Archive for October, 2006

Denias: KIsah yang Biasa, Film yang Tidak Biasa

Tuesday, October 31st, 2006

Denias_1Salah satu isyarat film bagus, konon, adalah kalau sepulang nonton Anda mendapati diri Anda menyenandungkan lagunya. Begitulah yang saya alami saat nonton Denias, Senandung di Atas Awan, film layar lebar pertama John de Rantau. Sembari keluar dari bioskop, dengan perasaan hangat saya ikut menyenandungkan lagu yang menutup film itu: Hidupmu indah bila kau tahu jalan mana yang benar….

            Itu memang bukan lagu yang khusus digubah untuk film ini – Anda yang menyimak album AFI Junior tentu mengakrabinya. Toh terasa pas lagu itu menggarisbawahi pesan film ini, pesan tentang perjuangan hidup dan harapan. Pesan itu dibungkus dalam sebuah kisah yang bersahaja, namun amat membumi: kerinduan seorang anak untuk mendapatkan sekolah yang lebih baik.

            Nama anak itu Denias (Albert Fakdawer), dari salah satu suku di pedalaman Papua. Ia baru saja memasuki masa akil balik, ditandai dengan upacara pemasangan koteka dan pemisahan honai. Bersama kawan sebayanya, ia suka berburu kuskus, bermain bola, berebut permen, dan berkelahi. Namun, ia juga paling menonjol dalam pelajaran di sekolah, yang diadakan di sebuah pondok kayu di atas gunung.

            Ibunyalah yang pertama menanamkan pentingnya bersekolah. “Gunung takut sama anak sekolah,” kata sang ibu. Gurunya (Mathias Muchus) sendiri yakin, kelak ia bisa menjadi ahli matematika. Maleo (Ari Sihasale), seorang tentara, yang mengajarkan bahwa asal ada kemauan kita bisa belajar di mana saja, bercerita tentang sekolah fasilitas di balik gunung.

            Ketika orang-orang yang dicintainya itu satu per satu meninggalkannya, Denias bertekad untuk tetap sekolah. Ia meninggalkan rumah, dan berjalan berhari-hari melintasi gunung, hutan, dan sungai, mencari sekolah fasilitas yang diceritakan Maleo. Ternyata sekolah itu dikhususkan bagi anak kepala suku atau suku terdekat saja.

 

            Sebuah kisah yang biasa, tidak neko-neko, namun malah mengagetkan, bukan? Mengagetkan, dalam arti, kok ya sebelumnya tidak ada yang terpikir mengangkat kisah-kisah semacam ini. Perfilman Indonesia yang konon tengah bangkit itu masih didominasi oleh drama percintaan ABG dan horor. Upaya Garin untuk menampilkan keragaman etnis di bangsa ini, tidak banyak yang mengikuti jejaknya.

            Kini Denias, dengan cara yang lebih mudah dikunyah, kembali mengingatkan bahwa Indonesia itu bukan cuma Jakarta. Meskipun persoalan yang digarapnya bisa saja dipindahkan ke bagian Indonesia yang lain (bukankah di Jawa sendiri tidak sedikit anak yang tersisih dalam pendidikan?), syukurlah awak film ini mau repot-repot mempertahankan latar Papua untuk kisah yang diangkat dari kisah nyata ini. Kapan dalam film Indonesia kita bisa melihat upacara berkabung potong jari dan mandi lumpur, atau melihat kuskus, atau mengintip interior sebuah honai? Dibalut dalam gambar-gambar indah pula, yang cocok untuk dijadikan wallpaper.

            Ke-Papua-an juga kental dalam dialognya. Karena beruntung sempat bergaul dengan beberapa sahabat dari Papua, saya seperti mengalami déjà vu saat menyimak dialog-dialog sepanjang film ini. Marcella Zalianty dan Nia Zulkarnaen pun gaya bicaranya seperti sudah bertahun-tahun tinggal di Papua. Yang terdengar aneh malah Michael Jakarimilena, pemeran Bapak Denias. Cengkoknya agak n-Jawani (kau kelamaan tinggal di Jawa-kah, Mike?). Singkatnya, berbeda dengan dialog film dan sinetron Indonesia lainnya, yang rasanya serba lu dan gue, film ini kuyup dengan penalaran, tuturan, dan guyonan yang terasa, meminjam istilah anak Jakarta, Papua banget gitu, lho!

