Sentuhan yang Menyembuhkan

Rene Spitz, sorang dokter anak dan psikiater, meneliti 164 anak. Dalam dua tahun pertama, anak-anak itu dibesarkan di dua panti asuhan yang berbeda. Panti yang satu adalah panti asuhan untuk para bayi dalam sebuah lembaga pemasyarakatan wanita. Panti ini menampung para ibu yang sebagian besar tidak bersuami. Di sana mereka dapat secara sangat intensif memelihara anak-anak mereka dan mengurus diri sendiri.
Panti yang lain adalah panti asuhan yatim piatu yang menampung anak-anak berusia mulai dari tiga bulan. Setiap delapan anak diurus oleh seorang suster. Inilah perbedaan satu-satunya. Selebihnya, keadaan higienis, makanan dan perawatan dokter, semua sama baiknya.
Meskipun di panti yatim piatu itu para suster tadi berusaha dengan sangat tekun dan penuh kasih sayang dalam menjalankan tugasnya, pada akhir penelitiannya Spitz menyimpulkan sebagai berikut:
Anak-anak di panti yatim piatu semua memperlihatkan simptom hospitalismus (semua kerusakan yang muncul akibat tinggal di panti asuhan). Gejala ini bersifat fisik dan sekaligus psikis. Meskipun pemeliharaan kesehatan dan tindakan untuk mencegah berjangkitnya gejala tersebut nyaris sempurna, pada bayi usia tiga bulan tampak bahwa mereka peka terhadap berbagai infeksi dan berbagai macam penyakit. Hampir tidak seorang anak pun dalam laporan kesehatannya tidak berisi keterangan mengenai radang telinga tengah, penyakit campak dan sebagainya, atau keterangan mengenai salah satu penyakit usus.
Sebaliknya, kesehatan dan perkembangan rohani anak-anak di panti asuhan bayi di lembaga pemasyarakatan sangat baik.
Apa penyebabnya? Panti asuhan di lembaga pemasyarakatan menyediakan seorang ibu bagi setiap bayi, yang memberikan semua program yang benar, yang harus diberikan seorang ibu yang baik kepadanya. Sedangkan panti yatim piatu tidak memberikan seorang ibu kepada anak-anak itu - ibu pengganti pun tidak - melainkan hanya seperdelapan perhatian dari seorang suster.
Perhatian. Kepedulian. Sentuhan. Perkara yang kerap kita anggap begitu lumrah, namun nyatanya memiliki dampak yang begitu kuat bagi kesejahteraan jiwa, dan bahkan kebugaran fisik, kita sebagai manusia. "Aku manusia, rindu rasa, rindu rupa," kata penyair Amir Hamzah.
Bukan hanya anak-anak yang masih balita yang merindukannya. Sampai lanjut usia kelak, kita masing-masing senantiasa memerlukan sentuhan dari sesama kita, dari orang-orang yang mencintai kita dan yang kita cintai. Sentuhan bukan hanya menghangatkan, namun juga memancarkan dukungan, peneguhan, pengakuan bahwa kita berharga, penerimaan dan rasa aman.
Saat orang-orang yang kita kasihi gundah, dan kita pun tidak mengerti harus bertindak bagaimana, kita bisa mendekapnya, menyiratkan betapa kita berdiri bagi dia. Sebuah pelukan hangat bisa menggugah pengharapan, membangkitkan keberanian untuk menghadapi tantangan. Atau, kita bisa memeluk seseorang sekadar menyatakan betapa bahagianya kita akan kehadirannya.
Begitu sederhana, dan begitu bermakna. Juga begitu kaya faedah. Mengapa kita tidak memenuhi keluarga kita dengan sentuhan dan pelukan yang penuh kepedulian?  *** [denmas marto]

Leave a Reply