Sekian bulan lalu….
Kawan dekatku, yang sedang menggarap film televisi sebagai tugas akhir kuliahnya, menelepon malam-malam. Salah satu pemeran untuk syuting keesokan harinya mendadak beralangan. "Bisakah Mas Arie menggantikannya?" pintanya.
Lebih karena keinginan menolong kawan, dan sekaligus ingin tahu dari dekat proses pembuatan film, aku menyanggupinya.
Dan inilah yang saya hadapi: Syuting yang rencananya hanya tiga jam, molor sampai tujuh jam. Sebuah shot yang dalam naskah dirancang cuma berlangsung satu menit, pengambilan gambarnya bisa memakan waktu lebih dari satu jam. Satu bagian salah langkah, seluruh bagian ikut kena getahnya.
Kini film itu sudah rampung (syukurlah, master-nya terselamatkan saat gempa mengguncang Jogja). Ikut lega, sekaligus menemukan kekagokan: ternyata tidak terlalu "nyaman" nonton film yang di dalamnya kita ikut terlibat (sekalipun cuma dua adegan!).
Karenanya, kuminta seorang kawan lain untuk mengulasnya (syukurlah, ia tak sampai mengomentari aktingku ;-)…). Ini dia!
Solilokui Suram
Sutradara: Josua Agustinus G.
Pemain: Pranurca Reindra, Elvira Katrin T.
Durasi: sekitar 52 menit
Asal/Tahun: Yogya/2006
Inilah sebuah kisah solilokui: manusia yang suka berbicara dengan dirinya sendiri. Kisah manusia kesepian, yang sulit bergaul dengan orang di sekitarnya, sehingga menjadikan cermin sebagai temannya. Jadi ingat Travis Bickle yang dibintamgi Robert De Niro di film Taxi Driver. Juga, jadi ingat Gollum di The Lord of the Rings – kalau yang satu ini berteman air sungai, bukan cermin. Seperti kedua film itu, solilukui di film ini juga suram. Di film ini, ia suram karena self-talks yang pedih akibat keputusasaan, luka-cemburu dan dendam yang mendalam.
Kisahnya amat menarik. Iwang (Pranurca Reindra) adalah mahasiswa baru Universitas Gajah Mada Jurusan Pertanian asal Temanggung. Dia memiliki sebuah kelainan psikologis karena berkepribadian ganda. Ia tampak lugu, manis dan sopan pada pada orang yang ramah padanya. Tapi begitu ia menemui orang yang menyakitinya, amarahnya meledak di luar kendali. Saat amarahnya surut, ia bahkan tak menyadari bahwa ia baru lepas kendali.
Sinematografi film ini tertata apik, terutama pada adegan-adegan saat Iwang bicara pada cermin: bayangannya di cermin benar-benar tertampil dengan ekspresi dan karakter yang bebeda dari diri Iwang, padahal Iwang ada di depannya. Pranurca cukup berbakat dalam akting. Ia mampu tampil lemah lembut, bahkan tampak keperempuan-perempuanan pada saat menjadi Iwang. Menjadi sosok lain di dalam cermin, bernama Awang, yang pemarah dan berang pun ia tampil mantap.
Untuk sebuah perbandingan, kelainan seperti ini diceritakan dengan memikat dan detail dalam buku karya Sidney Sheldon, berjudul Tell Me Your Dreams (Ceritakan Mimpi-mimpimu, Gramedia Pustaka Utama). Di dalam buku Sidney tergambar dengan jelas kapan – dan apa (yang di dalam film ini juga tampaknya masih samar) – penyebab seseorang bisa mengalami kasus multi-kepribadian. Nah, inilah yang tampaknya diabaikan (atau mungkin dilupakan) oleh film ini: kapan pertama kali Iwang mendapat teman barunya itu?
Keretakan hubungan dalam keluarga akibat ayah Iwang yang suka bersenang-senang sehingga ekonomi keluarga melarat, kemudian menjadi dasar pertikaian dengan istrinya, berujung pembunuhan, rasanya belum cukup menjadi alasan kuat bagi mengendapnya penyakit jiwa dalam diri Iwang. Itulah yang terekam dalam empat adegan sepia terpisah sepanjang film. Meskipun pertikaian ayah-ibunya yang berujung pada kematian keduanya itu kemudian kerap hadir dalam mimpi-mimpi Iwang di kemudian hari, rasanya adegan-adegan itu masih kurang menjelaskan.
Perlu ada adegan kapan pertama kali Awang muncul. Paling bagus, menurut hemat saya, di adegan sepia terakhir (keempat) menjelang ending karena hasilnya akan meng-ngeh-kan penonton. Di film ini, kemunculannya dirasa teramat ganjil dan tiba-tiba saat Iwang sudah berkuliah; dan Iwang tampaknya tak mengenalinya saat itu. "Kamu… setan?" tanya Iwang padanya.
Orang yang menderita penyakit multi-kepribadian kronis, kadangkala tak menyadari penyakitnya: keberadaan pribadinya yang lain. Begitu pula dengan Iwang. Kemunculan Awang menyebabkan onar, bahkan kematian. Ada dua kematian akibat pembunuhan di film ini. Dua-duanya disebabkan si teman cermin. Di kematian pertama, Awang tak menunjukkan dirinya. Bukankah seharusnya Awang sudah ada di sana?
Sebagai perbandingan lain, simaklah Hide and Seek yang dibintangi Robert De Niro dan Dakota Fanning. Kisahnya juga mirip film ini, tentang kepribadian ganda. Ada adegan yang memuat potongan-potongan kejadian yang terjalin dalam sinematografi yang apik – sebuah kilas balik dibumbui suara-suara angin dan musik mencekam – dalam tempo cepat yang nantinya menjadi penjelas, ditayangkan menjelang akhir film dan membuat penonton ngeh.
Penambahan musik latar juga dirasa perlu. Andaikan adegan-adegan saat Iwang berbicara sendiri bersama Awang, teman cerminnya yang tak nyata itu, dilatari musik yang mencekam, hasilnya mungkin akan lebih greget. Musik latar paling pas terpadu pada adegan-adegan mesra Iwang dan Sinta (Elvira Katrin T.) yang justru di kemudian hari menyakiti hati Iwang.
Secara keseluruhan, film ini mencoba menawarkan sesuatu yang baru. Itulah yang patut diacungi jempol. Ceritanya tak seperti sinetron-sinetron di televisi saat ini yang kebanyakan berisi pertunjukan gaya hidup hedonis dan kisah cinta picisan remaja metropolis, atau hantu-hantu sinting yang jarang sekali tampak di kehidupan nyata dan melecehkan akal sehat pemirsanya. Terlepas dari semua kekurangan dalam pengisahannya yang telah disampaikan di muka, film ini berupaya jujur untuk secara wajar menampilkan realitas kehidupan seorang manusia yang terasing karena ditinggalkan dan jarang mendapat kasih sayang.
(Sidik Nugroho
Sinemaholik, Malang)