Penalaran sang bapak saat menegur Denias gara-gara berkelahi dengan Noel itu, misalnya, begitu polos dan karenanya justru menohok serta sekaligus amat lucu. Atau, lelucon tentang anak ayam turun seratus itu. Yang istimewa bukan leluconnya, namun gaya penuturannya. Kalau bukan orang Papua yang menuturkannya, rasanya tak akan seheboh itu. Coba deh kalau Ekstravagansa mau mencobanya! Dan, kayaknya kisah Enos dan buku rapotnya berpotensi untuk dibikin film tersendiri; siapa tahu bisa menjadi Gods Must Be Crazy ala Papua?

Untuk menghindari kesan menggurui, tim penulis skenario (Jeremias Nyangoen, Masree Ruliat, Monty Tiwa) berhasil menyampaikan pesan secara unik: melalui cerita dan metafora. Nasihat sang ibu itu, misalnya, yang menggugah tekad Denias untuk menaklukkan gunung. Juga, judul Senandung di Atas Awan itu sendiri, bisa menebak dari mana asalnya? Saya terlongong-longong saat Pak Guru mengaitkan senandung itu dengan dongeng Jack dan kacang polong. Memanjat kacang polong ternyata sarana untuk memandang dunia dari perspektif baru: di atas awan!

Menarik diperbandingkan cara Bapak dan Maleo menghibur Denias sepeninggal sang ibu. Bapak memperhadapkannya dengan fakta-fakta mentah, seperti jarinya yang terpotong. Tak berhasil. Maleo menceritakan pengalaman serupa yang pernah ditanggungnya. Hati Denias pun luluh.

Cerita diperlihatkan memiliki kekuatan lebih untuk menanamkan nilai-nilai ketimbang sekadar petuah dan ceramah. Cerita, entah yang digali dari khasanah imajinasi entah berangkat dari pengalaman pribadi, membuhulkan hubungan kita dengan sesama, dan menemalikan dunia kecil kita dengan dunia luar yang lebih luas.

Ada yang mengeluhkan kurang utuhnya sosok para pemain pendukung dalam kisah ini. Namun, mengingat pengisahan dipotret dari sudut pandang Denias, hal itu bisa dimaklumi. Bukankah kita juga cenderung mengingat-ingat guru kita di SD sekadar sebagai Pak Guru atau Bu Guru?

            Yang terasa kurang sigap memang alur pengisahannya, sepertinya kurang yakin bahwa penonton sudah cukup memahami kesulitan Denias. Episode di desa Denias dan di sekolah fasilitas juga seolah terputus. Apakah bapak Denias, atau paling salah satu sanaknya, tidak pergi mencarinya?

            Sedikit kecelakaan, untuk sebuah kisah yang diangkat dari kisah nyata, film ini tidak mencantumkan lokasi dan titimangsa yang jelas. Saya curiga, ini demi kompromi untuk memungkinkan penempatan produk oleh sponsor. Mengingat Janias (Denias yang sesungguhnya) saat ini masih kuliah, kisah film ini kira-kira berlangsung sepuluh tahun yang lalu – nah, saat itu, seingat saya, belum ada mi instan dengan merk seperti yang muncul di film ini.

            Selebihnya, saya menyatakan salut pada segenap awak penggagas, penggarap, dan pendukung film ini. Kalau dulu saya cuma bisa takjub dengan film-film neo-realis Iran (Children of Heaven, White Balloon, Color of Paradise), film-film rural Zhang Yimou (Not One Less, The Road Home, Riding Alone for Thousands of Miles), atau film-film seperti Central Station dari Brasil, Denias menyembulkan potensi perfilman Indonesia untuk melahirkan film-film sekelas itu. Alngkah indahnya bila para produser sudi repot-repot menempuh ‘jalan yang benar’ – antara lain seperti yang dijalani Denias. Itu sudaaah…. ***

