Archive for September, 2006

Koper, Gamang dan Membingungkan

Sunday, September 3rd, 2006

Catatan: Resensi ini dimuat di Suara Merdeka, Minggu, 3 September 2006.
Koper_2 Koper itu ditemukan Yahya (Anjasmara), seorang pegawai bagian arsip yang sudah puas dengan pencapaian dan penghasilannya sejauh ini. Istrinya, Yasmin (Maya Hasan), yakin koper itu berisi uang semilyar dari perampokan bank yang diceritakan tetangganya, Sri (Virnie Ismail).
Film ini selanjutnya mencoba memotret benturan sikap dan persepsi antara Yahya dan orang-orang di sekitarnya. Yasmin, yang merengek menginginkan taraf hidup yang lebih baik, mendesak Yahya membuka saja koper itu. Yahya, sebaliknya, bersikukuh mengembalikan koper itu kepada entah siapa pemiliknya, dengan cara apa pun.
Koper itu sendiri entah bagaimana mengubah cara pandang para tetangga dan rekan sekerja Yahya terhadap pria penggemar P. Ramlee itu. Dan Yahya pun mengalami berbagai masalah yang konyol dan absurd. Dalam kegalauan ini, Yahya hanya bisa curhat pada Noni (Djenar Maesa Ayu), seorang penjaga kafe.
Koper adalah karya debut Richard Oh, novelis penggagas Khatulistiwa Literary Award dan pendiri jaringan toko buku QB World Books. Dengan film ini, ia hendak menawarkan sajian black comedy, komedi dibumbui satire. Apakah komedinya menggelitik, dan sindirannya menyentak?
Komedi itu mestinya bisa dibesut untuk menjawab pertanyaan awal ini: Apa sebenarnya isi koper itu? Nyatanya, karena koper itu tak kunjung dibuka sehingga isinya serbaspekulatif, perubahan sikap yang begitu drastis pada orang-orang di sekitar Yahya jadi tak terjelaskan.
Hanya gara-gara dia menemukan sebuah koper, mendadak Pak RT mengerahkan tiga orang centeng berotot untuk mengawal Yahya? Kalau komedi ala Srimulat yang ditawarkan, ya boleh-boleh saja.
Film ini jelas tidak mengarah ke situ. Namun, ia tampak gamang pula di mana hendak berpijak: komedi yang berangkat dari realitas sosial atau komedi yang berlangsung di alam mimpi (ilusi)? Rangkaian shot atau sekuen awal menjanjikan yang pertama. Kecurigaan akan kemungkinan kedua muncul dengan hadirnya tokoh yang diperankan Djaduk Ferianto. Saat Yahya sedang duduk menunggu bus, tokoh itu duduk di sebelahnya, asyik meniup harmonika. Namun, menjelang Yahya naik bus, tokoh itu telah lenyap secara misterius. Hanya ilusi?
Kegamangan tersebut mengisyaratkan bahwa pertanyaan tentang isi koper itu tak terlalu penting. Persoalan yang hendak disodorkan adalah: Apa sebenarnya yang disimbolkan oleh koper itu? Yang menjadi soal selanjutnya, apakah simbolisasi itu terolah dalam bahasa gambar yang unik dan padu?
Kemungkinan paling sederhana, koper itu simbol keberuntungan. Seorang tokoh menyebutnya secara berderet: durian runtuh, rejeki nomplok, jackpot. Namun, selama isi koper itu belum ketahuan, rejeki itu belum nomplok, bukan? Sesederhana itu.
Rumitnya, coba simak adegan di kantor polisi itu. Petugas, yang jelas-jelas meminta uang sogokan saat Yahya hendak melaporkan temuannya, kenapa justru menolak rejeki nomplok itu dengan alasan yang sok filosofis?
Kemungkinan kedua terkait dengan tokoh yang diperankan Djaduk tadi. Sengaja tak disebutkan apa perannya. Karena, di film memang dibuat misterius dan baru jelas saat credit title bergulung. Sayang, penjelasan itu malah membikin penafsiran film ini kian rumit.
Bisa jadi si koper dimaksudkan sebagai simbol sesuatu yang nonmateri. Nonmateri ini bisa macam-macam. Apakah itu kebahagiaan? Kok ditemukannya secara sambil lalu? Juga, kenapa koper ‘kebahagiaan’ itu mesti dikembalikan?
Atau, simbol integritas? Kalau begitu, dilema yang dihadapi Yahya cukup bagaimana ia berjuang mengembalikan koper itu ke pemiliknya yang sah, sementara orang lain mendesaknya untuk membuka dan memanfaatkan sendiri entah apa isinya. Lalu, kenapa orang sekantor jadi ramah padanya dan orang luar antre hendak menjilatnya? Kenapa bagian arsip mendadak jadi mesin uang bagi instansi bersangkutan?
Kemungkinan lain lagi, koper itu, seperti diisyaratkan tagline film ini, tak lain adalah sesuatu yang kita cari, padahal kita tidak tahu apa yang hilang. Koper itu hanya ilusi. Koper itu membangkitkan ilusi yang berbeda pada orang yang berbeda. Atau, sebenarnya hanya Yahya yang berilusi sepanjang film ini? Semuanya serba gamang.
Sebuah film tentu tak diwajibkan memberi jawaban tegas bagi pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkannya. Film tertentu justru sangat menyedot perhatian karena memberi ruang bagi tafsiran yang majemuk. Yang jelas, ia mesti dibesut secara terarah dan konsisten, sehingga potensi tafsiran yang mungkin digali, kendatipun bertentangan, masing-masing tetap memiliki pijakan yang mantap.
Di sinilah Koper terasa kedodoran. Jalinan antara cerita, bahasa gambar dan karakterisasi tokohnya terkesan saling berkelit, membikin film ini sangat licin untuk ditafsirkan. Mau ditafsirkan A, terasa tidak pas; mau ditafsirkan B, kok tidak cocok juga. Alih-alih teka-teki dan kemungkinan multitafsir nan menggelitik, yang tersaji adalah kebingungan.
Tema serupa sebenarnya pernah diangkat dalam dua film jadul, Intan Berduri (dibintangi Benjamin S. dan Rima Melati) dan Sang Guru (dibintangi S. Bagio dan Rahayu Effendi). Masing-masing juga bergenre komedi satire, dan berhasil tampil lebih jernih karena pengisahannya tidak berbelit-belit. Jadi, kalau bisa lurus-lurus saja, kenapa mesti berliku-liku? *** [denmas marto]

