Denias: KIsah yang Biasa, Film yang Tidak Biasa

Denias_1Salah satu isyarat film bagus, konon, adalah kalau sepulang nonton Anda mendapati diri Anda menyenandungkan lagunya. Begitulah yang saya alami saat nonton Denias, Senandung di Atas Awan, film layar lebar pertama John de Rantau. Sembari keluar dari bioskop, dengan perasaan hangat saya ikut menyenandungkan lagu yang menutup film itu: Hidupmu indah bila kau tahu jalan mana yang benar….

            Itu memang bukan lagu yang khusus digubah untuk film ini – Anda yang menyimak album AFI Junior tentu mengakrabinya. Toh terasa pas lagu itu menggarisbawahi pesan film ini, pesan tentang perjuangan hidup dan harapan. Pesan itu dibungkus dalam sebuah kisah yang bersahaja, namun amat membumi: kerinduan seorang anak untuk mendapatkan sekolah yang lebih baik.

            Nama anak itu Denias (Albert Fakdawer), dari salah satu suku di pedalaman Papua. Ia baru saja memasuki masa akil balik, ditandai dengan upacara pemasangan koteka dan pemisahan honai. Bersama kawan sebayanya, ia suka berburu kuskus, bermain bola, berebut permen, dan berkelahi. Namun, ia juga paling menonjol dalam pelajaran di sekolah, yang diadakan di sebuah pondok kayu di atas gunung.

            Ibunyalah yang pertama menanamkan pentingnya bersekolah. “Gunung takut sama anak sekolah,” kata sang ibu. Gurunya (Mathias Muchus) sendiri yakin, kelak ia bisa menjadi ahli matematika. Maleo (Ari Sihasale), seorang tentara, yang mengajarkan bahwa asal ada kemauan kita bisa belajar di mana saja, bercerita tentang sekolah fasilitas di balik gunung.

            Ketika orang-orang yang dicintainya itu satu per satu meninggalkannya, Denias bertekad untuk tetap sekolah. Ia meninggalkan rumah, dan berjalan berhari-hari melintasi gunung, hutan, dan sungai, mencari sekolah fasilitas yang diceritakan Maleo. Ternyata sekolah itu dikhususkan bagi anak kepala suku atau suku terdekat saja.

 

            Sebuah kisah yang biasa, tidak neko-neko, namun malah mengagetkan, bukan? Mengagetkan, dalam arti, kok ya sebelumnya tidak ada yang terpikir mengangkat kisah-kisah semacam ini. Perfilman Indonesia yang konon tengah bangkit itu masih didominasi oleh drama percintaan ABG dan horor. Upaya Garin untuk menampilkan keragaman etnis di bangsa ini, tidak banyak yang mengikuti jejaknya.

            Kini Denias, dengan cara yang lebih mudah dikunyah, kembali mengingatkan bahwa Indonesia itu bukan cuma Jakarta. Meskipun persoalan yang digarapnya bisa saja dipindahkan ke bagian Indonesia yang lain (bukankah di Jawa sendiri tidak sedikit anak yang tersisih dalam pendidikan?), syukurlah awak film ini mau repot-repot mempertahankan latar Papua untuk kisah yang diangkat dari kisah nyata ini. Kapan dalam film Indonesia kita bisa melihat upacara berkabung potong jari dan mandi lumpur, atau melihat kuskus, atau mengintip interior sebuah honai? Dibalut dalam gambar-gambar indah pula, yang cocok untuk dijadikan wallpaper.

            Ke-Papua-an juga kental dalam dialognya. Karena beruntung sempat bergaul dengan beberapa sahabat dari Papua, saya seperti mengalami déjà vu saat menyimak dialog-dialog sepanjang film ini. Marcella Zalianty dan Nia Zulkarnaen pun gaya bicaranya seperti sudah bertahun-tahun tinggal di Papua. Yang terdengar aneh malah Michael Jakarimilena, pemeran Bapak Denias. Cengkoknya agak n-Jawani (kau kelamaan tinggal di Jawa-kah, Mike?). Singkatnya, berbeda dengan dialog film dan sinetron Indonesia lainnya, yang rasanya serba lu dan gue, film ini kuyup dengan penalaran, tuturan, dan guyonan yang terasa, meminjam istilah anak Jakarta, Papua banget gitu, lho!