The Departed: Dunia Tanpa Suluh Moral

Wednesday, October 18th, 2006

Departed Apa yang kita harapkan dari sebuah film tentang polisi, penjahat, dan mata-mata? Dar-der-dor, kejar-kejaran kucing-tikus, adu kecerdikan dan kelicikan? Bagaimana kalau kisah itu juga menyusupkan pertanyaan-pertanyaan seputar identitas diri dan pilihan moral, menggugat peran tangan nasib dan pengaruh lingkungan, serta memilinnya dalam tragedi yang menohok? Mungkinkah kita menghembalangkan kejahatan dengan menyusup dan mengambil bagian dalam sistem yang jahat itu sendiri?
Ide itu ditawarkan empat tahun lalu oleh sebuah film Hong Kong, Infernal Affairs (IA), garapan Andrew Lau & Alan Mak. Skenarionya, ditulis Mak dan Felix Chong, selain mengungkap dunia polisi dan penjahat secara segar, juga mendedah sisi-sisi psikologis para tokohnya yang memantik pertanyaan-pertanyaan tadi. Didukung bintang papan atas (Tony Leung, Andy Lau, Anthony Wong dan Eric Tsang), digarap secara elegan, film ini memikat publik Hong Kong dan berjaya di box office setempat. Dalam 22nd Annual Hong Kong Film Awards film ini diganjar 7 penghargaan, termasuk sebagai film terbaik.
Hollywood ternyata tergoda untuk mengadaptasinya. Warner Bros. meminta tak kurang dari Martin Scorsese untuk membesutnya. Deretan pemerannya pun tak tanggung-tanggung pula: Leonardo DiCaprio, Matt Damon, Jack Nicholson, Mark Wahlberg, Martin Sheen, Ray Winstone, Alec Baldwin. Kini hadir sudah The Departed. Tak ayal orang membanding-bandingkannya: kalau tidak dengan IA, ya dengan karya-karya Scorsese sebelumnya.
Skenario The Departed ditulis oleh William Monahan dengan memboyong kisah ke Boston, tempat kepolisian Massachusetts bertarung dengan gang Irlandia. Seorang polisi berlatar belakang keluarga penjahat, Billy Costigan (DiCaprio), ditantang oleh Kapten Queenan (Sheen) dan Sersan Dignam (Wahlberg) untuk menyusup ke dalam sindikat penjahat yang dikepalai oleh Frank Costello (Nicholson). Costigan berhasil menjadi orang kepercayaan Costello dalam waktu singkat.
Di sisi lain, seorang polisi lain, Colin Sullivan (Damon), yang berasal dari keluarga baik-baik, karirnya menanjak pesat dan dipercaya bergabung dalam Unit Investigasi Khusus, yang diketuai Kapten Ellerby (Baldwin). Sullivan ini ternyata dididik Costello sejak kecil, dan sengaja disusupkan ke kepolisian sebagai informan bagi sindikat kriminalnya.
Keduanya menjalani kehidupan ganda untuk tugasnya masing-masing sampai kepolisian dan sindikat sama-sama tersadar bahwa ada mata-mata di tengah mereka. Costigan dan Sullivan mesti adu cepat membongkar identitas satu sama lain untuk menyelamatkan dirinya.
Didukung editing yang tangkas, kisah berzig-zag serba bergegas, berganti-ganti antara Sullivan dan Costigan, dengan dialog demi dialog yang mencecar seperti senapan mesin (sampai-sampai subtitlenya pun beberapa kali kepontal-pontal, telat menerjemahkannya). Sayangnya, bagi yang sudah nonton IA, unsur suspense sudah jauh berkurang, dan zig-zag yang maksudnya hendak mengelabui itu terasa terang benderang ketahuan ke mana ujungnya.