Ziarah Keraguan Seorang Penulis

Sunday, September 3rd, 2006

Yancey "Saya menulis buku untuk diri saya sendiri," kata Philip Yancey dalam suatu wawancara. "Saya menulis buku untuk memecahkan perkara yang mengganggu saya, perkara yang saya tidak tahu jawabannya. Buku saya merupakan proses penjelajahan dan penyelidikan. Karenanya, saya cenderung menggarap berbagai persoalan yang berkaitan dengan iman, perkara yang saya anggap penting, yang membuat saya bertanya-tanya dan yang merisaukan bagi saya."
Dengan pendekatan ini, buku-bukunya berhasil menyentuh dan mengusik banyak pembaca. Ia melontarkan isu-isu yang sensitif dan tak jarang kontroversial seperti penderitaan, kekecewaan terhadap Allah dan homoseksualitas. Ia menyajikannya dengan perincian khas seorang wartawan, diimbuhi dengan ironi dan skeptisme yang jujur. Itulah antara lain yang memikat para pembaca karyanya.
Seutas benang merah menonjol yang menautkan tulisan-tulisannya adalah kekecewaan terhadap lembaga gereja. Sikap ini rupanya beranjak dari latar belakang masa lalunya. Philip mengakui dirinya kadang-kadang menjadi orang Kristen yang enggan, "dihantui oleh keraguan dan tengah dalam proses pemulihan dari pengalaman buruk dengan gereja."

Gereja Fundamentalistik
Philip Yancey besar di Atlanta, Georgia, AS, saat segregasi rasial masih mewarnai wilayah itu. Keluarganya berjemaat di gereja yang kaku dan fundamentalistik. Di lingkungan ini Allah tampil sebagai sosok orang tua yang suka menindas: keras, legalistik, pemarah, siap mengayunkan palu setiap kali kita melakukan kesalahan.
Gerejanya tak luput dari sikap rasis. Mereka mencemooh Martin Luther King, dan pendetanya mengejeknya sebagai "Martin Lucifer Coon" dari atas mimbar. Dan mereka bersorak-sorak di gereja saat menonton film yang memperlihatkan polisi memakai anjing dan selang air untuk menghadapi demonstran kulit hitam.
Para pemimpin gerejanya juga mendesak ayah Yancey yang sedang sakit untuk melepaskan alat bantu pernapasan. Mereka meyakinkan bahwa ia akan disembuhkan. Seminggu kemudian ayah Yancey meninggal. Saat itu Yancey baru berumur satu tahun.
Kemudian, melalui buku-buku yang dibacanya, Yancey menemukan jendela untuk memandang dunia yang sesungguhnya. Ia melahap berbagai buku. Buku-buku seperti 1984, Animal Farm, dan To Kill a Mockingbird membukakan pikirannya, menantang pola didikannya dan mempertanyakan segala sesuatu yang telah diajarkan kepadanya.
Semakin banyak ia membaca, semakin frustasilah ia. Perasaan dikhianati melingkupinya sehingga ia melewati kurun waktu ketika ia menolak gereja sama sekali. "Kalau mereka berdusta tentang hal ini, mungkin mereka juga berdusta kepada saya tentang Alkitab dan Yesus dan Allah dan segala sesuatu yang lain," katanya.

