Menghadapi Pembangkangan Anak
Artikel “Mendisiplinkan, Bukan Menganiaya”, seperti saya duga, mengundang komentar. Ia menyatakan tidak setuju penggunaan hukuman badaniah dalam pendisiplinan anak.
Saya menyadari isu ini memang cukup sensitif, dan bila tidak disikapi secara arif bisa menimbulkan ekses buruk. Karenanya, pagar batasan apa yang perlu dicermati dalam melakukan pendisiplinan.
Perlu diingat, hukuman badaniah semestinya terbatas hanya dilakukan oleh orang tua, bukan oleh guru, baby sitter, atau tetangga. Penggunaan hukuman badaniah bukanlah perkara yang menyenangkan. Jadi, kalau ada orang tua yang ‘senang’ melakukannya (suka menyiksa anak), mereka pun sebaiknya menahan diri.
Pendisiplinan perlu dilakukan sejak dini. Kata “pada waktunya” dalam Amsal 13:24 berarti fajar atau dini hari. Tujuannya untuk menghilangkan “kebodohan” (Amsal 22:15). Kebodohan ini bukan mengacu pada kapasitas intelektual, melainkan kebebalan, sifat mencemooh Allah dan membenci perintah, serta tidak menghargai. Artinya, yang didisiplinkan adalah pembangkangan. Orang tua mesti mengenali perbedaan antara ketidaktaatan yang keras kepala dan sifat kekanak-kanakan yang sewajarnya.
Teguran secara lisan (Amsal 3:11-12) adalah pelengkap bagi hukuman badaniah. Seiring dengan bertambahnya usia anak, frekuensi hukuman badaniah semakin berkurang, dan didikan secara lisanlah yang diintensifkan. Menurut James Dobson, saat anak mencapai usia delapan tahun, pendisiplinan dengan hukuman badaniah sudah dihentikan.
Kunci pendisiplinan adalah konsistensi. Beberapa hal yang perlu diperhatikan adalah: 1) orang tua harus menetapkan peraturan secara tegas dan jelas sehingga anak-anak mengerti apa yang diharapkan dari mereka, apa yang benar dan apa yang salah; 2) mendisiplinkan secara pribadi, tidak di muka umum; 3) setelah alasannya disampaikan secara jelas dan singkat, dan hukuman dilakukan dengan tegas, kita menghibur dan memeluk anak itu.
Tentu saja, jangan lupa, nobody perfects. Artinya, jangan perfeksionis dalam pendisiplinan. Kita tetap perlu memberi ruang bagi kesalahan dan kegagalan, memberi kesempatan untuk belajar meminta maaf dan mengampuni bagi anak-anak. Ini berlaku pula bagi orang tua, yang tak ayal bisa melakukan kesalahan dalam melakukan pendisiplinan!
Tujuan pendisiplinan itu sendiri tidak lain adalah meneladankan peran Allah sampai anak Anda tiba pada masa peralihan otoritas. Seperti dikatakan Chuck Swindoll, pendisiplinan menanamkan di dalam diri anak Anda penghargaan yang sehat terhadap dirinya sendiri dan orang lain sehingga mereka mampu bertahan dengan baik meskipun menghadapi berbagai tantangan hidup. ***