Unsur lain yang segera menonjol adalah akting para pemainnya. Nama-nama yang sudah dideretkan di atas tampil prima. Damon dengan mantap memadukan perannya di The Talented Mr. Ripley dan The Bourne Indetity. DiCaprio menunjukkan bahwa bocah yang sangat menjanjikan dalam What’s Eating Gilbert Grape ini memasuki tahap kematangan yang mengesankan. Baldwin dan Wahlberg tampil segar. Adapun Jack Nicholson seperti arwah Jack Torrance yang bangkit lagi dari potret yang membeku di Hotel Overlook.
Bila dibandingkan dengan karya-karya Scorsese lainnya, terutama yang sejenis, The Departed belum semenjulang puncak pencapaian empu satu ini: Mean Streets, Taxi Driver, Raging Bull, Goodfellas. Hiruk pikuk laganya kurang diimbangi dengan kesubliman. Perbandingan dengan film aslinya juga akan memperlihatkan sejumlah celah.
Dengan durasi 2,5 jam, hampir satu jam lebih panjang dari film aslinya, pertanyaannya kemudian: sejauh mana Scorsese melakukan pengembangan, dan berhasilkah? Dan sebenarnya bukan sepenuhnya pengembangan karena Scorsese juga melakukan pemadatan di sana-sini, dan bahkan memasukkan unsur cerita yang dalam IA baru muncul dalam dua film lanjutannya. Latar belakang Costigan, misalnya, pada padanan Hong Kongnya baru muncul dalam IA II.
Perbedaan yang segera menonjol, IA terkesan relatif lebih ‘bersih’, paling tidak dalam soal semprotan kata-kata lucah dan semburan darah. Apakah polisi Boston memang lebih carut dan lebih sadis daripada polisi Hong Kong, entahlah. Efek pada kedua tokoh mata-mata itu: dalam versi Hong Kong mereka terasa lebih kontemplatif atas efek penyamaran masing-masing, sedangkan Costigan dan Sullivan lebih banyak disibukkan dengan laga dan adu mulut.
Dua tokoh perempuan dalam IA digabung menjadi satu tokoh di sini, Madolyn (Vera Farmiga). Cinta segitiganya dengan Costigan dan Sullivan merefleksikan dinamika hubungan kedua mata-mata itu dengan orang-orang lain. Dengan Sullivan, yang tampak nyaman dalam penyamarannya sebagai polisi, ia serumah, namun ada tembok tak kasat mata dalam hubungan mereka. Sebaliknya, dengan Costigan, yang gelisah atas keterlibatannya dengan gang penjahat, semula ia jengah namun akhirnya menjadi intim. Namun, sosok Madolyn sendiri bermasalah: penonton tak ayal akan mempertanyakan profesionalitas sebagai seorang psikolog.
Perampingan yang mengganggu terjadi pada sosok Queenan. (Apakah karena Scorsese batal merekrut De Niro?) Berbeda dengan Wong dalam IA, di sini ia sekadar atasan Costigan, bukan sekaligus figur ayah baginya. Akibatnya, pertama, tidak ada tandingan bagi sosok Costello di tubuh kepolisian. Kedua, peristiwa di gedung bertingkat itu menjadi kurang menohok secara emosional. Juga, tidak ada tokoh yang berpotensi menjadi suluh moral dalam dunia yang serba gelap - baik di pihak kepolisian maupun di pihak gangster - ini.
Cukup ironis, karena judul The Departed mengacu pada istilah Gereja Katholik bagi orang yang berpulang pada Penciptanya, lengkapnya "the faithful departed". Tokoh-tokoh dalam film ini memang bergumul dengan kesetiaan - kesetiaan pada keluarga, bos, korps, diri sendiri (baca: egois) - namun Tuhan tampaknya tidak masuk hitungan. Gereja hanya hadir di latar belakang, berdiri di kejauhan, sebuah lembaga yang steril dan impoten, dengan imam-imamnya dilecehkan. Mungkin ini yang hendak digarisbawahi Scorsese: Bila Tuhan disingkirkan, apa saja halal dilakukan. ***