Penalaran sang bapak saat menegur Denias gara-gara berkelahi dengan Noel itu, misalnya, begitu polos dan karenanya justru menohok serta sekaligus amat lucu. Atau, lelucon tentang anak ayam turun seratus itu. Yang istimewa bukan leluconnya, namun gaya penuturannya. Kalau bukan orang Papua yang menuturkannya, rasanya tak akan seheboh itu. Coba deh kalau Ekstravagansa mau mencobanya! Dan, kayaknya kisah Enos dan buku rapotnya berpotensi untuk dibikin film tersendiri; siapa tahu bisa menjadi Gods Must Be Crazy ala Papua?

Untuk menghindari kesan menggurui, tim penulis skenario (Jeremias Nyangoen, Masree Ruliat, Monty Tiwa) berhasil menyampaikan pesan secara unik: melalui cerita dan metafora. Nasihat sang ibu itu, misalnya, yang menggugah tekad Denias untuk menaklukkan gunung. Juga, judul Senandung di Atas Awan itu sendiri, bisa menebak dari mana asalnya? Saya terlongong-longong saat Pak Guru mengaitkan senandung itu dengan dongeng Jack dan kacang polong. Memanjat kacang polong ternyata sarana untuk memandang dunia dari perspektif baru: di atas awan!

Menarik diperbandingkan cara Bapak dan Maleo menghibur Denias sepeninggal sang ibu. Bapak memperhadapkannya dengan fakta-fakta mentah, seperti jarinya yang terpotong. Tak berhasil. Maleo menceritakan pengalaman serupa yang pernah ditanggungnya. Hati Denias pun luluh.

Cerita diperlihatkan memiliki kekuatan lebih untuk menanamkan nilai-nilai ketimbang sekadar petuah dan ceramah. Cerita, entah yang digali dari khasanah imajinasi entah berangkat dari pengalaman pribadi, membuhulkan hubungan kita dengan sesama, dan menemalikan dunia kecil kita dengan dunia luar yang lebih luas.

Ada yang mengeluhkan kurang utuhnya sosok para pemain pendukung dalam kisah ini. Namun, mengingat pengisahan dipotret dari sudut pandang Denias, hal itu bisa dimaklumi. Bukankah kita juga cenderung mengingat-ingat guru kita di SD sekadar sebagai Pak Guru atau Bu Guru?

            Yang terasa kurang sigap memang alur pengisahannya, sepertinya kurang yakin bahwa penonton sudah cukup memahami kesulitan Denias. Episode di desa Denias dan di sekolah fasilitas juga seolah terputus. Apakah bapak Denias, atau paling salah satu sanaknya, tidak pergi mencarinya?

            Sedikit kecelakaan, untuk sebuah kisah yang diangkat dari kisah nyata, film ini tidak mencantumkan lokasi dan titimangsa yang jelas. Saya curiga, ini demi kompromi untuk memungkinkan penempatan produk oleh sponsor. Mengingat Janias (Denias yang sesungguhnya) saat ini masih kuliah, kisah film ini kira-kira berlangsung sepuluh tahun yang lalu – nah, saat itu, seingat saya, belum ada mi instan dengan merk seperti yang muncul di film ini.

            Selebihnya, saya menyatakan salut pada segenap awak penggagas, penggarap, dan pendukung film ini. Kalau dulu saya cuma bisa takjub dengan film-film neo-realis Iran (Children of Heaven, White Balloon, Color of Paradise), film-film rural Zhang Yimou (Not One Less, The Road Home, Riding Alone for Thousands of Miles), atau film-film seperti Central Station dari Brasil, Denias menyembulkan potensi perfilman Indonesia untuk melahirkan film-film sekelas itu. Alngkah indahnya bila para produser sudi repot-repot menempuh ‘jalan yang benar’ – antara lain seperti yang dijalani Denias. Itu sudaaah…. ***

11 Responses to “Denias: KIsah yang Biasa, Film yang Tidak Biasa”

  1. Sidik Nugroho Says:

    Denias memang hebat. Terobosan baru. Dan, ulasan ini lebih bermagnet daripada ulasan Garin di Tempo terbaru (hehe…) karena di sini banyak mengisahkan kejadian di film, alur, dan tokoh-tokohnya.