Ruang bagi Keraguan
Ia memulai perjalanannya kembali menuju iman melalui perjumpaan dengan dunia yang sangat berbeda dari yang selama ini diajarkan kepadanya. Ia menemukan jejak Tuhan di dalam keindahan alam, musik klasik, dan cinta romantis. Saat mengalami hal itu, ia menyadari bahwa bisa jadi gambaran Allah yang dipahaminya selama ini keliru.
Lingkungan gereja masa kecilnya tidak memberi tempat untuk keraguan. "Pokoknya percaya saja!" kata mereka. Siapa saja yang menyimpang dari kebenaran yang sudah digariskan, mengambil risiko dihukum sebagai pembangkang.
Dalam perjalanan imannya, ia menemukan gereja yang penuh kasih karunia dan komunitas orang Kristen yang memberi tempat yang aman bagi keraguannya. Ia melihat di Injil bahwa murid Yesus, Tomas, tetap bersama-sama murid yang lain walaupun ia tidak bisa mempercayai penuturan mereka tentang kebangkitan Yesus, dan di tengah komunitas itulah, Yesus menampakkan diri untuk memperkuat iman Tomas.
Dengan cara yang sama, teman dan rekan-rekannya di majalah Campus Life, dan kemudian Christianity Today, dan Gereja La Salle Street di Chicago menciptakan pelabuhan penerimaan yang menopang dirinya ketika imannya goyah. Ia bisa berkata di depan kelas yang dia pimpin di gereja, "Saya tahu seharusnya saya mempercayai ini, tapi terus terang, saat ini saya mengalami masalah."
Ia merasa sedih bagi para peragu yang sendirian. "Kita semua memerlukan teman yang bisa dipercaya dalam keraguan," katanya.
Menurutnya, "Hal terbaik yang bisa dilakukan gereja adalah menyediakan tempat yang aman dan terlindung di mana kepercayaan suatu hari bisa tumbuh; kita tidak perlu membawa kepercayaan yang sudah jadi ke pintunya, sebagai tiket masuk. Ketika saya mulai menulis secara terbuka tentang keraguan, dan mempertanyakan beberapa dogma dalam Injil, saya mengira akan menerima penolakan dan hukuman, seperti yang saya alami di masa remaja. Namun, ternyata surat-surat yang marah dan menuding jauh lebih sedikit daripada yang mendukung pertanyaan saya dan hak saya untuk bertanya. Lambat laun, keraguan-keraguan itu mulai kelihatan kurang penting, atau menemukan jawaban, dan saya kira itu terjadi karena ketakutan mencair. Saya belajar bahwa lawan iman bukanlah keraguan, melainkan rasa takut."

