Kebenaran Itu So What Gitu Lho?

Misquoting Setelah geger The Da Vinci Code, disusul heboh The Gospel of Judas, kini muncul satu lagi buku yang mempertanyakan iman Kristen. Judulnya Misquoting Jesus: The Story Behind Who Changed the Bible and Why karya Bart Ehrman, terbit pertama 1 November 2005 (terjemahannya diterbitkan GPU September 2006), dan disebut Washington Post (WP) sebagai "salah satu buku laris yang paling tak terduga tahun ini".
WP menggambarkan Ehrman sebagai "sarjana fundamentalis yang menelisik dengan sangat cermat asal-usul Kekristenan sampai dia malah kehilangan imannya". Lulusan Moody Bible Institute, Wheaton College, dan Princeton Seminary ini, setelah tiga dekade menelaah Kitab Suci, menjadi seorang agnostik (berpandangan bahwa kebenaran tertinggi tidak dapat diketahui dan mungkin tidak akan dapat diketahui).
Bukunya itu berupa kritik tekstual terhadap Perjanjian Baru (PB), yang dirangkum WP sebagai "suatu kajian tentang bagaimana 27 kitab PB dicampur aduk menjadi satu, suatu sejarah yang kaya dengan politik gerejawi, penyalinan naskah yang tidak kompeten, dan kesulitan dalam mengangkat tradisi lisan menjadi naskah tertulis."
Lebih jauh, PB yang kita baca saat ini sudah sangat berbeda dari naskah aslinya (otograf). "Ada lebih banyak variasi di antara naskah salinan yang ada pada kita daripada jumlah kata dalam PB," kata Erhman. Ia juga menggugat beberapa bagian PB yang dianggap tidak otentik (misalnya Mrk 16:9-20; Yoh 7:53-8:11; dan 1 Yoh 5:7-8) sebagai fiksi dan opini yang ditambahkan sekian abad sesudah Yesus.

Tidak Menggugurkan Doktrin PB
Sahihkah kritik Erhman? Karena bukan pakar Perjanjian Baru, saya tak bisa banyak berkomentar. Yang saya lakukan adalah mencari pandangan pembanding, dan saya menemukan ulasan kritis Daniel B. Wallace, yang dapat diunduh di situs bible.org. (Ulasan lain bisa dicari melalui Google.)
Dari ulasan Wallace, setidaknya dapat saya simpulkan dua hal. Pertama, jumlah variasi yang disebutkan Erhman, secara kuantitas memang betul, namun secara kualitas terlalu berlebihan. Hal ini berkaitan dengan karakteritik tata bahasa Yunani yang dipakai untuk menulis PB. Wallace memberi contoh, untuk menyatakan "Yesus mengasihi Paulus", ada paling tidak 16 cara, dan itu pun baru sebagian kecil kemungkinan. Dengan demikian, adanya 400.000 variasi di antara 5.700 manuskrip kuno PB, yang penyalinannya dilakukan secara manual, secara kuantitas masih terhitung wajar. Yang lebih penting, secara kualitas, sebagian besar variasi itu bersifat minor, seperti salah eja, terbaliknya susunan kata, dsb. Hanya 1% variasi yang cukup berarti, dan variasi itu pun masih dapat dirunut akarnya dengan memperbandingkan berbagai manuskrip yang ada.
Ini berkaitan dengan kesimpulan kedua, yaitu bahwa variasi tersebut, dan juga penambahan perikop yang tidak otentik, tidak mengubah pesan pokok dan doktrin utama PB. Hal itu tidak menggugurkan doktrin inerrancy (ketidaksalahan Kitab Suci), karena inerrancy mengacu pada kebenaran pernyataan, bukan kepersisan kata demi kata (yang ini berkaitan dengan inspirasi pada para penulis otograf Kitab Suci).
Variasi itu lebih menunjukkan kekurangtelitian penyalinan yang manusiawi. Kalau Erhman menuntut setiap manuskrip harus bebas-salah untuk menunjukkan bahwa Alkitab itu diilhamkan oleh Allah, rasanya yang mesti melakukan penyalinan haruslah malaikat. Mesin cetak paling canggih sekalipun masih bisa error, ‘kan?
Jadi, variasi itu bukan suatu kesengajaan, bukan buah konspirasi penuh muslihat dan intrik politik demi menyebarkan dusta. Jauh dari itu. Seperti diungkapkan Dryden dalam sebuah syairnya, "Dari mana selain dari Surga, manusia yang tidak mahir dalam kesenian, / Terlahir dalam berbagai zaman, tersebar di berbagai daerah, / Dapat menenun kebenaran yang bersesuaian? Atau bagaimana, atau mengapa / mereka semua bersekongkol untuk menipu kita dengan sebuah kebohongan?"

