Mendisiplinkan, Bukan Menganiaya

Awal tahun 2006, media massa melaporkan serangkaian peristiwa kekerasan terhadap anak-anak. Dua balita kakak-beradik dibakar ibunya. Gadis berusia tujuh tahun yang sering dianiaya, dibunuh ibu tirinya setelah diperkosa pamannya sendiri. Gadis usia delapan tahun diseterika kakinya oleh ayah kandungnya sendiri karena dituduh mencuri uang. Dan itu barulah pucuk kecil yang tersembul dari gunung es kekerasan terhadap anak-anak.
Prihatin akan merebaknya kasus-kasus serupa, sebagian kalangan lalu menentang sama sekali penggunaan hukuman badaniah dalam mendisiplinkan anak. Mereka mencemaskan eksesnya. Alih-alih sebagai metode disiplin yang efektif, hukuman jasmani cenderung akan mengarah ke penganiayaan. Jadi, daripada menyerempet-nyerempet bahaya, lebih baik tidak sama sekali.
Pertanyaannya, pada tempatnyakah pelanggaran atau penyalahgunaan sesuatu dipakai sebagai alasan untuk melarang atau menghentikan penggunaannya? Bandingkan dengan lalu lintas. Berapa banyak pelanggaran yang mengakibatkan kecelakaan, dari yang ringan hingga yang merenggut nyawa? Tentu saja ada orang yang menderit trauma hebat akibat kecelakaan. Namun, kenapa tidak ada yang menyarankan agar kita semua berhenti berkendaraan sama sekali?
Bila diterapkan secara benar dan tepat sasaran, hukuman badaniah diperlukan dalam pendisiplinan anak. Yang terutama perlu diingat, pendisiplinan tidak akan membuat anak Anda mempertanyakan kasih Anda; sebaliknya, pendisiplinan justru meneguhkan kasih Anda (Ams. 13:24). Dengan kesadaran itu, kiranya kita terhindarkan dari pendisiplinan yang ekstrem.
Hukuman badaniah dilakukan dengan memukul bokong si anak dengan tongkat (rotan) pada saat ia melakukan pembangkangan tertentu. Pukulan itu sebatas membuatnya merasa sakit dan menyadari kesalahannya, namun tidak sampai melukainya.
Bagaimana kita bisa mengetahui bahwa pendisiplinan kita belum tergelincir menjadi penganiayaan? Chuck Swindoll dalam The Strong Family: Growing Wise in Family Life, memaparkan kontras di antara keduanya.

Penganiayaan
Tidak adil dan tidak terduga
Merendahkan martabat dan menghancurkan semangat
Ekstrem - terlalu kasar, brutal
Menyiksa - meninggalkan bekas luka
Akibat kebencian dan sakit hati
Menimbulkan kengerian, kerusakan emosional, dan kebencian terhadap otoritas
Menghancurkan citra diri; mengakibatkan kerusakan yang mengerikan dan permanen serta ketidakmampuan, dalam masa hidupnya kelak, untuk bertanggung jawab.

Pendisiplinan
Adil dan terduga
Menjunjung martabat
Seimbang - memiliki batasan
Menyakitkan - namun tanpa bekas luka
Digerakkan oleh kasih dan kepedulian
Menumbuhkan penghargaan yang sehat terhadap otoritas
Memperkuat citra diri; memampukan si anak untuk nantinya mendisiplinkan dirinya sendiri

Tujuan pendisiplinan adalah mengusir kebodohan yang melekat pada hati anak (Ams. 22:15). Kebodohan, dalam konteks ini, bukan mengacu pada kondisi intelektual. Dalam bahasa Ibrani, kebodohan mengacu pada sikap mencemooh Allah dan membenci perintah, keras kepala dan tidak menghargai otoritas.
Bila dilakukan sejak sedini mungkin, secara seimbang dan konsisten, hukuman badaniah akan menjadi bagian dari pendisiplinan yang efektif untuk membentuk dan mengarahkan kehendak dan kemauan anak (Ams. 22:6). [denmas marto]

One Response to “Mendisiplinkan, Bukan Menganiaya”

  1. FekAngGe Says:

    Saya kurang setuju lho…..
    Sebagai seseorang yang sehari-hari selalu berhadapan dengan anak-anak dari berbagai macam karakter, memang pada awalnya saya gemes sendiri kalau ada anak yang susah banget dikasih tahu. saya belum nyampe ke tindakan fisik tapi gemes aja. lalu saya sharing dengan teman-teman guru, mereka menyarankan agar anak juga perlu dianggap sebagai seseorang yang didengarkan pendapatnya. jika dia tidak mau melakukan apa yang kita minta, kita harus tahu penyebabnya. intinya saling berkomunikasi untuk mengetahui apa keinginan masing-masing. jika anak dilarang, anak harus tahu konsekuensi dan alasan kenapa dia dilarang… jadi pendekatan dengan pendisplinan fisik tidak oke lah……diajak berbicara dan dibuka kognitif nya lebih “beradab” dibandingkan mendisiplinkan secara fisik.

Leave a Reply