenyum di antara para penonton.
Sekali lagi saya mendapatkan sebuah pelajaran berharga: Bagaimana pula aksi kita di atas panggung kehidupan ini saat kita menyadari bahwa Allah Bapa, dengan penuh rasa bangga pula, menyaksikan di surga sana?
Pelajaran-pelajaran kecil namun berharga semacam itulah yang mewarnai kenangan saya akan Natal.
Kini, setelah saya berkeluarga, saya masih belum menemukan ide bagaimana mengadakan perayaan Natal khas keluarga kami. Kami biasa melewatkannya bersama komunitas jemaat, dengan drama Natal yang entah bagaimana kerap berpuncak pada penyaliban! Selain itu, kami meluangkan waktu untuk bersilaturahmi kepada sejumlah keluarga kenalan dekat. Kalau masih sempat, saya akan memutar It’s a Wonderful Life, The Sound of Music atau The Lord of the Rings – film-film yang saya anggap cocok untuk merayakan Natal.
Yang saya tahu, semangat dan sukacita Natal semestinya bukan hanya marak pada setiap 25 Desember, melainkan memenuhi hati kita setiap hari sepanjang tahun. Bukankah begitu? ***

Bible Trivia 2 ISBN 979-763-439-6
My Favorit Christmas (Gloria Cyber Ministries, 2006)
Agenda Pribadi 2007 (Gloria Graffa, 2006).