Memanjat Gunung
Pergumulan serupa itulah yang mendorongnya meneliti, merenungkan dan menjelajahi pertanyaan-pertanyaan seputar iman. Ia kemudian menuangkannya dalam buku-buku laris seperti Disappointment with God, Where is God When it Hurts?, dan What’s So Amazing About Grace?
Setelah melewati pergumulan iman itu, bagaimana sekarang ia mendekat pada Allah yang dulu ia takuti? Ia meluangkan satu jam setiap pagi untuk membaca buku-buku yang memberinya makanan rohani, merenungkan firman Tuhan, berdoa, dan menikmati hadirat Allah. Saat teduh pagi ini secara khusus dipakainya tak lain untuk "menyesuaikan" diri dengan Allah untuk hari bersangkutan. Kemudian petangnya ia membaca Alkitab, sekitar satu pasal setiap hari. "Saya mencoba untuk tidak berfokus pada pendalaman Alkitab, namun lebih bersifat pada, ‘Bagaimana saya bisa mengenali apa yang tengah Allah katakan kepada saya?’"
Philip Yancey lulus sarjana Komunikasi dan Bahasa Inggris dari Wheaton College Graduate School dan University of Chicago. Ia memulai karier menulisnya dengan menjadi staf redaksi Campus Life Magazine pada 1971, dan bekerja di situ selama sepuluh tahun. Kemudian ia berkonsentrasi sebagai penulis lepas di berbagai media selain menulis kolom bulanan dan menjadi Editor at Large di Christianity Today.
Ia sudah menulis tak kurang dari enam belas buku, yang terjual sampai 13 juta eksemplar. Delapan judul di antaranya memenangi Gold Medallion Awards dari asosiasi penerbit Kristen AS. Para manajer toko buku Kristen memilih The Jesus I Never Knew sebagai Book of the Year pada 1996, dan What’s So Amazing About Grace? pada 1998. Musim gugur tahun ini akan terbit buku terbarunya, Prayer: Does It Make Any Difference?
Tentang harapannya ke depan, ia berkata, "Saya ingin memanjat semua gunung di Colorado yang tingginya lebih dari 14.000 kaki. Ada 54 gunung dan saya sudah memanjat 44 di antaranya. Saya ingin menulis memoar yang kepedihan dan sekaligus kengerian bertumbuh sebagai seorang fundamentalis. Saya ingin tetap menikah dengan wanita yang sama… dan saya ingin terus meningkatkan wawasan dan menemukan tantangan." *** [denmas marto]

Sentuhan yang Menyembuhkan

Sunday, September 3rd, 2006

Rene Spitz, sorang dokter anak dan psikiater, meneliti 164 anak. Dalam dua tahun pertama, anak-anak itu dibesarkan di dua panti asuhan yang berbeda. Panti yang satu adalah panti asuhan untuk para bayi dalam sebuah lembaga pemasyarakatan wanita. Panti ini menampung para ibu yang sebagian besar tidak bersuami. Di sana mereka dapat secara sangat intensif memelihara anak-anak mereka dan mengurus diri sendiri.
Panti yang lain adalah panti asuhan yatim piatu yang menampung anak-anak berusia mulai dari tiga bulan. Setiap delapan anak diurus oleh seorang suster. Inilah perbedaan satu-satunya. Selebihnya, keadaan higienis, makanan dan perawatan dokter, semua sama baiknya.
Meskipun di panti yatim piatu itu para suster tadi berusaha dengan sangat tekun dan penuh kasih sayang dalam menjalankan tugasnya, pada akhir penelitiannya Spitz menyimpulkan sebagai berikut:
Anak-anak di panti yatim piatu semua memperlihatkan simptom hospitalismus (semua kerusakan yang muncul akibat tinggal di panti asuhan). Gejala ini bersifat fisik dan sekaligus psikis. Meskipun pemeliharaan kesehatan dan tindakan untuk mencegah berjangkitnya gejala tersebut nyaris sempurna, pada bayi usia tiga bulan tampak bahwa mereka peka terhadap berbagai infeksi dan berbagai macam penyakit. Hampir tidak seorang anak pun dalam laporan kesehatannya tidak berisi keterangan mengenai radang telinga tengah, penyakit campak dan sebagainya, atau keterangan mengenai salah satu penyakit usus.
Sebaliknya, kesehatan dan perkembangan rohani anak-anak di panti asuhan bayi di lembaga pemasyarakatan sangat baik.
Apa penyebabnya? Panti asuhan di lembaga pemasyarakatan menyediakan seorang ibu bagi setiap bayi, yang memberikan semua program yang benar, yang harus diberikan seorang ibu yang baik kepadanya. Sedangkan panti yatim piatu tidak memberikan seorang ibu kepada anak-anak itu - ibu pengganti pun tidak - melainkan hanya seperdelapan perhatian dari seorang suster.
Perhatian. Kepedulian. Sentuhan. Perkara yang kerap kita anggap begitu lumrah, namun nyatanya memiliki dampak yang begitu kuat bagi kesejahteraan jiwa, dan bahkan kebugaran fisik, kita sebagai manusia. "Aku manusia, rindu rasa, rindu rupa," kata penyair Amir Hamzah.
Bukan hanya anak-anak yang masih balita yang merindukannya. Sampai lanjut usia kelak, kita masing-masing senantiasa memerlukan sentuhan dari sesama kita, dari orang-orang yang mencintai kita dan yang kita cintai. Sentuhan bukan hanya menghangatkan, namun juga memancarkan dukungan, peneguhan, pengakuan bahwa kita berharga, penerimaan dan rasa aman.
Saat orang-orang yang kita kasihi gundah, dan kita pun tidak mengerti harus bertindak bagaimana, kita bisa mendekapnya, menyiratkan betapa kita berdiri bagi dia. Sebuah pelukan hangat bisa menggugah pengharapan, membangkitkan keberanian untuk menghadapi tantangan. Atau, kita bisa memeluk seseorang sekadar menyatakan betapa bahagianya kita akan kehadirannya.
Begitu sederhana, dan begitu bermakna. Juga begitu kaya faedah. Mengapa kita tidak memenuhi keluarga kita dengan sentuhan dan pelukan yang penuh kepedulian?  *** [denmas marto]