Kenapa Laku Keras?
Selanjutnya, sebagai jemaat awam, yang tak kalah mengusik saya adalah pertanyaan: kenapa buku-buku provokatif semacam ini laku keras? Wallace melontarkan suatu kemungkinan, "Yah, Yesus adalah komoditas yang menjual. Namun, bukan Yesus seperti yang dipaparkan dalam Alkitab. Yesus yang menjual adalah Yesus yang cocok bagi manusia pascamodern." Dengan kata lain, Yesus yang gampang dicerna. Yesus sebagai "Allah sepenuhnya dan Manusia sepenuhnya" terlalu memualkan bagi perut mereka.
Buku semacam ini memikat bagi orang-orang skeptis yang ingin menemukan alasan-alasan untuk tidak percaya. Kian jelas bahwa sebagian orang menolak Alkitab karena Alkitab tidak sesuai dengan filosofi atau teori akademis mereka. Yang lain lagi menolak Alkitab karena mereka menentang atau melawan standar moral Alkitab yang tegas.
Misquoting Jesus dan buku-buku sejenis secara provokatif berusaha menggerogoti klaim kebenaran obyektif dalam Alkitab. Yesus hanya nabi dan manusia bermoral luhur. Yesus bukan satu-satunya jalan menuju Allah. Alkitab telah disimpangkan dan dipolitisasi. Alkitab itu penuh dengan mitos. Dan seterusnya.
Hal itu membawa saya untuk memeriksa lagi implikasi dua klaim utama tentang kebenaran. Tunggu dulu. Kebenaran? Hm, rasanya itu sebuah wacana yang terlalu rumit bagi orang kebanyakan, biarlah itu menjadi kunyahan para filsuf dan teolog saja.
Saya kurang sependapat. Kebenaran bukanlah pengetahuan esoteris, yang hanya bisa diketahui oleh orang-orang tertentu. Ramifikasinya memang bisa sangat kompleks dan sanggup "meledakkan" otak para filsuf dan teolog yang paling mumpuni sekalipun. Namun, intisari kebenaran hakiki tentulah cukup sederhana untuk bisa dipahami oleh orang kebanyakan yang bersedia mencari dan bertanya secara jujur. Dari perspektif inilah saya mencoba meneropong.

Dua Klaim Kebenaran
Klaim pertama, kebenaran itu subyektif. Eksistensi kita mendahului esensi kita. Kita ada dulu, baru kita memaknai hakikat kita. Kebenaran, jadinya, terpulang pada diri kita masing-masing. Apa yang benar bagiku, belum tentu benar bagimu. Semuanya relatif. Kalau kamu mati, itu hanya berarti bahwa eksistensimu berakhir, tidak lebih baik dan juga tidak lebih buruk daripada nasib nyamuk yang tewas kita tepuk.
Alkitab, sebaliknya, menggarisbawahi bahwa kebenaran itu obyektif. Bukan kita yang menentukan kebenaran, melainkan, meminjam ungkapan Francis Schaeffer, The God who is there. Allah adalah Realitas Absolut yang berada di luar diri kita, bahkan Dialah Pencipta kita. Dia bukan hanya Sumber Kebenaran, namun Dialah Kebenaran itu sendiri. Hidup kita, antara lain, adalah pertanggungjawaban terhadap Kebenaran itu.
Dari situ, kita bisa berandai-andai. Seandainya klaim pertama yang benar, orang yang berpegang pada kebenaran obyektif tidak akan terlalu bermasalah. Kalau benar "segala sesuatu itu relatif", bukankah pandangan bahwa "Allah itu Realitas Absolut" secara relatif tetap benar? Bagi mereka yang berpegang pada kebenaran obyektif, hidup ini sendiri suatu karunia indah yang layak disyukuri, dinikmati, dirayakan, dan dijalani secara arif. Kalaupun pada saat meninggal dunia eksistensi mereka berakhir begitu saja, dan ternyata tidak ada surga (atau pun neraka, tentunya), ya so what gitu lho? Enggak ada ruginya, kok.
Sebaliknya, kalau klaim kedua yang benar, orang yang mengukuhi kebenaran subyektif akan mendapatkan masalah. Mereka harus berhadapan dengan kebenaran obyektif bahwa "manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja, dan sesudah itu dihakimi." Mereka harus mempertanggungjawabkan penyangkalan mereka terhadap Kebenaran. Akankah mereka bisa berdiri di hadapan Sang Realitas Absolut dan dengan acuh tak acuh bersikap: So what gitu lho? ***

4 Responses to “Kebenaran Itu So What Gitu Lho?”

  1. Johanes Says:

    Sesuatu kebenaran belum tentu benar apabila kita tidak berpikir & bertindak benar…
    Suatu kebohongan menjadi lebih mudah dilakukan karena hanya membutuhkan otak bodoh… Karena Tuhan memilki pengetahuan lebih besar dari semesta ini, sedangkan manusia hanyalah memilki otak yang sangat kecil yang ingin mengetahui isi otak SANG PENCIPTA

  2. Enos Says:

    Mas, saya permisi minta ijin untuk mengutip comment di topik ini anda di forum saya boleh? Thx

  3. Enos Says:

    Mas, saya permisi minta ijin untuk mengutip comment anda di topik ini di forum saya boleh?
    Nanti saya sertakan juga link-nya ke halaman ini.
    Thx

  4. junaidi, malang Says:

    kebenaran yang ada memang kebenaran menurut siapa

Leave a Reply