Kebenaran Itu So What Gitu Lho?

Wednesday, October 18th, 2006

Misquoting Setelah geger The Da Vinci Code, disusul heboh The Gospel of Judas, kini muncul satu lagi buku yang mempertanyakan iman Kristen. Judulnya Misquoting Jesus: The Story Behind Who Changed the Bible and Why karya Bart Ehrman, terbit pertama 1 November 2005 (terjemahannya diterbitkan GPU September 2006), dan disebut Washington Post (WP) sebagai "salah satu buku laris yang paling tak terduga tahun ini".
WP menggambarkan Ehrman sebagai "sarjana fundamentalis yang menelisik dengan sangat cermat asal-usul Kekristenan sampai dia malah kehilangan imannya". Lulusan Moody Bible Institute, Wheaton College, dan Princeton Seminary ini, setelah tiga dekade menelaah Kitab Suci, menjadi seorang agnostik (berpandangan bahwa kebenaran tertinggi tidak dapat diketahui dan mungkin tidak akan dapat diketahui).
Bukunya itu berupa kritik tekstual terhadap Perjanjian Baru (PB), yang dirangkum WP sebagai "suatu kajian tentang bagaimana 27 kitab PB dicampur aduk menjadi satu, suatu sejarah yang kaya dengan politik gerejawi, penyalinan naskah yang tidak kompeten, dan kesulitan dalam mengangkat tradisi lisan menjadi naskah tertulis."
Lebih jauh, PB yang kita baca saat ini sudah sangat berbeda dari naskah aslinya (otograf). "Ada lebih banyak variasi di antara naskah salinan yang ada pada kita daripada jumlah kata dalam PB," kata Erhman. Ia juga menggugat beberapa bagian PB yang dianggap tidak otentik (misalnya Mrk 16:9-20; Yoh 7:53-8:11; dan 1 Yoh 5:7-8) sebagai fiksi dan opini yang ditambahkan sekian abad sesudah Yesus.

Tidak Menggugurkan Doktrin PB
Sahihkah kritik Erhman? Karena bukan pakar Perjanjian Baru, saya tak bisa banyak berkomentar. Yang saya lakukan adalah mencari pandangan pembanding, dan saya menemukan ulasan kritis Daniel B. Wallace, yang dapat diunduh di situs bible.org. (Ulasan lain bisa dicari melalui Google.)
Dari ulasan Wallace, setidaknya dapat saya simpulkan dua hal. Pertama, jumlah variasi yang disebutkan Erhman, secara kuantitas memang betul, namun secara kualitas terlalu berlebihan. Hal ini berkaitan dengan karakteritik tata bahasa Yunani yang dipakai untuk menulis PB. Wallace memberi contoh, untuk menyatakan "Yesus mengasihi Paulus", ada paling tidak 16 cara, dan itu pun baru sebagian kecil kemungkinan. Dengan demikian, adanya 400.000 variasi di antara 5.700 manuskrip kuno PB, yang penyalinannya dilakukan secara manual, secara kuantitas masih terhitung wajar. Yang lebih penting, secara kualitas, sebagian besar variasi itu bersifat minor, seperti salah eja, terbaliknya susunan kata, dsb. Hanya 1% variasi yang cukup berarti, dan variasi itu pun masih dapat dirunut akarnya dengan memperbandingkan berbagai manuskrip yang ada.
Ini berkaitan dengan kesimpulan kedua, yaitu bahwa variasi tersebut, dan juga penambahan perikop yang tidak otentik, tidak mengubah pesan pokok dan doktrin utama PB. Hal itu tidak menggugurkan doktrin inerrancy (ketidaksalahan Kitab Suci), karena inerrancy mengacu pada kebenaran pernyataan, bukan kepersisan kata demi kata (yang ini berkaitan dengan inspirasi pada para penulis otograf Kitab Suci).
Variasi itu lebih menunjukkan kekurangtelitian penyalinan yang manusiawi. Kalau Erhman menuntut setiap manuskrip harus bebas-salah untuk menunjukkan bahwa Alkitab itu diilhamkan oleh Allah, rasanya yang mesti melakukan penyalinan haruslah malaikat. Mesin cetak paling canggih sekalipun masih bisa error, ‘kan?
Jadi, variasi itu bukan suatu kesengajaan, bukan buah konspirasi penuh muslihat dan intrik politik demi menyebarkan dusta. Jauh dari itu. Seperti diungkapkan Dryden dalam sebuah syairnya, "Dari mana selain dari Surga, manusia yang tidak mahir dalam kesenian, / Terlahir dalam berbagai zaman, tersebar di berbagai daerah, / Dapat menenun kebenaran yang bersesuaian? Atau bagaimana, atau mengapa / mereka semua bersekongkol untuk menipu kita dengan sebuah kebohongan?"