Mendisiplinkan, Bukan Menganiaya

Sunday, September 3rd, 2006

Awal tahun 2006, media massa melaporkan serangkaian peristiwa kekerasan terhadap anak-anak. Dua balita kakak-beradik dibakar ibunya. Gadis berusia tujuh tahun yang sering dianiaya, dibunuh ibu tirinya setelah diperkosa pamannya sendiri. Gadis usia delapan tahun diseterika kakinya oleh ayah kandungnya sendiri karena dituduh mencuri uang. Dan itu barulah pucuk kecil yang tersembul dari gunung es kekerasan terhadap anak-anak.
Prihatin akan merebaknya kasus-kasus serupa, sebagian kalangan lalu menentang sama sekali penggunaan hukuman badaniah dalam mendisiplinkan anak. Mereka mencemaskan eksesnya. Alih-alih sebagai metode disiplin yang efektif, hukuman jasmani cenderung akan mengarah ke penganiayaan. Jadi, daripada menyerempet-nyerempet bahaya, lebih baik tidak sama sekali.
Pertanyaannya, pada tempatnyakah pelanggaran atau penyalahgunaan sesuatu dipakai sebagai alasan untuk melarang atau menghentikan penggunaannya? Bandingkan dengan lalu lintas. Berapa banyak pelanggaran yang mengakibatkan kecelakaan, dari yang ringan hingga yang merenggut nyawa? Tentu saja ada orang yang menderit trauma hebat akibat kecelakaan. Namun, kenapa tidak ada yang menyarankan agar kita semua berhenti berkendaraan sama sekali?
Bila diterapkan secara benar dan tepat sasaran, hukuman badaniah diperlukan dalam pendisiplinan anak. Yang terutama perlu diingat, pendisiplinan tidak akan membuat anak Anda mempertanyakan kasih Anda; sebaliknya, pendisiplinan justru meneguhkan kasih Anda (Ams. 13:24). Dengan kesadaran itu, kiranya kita terhindarkan dari pendisiplinan yang ekstrem.
Hukuman badaniah dilakukan dengan memukul bokong si anak dengan tongkat (rotan) pada saat ia melakukan pembangkangan tertentu. Pukulan itu sebatas membuatnya merasa sakit dan menyadari kesalahannya, namun tidak sampai melukainya.
Bagaimana kita bisa mengetahui bahwa pendisiplinan kita belum tergelincir menjadi penganiayaan? Chuck Swindoll dalam The Strong Family: Growing Wise in Family Life, memaparkan kontras di antara keduanya.

Penganiayaan
Tidak adil dan tidak terduga
Merendahkan martabat dan menghancurkan semangat
Ekstrem - terlalu kasar, brutal
Menyiksa - meninggalkan bekas luka
Akibat kebencian dan sakit hati
Menimbulkan kengerian, kerusakan emosional, dan kebencian terhadap otoritas
Menghancurkan citra diri; mengakibatkan kerusakan yang mengerikan dan permanen serta ketidakmampuan, dalam masa hidupnya kelak, untuk bertanggung jawab.

Pendisiplinan
Adil dan terduga
Menjunjung martabat
Seimbang - memiliki batasan
Menyakitkan - namun tanpa bekas luka
Digerakkan oleh kasih dan kepedulian
Menumbuhkan penghargaan yang sehat terhadap otoritas
Memperkuat citra diri; memampukan si anak untuk nantinya mendisiplinkan dirinya sendiri

Tujuan pendisiplinan adalah mengusir kebodohan yang melekat pada hati anak (Ams. 22:15). Kebodohan, dalam konteks ini, bukan mengacu pada kondisi intelektual. Dalam bahasa Ibrani, kebodohan mengacu pada sikap mencemooh Allah dan membenci perintah, keras kepala dan tidak menghargai otoritas.
Bila dilakukan sejak sedini mungkin, secara seimbang dan konsisten, hukuman badaniah akan menjadi bagian dari pendisiplinan yang efektif untuk membentuk dan mengarahkan kehendak dan kemauan anak (Ams. 22:6). [denmas marto]