The Departed: Dunia Tanpa Suluh Moral

Departed Apa yang kita harapkan dari sebuah film tentang polisi, penjahat, dan mata-mata? Dar-der-dor, kejar-kejaran kucing-tikus, adu kecerdikan dan kelicikan? Bagaimana kalau kisah itu juga menyusupkan pertanyaan-pertanyaan seputar identitas diri dan pilihan moral, menggugat peran tangan nasib dan pengaruh lingkungan, serta memilinnya dalam tragedi yang menohok? Mungkinkah kita menghembalangkan kejahatan dengan menyusup dan mengambil bagian dalam sistem yang jahat itu sendiri?
Ide itu ditawarkan empat tahun lalu oleh sebuah film Hong Kong, Infernal Affairs (IA), garapan Andrew Lau & Alan Mak. Skenarionya, ditulis Mak dan Felix Chong, selain mengungkap dunia polisi dan penjahat secara segar, juga mendedah sisi-sisi psikologis para tokohnya yang memantik pertanyaan-pertanyaan tadi. Didukung bintang papan atas (Tony Leung, Andy Lau, Anthony Wong dan Eric Tsang), digarap secara elegan, film ini memikat publik Hong Kong dan berjaya di box office setempat. Dalam 22nd Annual Hong Kong Film Awards film ini diganjar 7 penghargaan, termasuk sebagai film terbaik.
Hollywood ternyata tergoda untuk mengadaptasinya. Warner Bros. meminta tak kurang dari Martin Scorsese untuk membesutnya. Deretan pemerannya pun tak tanggung-tanggung pula: Leonardo DiCaprio, Matt Damon, Jack Nicholson, Mark Wahlberg, Martin Sheen, Ray Winstone, Alec Baldwin. Kini hadir sudah The Departed. Tak ayal orang membanding-bandingkannya: kalau tidak dengan IA, ya dengan karya-karya Scorsese sebelumnya.
Skenario The Departed ditulis oleh William Monahan dengan memboyong kisah ke Boston, tempat kepolisian Massachusetts bertarung dengan gang Irlandia. Seorang polisi berlatar belakang keluarga penjahat, Billy Costigan (DiCaprio), ditantang oleh Kapten Queenan (Sheen) dan Sersan Dignam (Wahlberg) untuk menyusup ke dalam sindikat penjahat yang dikepalai oleh Frank Costello (Nicholson). Costigan berhasil menjadi orang kepercayaan Costello dalam waktu singkat.
Di sisi lain, seorang polisi lain, Colin Sullivan (Damon), yang berasal dari keluarga baik-baik, karirnya menanjak pesat dan dipercaya bergabung dalam Unit Investigasi Khusus, yang diketuai Kapten Ellerby (Baldwin). Sullivan ini ternyata dididik Costello sejak kecil, dan sengaja disusupkan ke kepolisian sebagai informan bagi sindikat kriminalnya.
Keduanya menjalani kehidupan ganda untuk tugasnya masing-masing sampai kepolisian dan sindikat sama-sama tersadar bahwa ada mata-mata di tengah mereka. Costigan dan Sullivan mesti adu cepat membongkar identitas satu sama lain untuk menyelamatkan dirinya.
Didukung editing yang tangkas, kisah berzig-zag serba bergegas, berganti-ganti antara Sullivan dan Costigan, dengan dialog demi dialog yang mencecar seperti senapan mesin (sampai-sampai subtitlenya pun beberapa kali kepontal-pontal, telat menerjemahkannya). Sayangnya, bagi yang sudah nonton IA, unsur suspense sudah jauh berkurang, dan zig-zag yang maksudnya hendak mengelabui itu terasa terang benderang ketahuan ke mana ujungnya.
Unsur lain yang segera menonjol adalah akting para pemainnya. Nama-nama yang sudah dideretkan di atas tampil prima. Damon dengan mantap memadukan perannya di The Talented Mr. Ripley dan The Bourne Indetity. DiCaprio menunjukkan bahwa bocah yang sangat menjanjikan dalam What’s Eating Gilbert Grape ini memasuki tahap kematangan yang mengesankan. Baldwin dan Wahlberg tampil segar. Adapun Jack Nicholson seperti arwah Jack Torrance yang bangkit lagi dari potret yang membeku di Hotel Overlook.
Bila dibandingkan dengan karya-karya Scorsese lainnya, terutama yang sejenis, The Departed belum semenjulang puncak pencapaian empu satu ini: Mean Streets, Taxi Driver, Raging Bull, Goodfellas. Hiruk pikuk laganya kurang diimbangi dengan kesubliman. Perbandingan dengan film aslinya juga akan memperlihatkan sejumlah celah.
Dengan durasi 2,5 jam, hampir satu jam lebih panjang dari film aslinya, pertanyaannya kemudian: sejauh mana Scorsese melakukan pengembangan, dan berhasilkah? Dan sebenarnya bukan sepenuhnya pengembangan karena Scorsese juga melakukan pemadatan di sana-sini, dan bahkan memasukkan unsur cerita yang dalam IA baru muncul dalam dua film lanjutannya. Latar belakang Costigan, misalnya, pada padanan Hong Kongnya baru muncul dalam IA II.
Perbedaan yang segera menonjol, IA terkesan relatif lebih ‘bersih’, paling tidak dalam soal semprotan kata-kata lucah dan semburan darah. Apakah polisi Boston memang lebih carut dan lebih sadis daripada polisi Hong Kong, entahlah. Efek pada kedua tokoh mata-mata itu: dalam versi Hong Kong mereka terasa lebih kontemplatif atas efek penyamaran masing-masing, sedangkan Costigan dan Sullivan lebih banyak disibukkan dengan laga dan adu mulut.
Dua tokoh perempuan dalam IA digabung menjadi satu tokoh di sini, Madolyn (Vera Farmiga). Cinta segitiganya dengan Costigan dan Sullivan merefleksikan dinamika hubungan kedua mata-mata itu dengan orang-orang lain. Dengan Sullivan, yang tampak nyaman dalam penyamarannya sebagai polisi, ia serumah, namun ada tembok tak kasat mata dalam hubungan mereka. Sebaliknya, dengan Costigan, yang gelisah atas keterlibatannya dengan gang penjahat, semula ia jengah namun akhirnya menjadi intim. Namun, sosok Madolyn sendiri bermasalah: penonton tak ayal akan mempertanyakan profesionalitas sebagai seorang psikolog.
Perampingan yang mengganggu terjadi pada sosok Queenan. (Apakah karena Scorsese batal merekrut De Niro?) Berbeda dengan Wong dalam IA, di sini ia sekadar atasan Costigan, bukan sekaligus figur ayah baginya. Akibatnya, pertama, tidak ada tandingan bagi sosok Costello di tubuh kepolisian. Kedua, peristiwa di gedung bertingkat itu menjadi kurang menohok secara emosional. Juga, tidak ada tokoh yang berpotensi menjadi suluh moral dalam dunia yang serba gelap - baik di pihak kepolisian maupun di pihak gangster - ini.
Cukup ironis, karena judul The Departed mengacu pada istilah Gereja Katholik bagi orang yang berpulang pada Penciptanya, lengkapnya "the faithful departed". Tokoh-tokoh dalam film ini memang bergumul dengan kesetiaan - kesetiaan pada keluarga, bos, korps, diri sendiri (baca: egois) - namun Tuhan tampaknya tidak masuk hitungan. Gereja hanya hadir di latar belakang, berdiri di kejauhan, sebuah lembaga yang steril dan impoten, dengan imam-imamnya dilecehkan. Mungkin ini yang hendak digarisbawahi Scorsese: Bila Tuhan disingkirkan, apa saja halal dilakukan. ***