Kenapa Laku Keras?
Selanjutnya, sebagai jemaat awam, yang tak kalah mengusik saya adalah pertanyaan: kenapa buku-buku provokatif semacam ini laku keras? Wallace melontarkan suatu kemungkinan, "Yah, Yesus adalah komoditas yang menjual. Namun, bukan Yesus seperti yang dipaparkan dalam Alkitab. Yesus yang menjual adalah Yesus yang cocok bagi manusia pascamodern." Dengan kata lain, Yesus yang gampang dicerna. Yesus sebagai "Allah sepenuhnya dan Manusia sepenuhnya" terlalu memualkan bagi perut mereka.
Buku semacam ini memikat bagi orang-orang skeptis yang ingin menemukan alasan-alasan untuk tidak percaya. Kian jelas bahwa sebagian orang menolak Alkitab karena Alkitab tidak sesuai dengan filosofi atau teori akademis mereka. Yang lain lagi menolak Alkitab karena mereka menentang atau melawan standar moral Alkitab yang tegas.
Misquoting Jesus dan buku-buku sejenis secara provokatif berusaha menggerogoti klaim kebenaran obyektif dalam Alkitab. Yesus hanya nabi dan manusia bermoral luhur. Yesus bukan satu-satunya jalan menuju Allah. Alkitab telah disimpangkan dan dipolitisasi. Alkitab itu penuh dengan mitos. Dan seterusnya.
Hal itu membawa saya untuk memeriksa lagi implikasi dua klaim utama tentang kebenaran. Tunggu dulu. Kebenaran? Hm, rasanya itu sebuah wacana yang terlalu rumit bagi orang kebanyakan, biarlah itu menjadi kunyahan para filsuf dan teolog saja.
Saya kurang sependapat. Kebenaran bukanlah pengetahuan esoteris, yang hanya bisa diketahui oleh orang-orang tertentu. Ramifikasinya memang bisa sangat kompleks dan sanggup "meledakkan" otak para filsuf dan teolog yang paling mumpuni sekalipun. Namun, intisari kebenaran hakiki tentulah cukup sederhana untuk bisa dipahami oleh orang kebanyakan yang bersedia mencari dan bertanya secara jujur. Dari perspektif inilah saya mencoba meneropong.

Dua Klaim Kebenaran
Klaim pertama, kebenaran itu subyektif. Eksistensi kita mendahului esensi kita. Kita ada dulu, baru kita memaknai hakikat kita. Kebenaran, jadinya, terpulang pada diri kita masing-masing. Apa yang benar bagiku, belum tentu benar bagimu. Semuanya relatif. Kalau kamu mati, itu hanya berarti bahwa eksistensimu berakhir, tidak lebih baik dan juga tidak lebih buruk daripada nasib nyamuk yang tewas kita tepuk.
Alkitab, sebaliknya, menggarisbawahi bahwa kebenaran itu obyektif. Bukan kita yang menentukan kebenaran, melainkan, meminjam ungkapan Francis Schaeffer, The God who is there. Allah adalah Realitas Absolut yang berada di luar diri kita, bahkan Dialah Pencipta kita. Dia bukan hanya Sumber Kebenaran, namun Dialah Kebenaran itu sendiri. Hidup kita, antara lain, adalah pertanggungjawaban terhadap Kebenaran itu.
Dari situ, kita bisa berandai-andai. Seandainya klaim pertama yang benar, orang yang berpegang pada kebenaran obyektif tidak akan terlalu bermasalah. Kalau benar "segala sesuatu itu relatif", bukankah pandangan bahwa "Allah itu Realitas Absolut" secara relatif tetap benar? Bagi mereka yang berpegang pada kebenaran obyektif, hidup ini sendiri suatu karunia indah yang layak disyukuri, dinikmati, dirayakan, dan dijalani secara arif. Kalaupun pada saat meninggal dunia eksistensi mereka berakhir begitu saja, dan ternyata tidak ada surga (atau pun neraka, tentunya), ya so what gitu lho? Enggak ada ruginya, kok.
Sebaliknya, kalau klaim kedua yang benar, orang yang mengukuhi kebenaran subyektif akan mendapatkan masalah. Mereka harus berhadapan dengan kebenaran obyektif bahwa "manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja, dan sesudah itu dihakimi." Mereka harus mempertanggungjawabkan penyangkalan mereka terhadap Kebenaran. Akankah mereka bisa berdiri di hadapan Sang Realitas Absolut dan dengan acuh tak acuh bersikap: So what gitu lho? ***