    Entahlah, kru pembuat film Denias ada atau tidak yang pernah membaca Laskar Pelangi karya Andrea Hirata sebelumnya. Sebagai buku, Laskar Pelangi kurasa lebih bagus daripada film Denias — walau membandingkan buku dan film rasanya kurang sejajar. Namun, setelah membaca buku Laskar Pelangi — juga Sang Pemimpi karya penulis sama — lalu tak lama kemudian nonton Denias, beberapa adegan terkesan klise dan kaku di film ini.

    Setuju, kelemahannya terletak pada pengisahan yang lambat. Endingnya, aku setuju dengan Mas Garin, lebih bagus pada adegan Enos kembali ke sekolah membawa rapor.

    Dan, bagiku… Marcella Zallianty tampaknya makin lama makin cantik. Apa gara-gara dia pakai Ponds ya? :-)

  2. Pauline Says:

    Sebagai sesama orang Indonesia Bagian Timur, pada awal film ini saya terus2an menangis. Saya sungguh bisa merasakan apa yang saudara2 (Gen-Mud) di Papua rasakan. Tapi selanjutnya saya bisa tertawa terbahak-bahak. Ale, ko mantap skali!

    Setelah membaca ulasan Saudara Arie, saya juga terharu. Ternyata bukan hanya kami yang merasakan senasib sepenanggungan itu.

    Untuk Nia dan Marcella, saya salut. Saudari berdua ini ikut mengembangkan nasionalisme terhadap suku2 lain di luar Jawa, karena saya yakin, istilah2 yang dipakai akan ngetop sebagai slung.

  3. eko Says:

    itu sudaaah… :D

  4. eshA Says:

    ini film fav aq
    q sangat kagum dengan kisah cerita
    dan setting tempatnya
    albert jg sangat bagus memerankan tokoh denias

  5. NANDO with Says:

    wowoow film nya Cadas amat Palagi PEVITA PEARCE SEnYUm nYA PENUh AURA

  6. NANDO with Says:

    PEVITA PEARCE SEnYUm nYA PENUh AURA

    ALBERT SukSES TErus BUAT mu

    FILMYA bikin gw semanGAT buat meWujDUKAN impiann GW JD pemAIN BASKET d NBA

  7. NANDO with Says:

    film Ini bikin Gw makIn MAntap supaya gw jg bisa sekolah d USA, dan maen basket d NBA.. memang terdengar impossible, tapi mengikuti perjuanggan denias pasti gw bisa…….

  8. Arie Saptaji Says:

    Selected as the official Indonesian entry to the 2008 80th Academy Awards, in the Best Foreign Language Film category. It beat out two other competing films, namely “Opera Jawa” and “Photograph”.

  9. Arie Saptaji Says:

    “Denias, Senandung di Atas Awan” terpilih sebagai Film Anak Terbaik dalam ajang Asia Pacific Screen Awards 2007, diumumkan 13 November di Gold Coast, menyisihkan The Bicycle/Gulong (Philiphina), Locksmith/Ghofl-Saz (Iran), Mother Nanny/Inang Yaya (Philiphina), dan Mukhsin (Malaysia). Wow! Moga berjaya juga di Oscar — kalau sampai masuk nominasi kan breakthrough tuh! Dan, ketahuan, harusnya ini pelem yang menang di ffi kemarin — masak ekskul? nah, karena citra untuk ekskul sudah dibatalin, kenapa tidak diserahkan pada film yang berhak?

  10. BoBe Says:

    denias keren bgt…..ga beda jauh ma krennya trik denian…

  11. guh teguh Says:

    This is so amazing, cause this is the film about an experience of someone who never give up, and hard work continously, just for “succes”. it tells us a lot of things that we can learn. Just see denias’ life, we know that all the things that he’ve got, it all really from his self, he can change his life with his spirit and everythings that he has. But… in the final, yes… as usuall, always there’s a love, he loves angel, the girl who admired denias ’cause he always hard to give up. I think… we may get a beauty girlz if we have very much positive side, yeah… it sounds stupid.! but it just the thing that i learn, the girls will love us if we have it. okay… that all up to you, you want to hear me or not, but you can try it !!!!

Leave a Reply