4 Responses to “The Departed: Dunia Tanpa Suluh Moral”

  1. Sidik Nugroho Says:

    Aku sependapat dengan Leila S.C. di Tempo 23-29 Okt, kalau Martin Scorsese layak nggondol Oscar 2007 utk Best Director!

    Gak sia-sia makian2 yang bertaburan di sepanjang film, karena filmnya sendiri memang juga mengundang makian karena saking bagusnya (bagi yang suka memaki dan mantan suka memaki, hehe…).

  2. Rimhot Says:

    Film yang cukup menarik memang. Ada satu hal yang membuat film itu sungguh menarik buatku yaitu sepotong kalimat diawal penayangan film :
    “AKU BUKANLAH PRODUK LINGKUNGAN”
    Dan itu memberi satu inspirasi buat kita untuk memiliki prinsip….

  3. XYFloyd Says:

    hey man i love your site.. your friend michael told me you were looking for a new way to earn some extra income online.

    i own an awesome website where you can make money online..most our users are making like 20-50 bucks a day.. with minimal work.. its pretty simple to do.. its actually so easy to do you won’t believe ill actually pay you to do it.. and its 100% free to sign up and try.

    another positive about my site unlike all the other sites.. i will pay you out daily.. so you earn 5 bucks in the first 5 minutes you work on my site.. request a payout and i will pay you out right then.. i guarantee no other sites like mine will pay out daily multiple times..

    i’d be glad to help you.. if you sign up..
    http://tinyurl.com/5c8972

  4. Shoorseve Says:

    hello! I like your site ;) If u are looking for Paid Surveys this is the site for you.
    Start advancing your paychecks on http://tinyurl.com/96nxz8

Leave a Reply