Dari Tanah Pertanian ke Katedral Kristal
Saat itu, empat minggu lagi usianya lima tahun. Henry, pamannya yang menjadi misionaris di China, datang untuk berlibur. Ia mengusap-usap rambut Robert dan berkata, "Kamu Robert, ya? Kamu akan jadi pengkhotbah kalau besar nanti."
Robert menjawab, "Oh, terima kasih, Paman Henry." Ia menganggap pernyataan itu sebagai nubuatan dari Tuhan.
Keesokan harinya, Henry berkata, "Itu artinya, Robert, kamu harus bersekolah selama 20 tahun."
"Benarkah?"
Kata pamannya, "Ya, delapan tahun di sekolah dasar, lalu empat tahun di sekolah menengah, lalu empat tahun di perguruan tinggi, dan tiga tahun di seminari. Itu sekitar 20 tahun."
"Baik, tidak masalah," kata Robert.
Peristiwa kecil itu nyatanya menanamkan tujuan hidup yang kuat dalam diri Robert Schuller. Nubuatan itu menjadi penuntunnya menuju masa depan.
Ketika ia menceritakannya pada ayahnya saat sarapan, ayahnya menatapnya dan menangis. Namun, baru 20 tahun kemudian, saat ia lulus pascasarjana teologi, ayahnya menjelaskannya. Ternyata itu adalah impian ayahnya sendiri. Karena menjadi yatim piatu ketika masih kecil sehingga putus sekolah untuk mencari makan sendiri, ayahnya harus melepaskan impian itu. Ia lalu berdoa agar diberi anak yang dapat mewujudkannya. Ternyata dialah, si bungsu dari lima bersaudara, yang menjadi jawaban bagi doa sang ayah.
Suka Langit
Robert Harold Schuller lahir di Alton, Iowa, 16 September 1926. Ia dibesarkan di tanah pertanian orang tuanya, di tengah komunitas warga Amerika keturunan Belanda. Keluarga Schuller pengikut Dutch Reformed Church, denominasi Protestan tertua di Amerika Utara.
Sebagai anak tani, ia terbiasa dengan kesunyian. Ia kerap berjalan menyusuri sungai, duduk-duduk di tepiannya dan memandangi sungai yang mengalir tenang. Ia juga dapat mengamati awan yang berarak pelan-pelan melintasi langit yang lapang. Ia merasa jatuh cinta pada langit!
Siapa menduga kalau kesukaan masa kecil itu akan berpengaruh pada pelayanannya? Sekitar seperempat abad kemudian, ketika ia pergi ke California untuk merintis gereja baru, ia memilih bioskop drive-in sebagai tempat mengadakan kebaktian. Di situ ia bisa berkhotbah sambil memandang ke langit luas. Hal itu pula yang kelak mengilhaminya membangun Katedral Kristal, gedung yang dipenuhi panil-panil jendela kaca.
Selulus dari Hope College, Robert menempuh pendidikan teologi di Western Theological Seminary, Michigan. Pada 1950 ia mendapatkan gelar Masters of Divinity. Ia lalu menikah dengan Arvella DeHaan, dan pasangan muda ini pindah ke Chicago. Di sana ia ditahbiskan sebagai pendeta Ivanhoe Reformed Church. Selama pelayanannya, jemaat itu bertumbuh dari 38 orang menjadi lebih dari 400 orang.
Pada 1955, denominasinya mengutus Schuller merintis gereja baru di Garden Grove, California. Dengan hanya dibekali dana 500 dolar, ia kesulitan untuk mendapatkan gedung pertemuan. Akhirnya, ia memutuskan untuk menyewa sebuah bioskop drive-in. Pada kebaktian Minggu pertama, muncul 100 orang. Seperti kalau sedang menonton bioskop, mereka mendengarkan khotbah di dalam mobil masing-masing! Schuller sendiri berkhotbah dari anjungan penjualan camilan.
Banyak orang di Reformed Church menganggap tidak sepantasnya sebuah kebaktian yang sakral diadakan di bioskop drive-in. Namun, Schuller sangat suka berkhotbah di udara terbuka. Jemaatnya pun bertumbuh dengan pesat. Pada 1961, mereka mendirikan gedung permanen pertama, gereja pertama di dunia yang bergaya drive-in.
Katedral Kristal
Pelayanannya pun kian berkembang. Pada 1970 ia membuka The Robert H. Schuller Institute for Successful Church Leadership, yang mahasiswanya berasal dari berbagai denominasi, Prostestan dan Katholik. Bill Hybels dan Rick Warren termasuk orang yang menemukan hasrat untuk menekuni pelayanan melalui institut ini.
Pada tahun yang sama ia juga memulai siaran televisi dari gerejanya. Acara itu, The Hour of Power, disiarkan oleh ratusan stasiun di seluruh dunia. Diperkirakan 30 juta orang menonton siaran ini setiap minggunya. Dan ternyata penontonnya tidak terbatas dari kalangan Kristiani. Sekitar sejuta orang Muslim juga menjadi pemirsa setia acara ini.
Pencapaiannya yang paling monumental tak lain adalah Katedral Kristal. Saat jemaat Garden Grove memerlukan gedung yang lebih besar, Schuller meminta arsitek termasyhur Philip Johnson untuk membangun gedung yang keseluruhannya terbuat dari kaca. Setelah melewati berbagi kesulitan, bangunan megah berkapasitas 2.736 tempat duduk ini didedikasikan pada 1980, "Untuk Kemuliaan Manusia bagi Kemuliaan Allah yang Semakin Besar." Saat ini, satu juta orang mengunjungi katedral ini setiap tahunnya, untuk kebaktian Minggu, konferensi, seminar, lokakarya, dan dua pertunjukan tahunan, The Glory of Christmas dan The Glory of Easter.
Sampai saat ini, Robert Schuller telah menulis sekitar 30 buku. Pernikahannya dikaruniai satu putra, empat putri dan 17 cucu. Anak-anaknya terlibat dalam pelayanan, dan pada 22 Januari 2006, Robert Anthony Schuller menggantikannya sebagai pendeta senior Katedral Kristal.
Pupuk Bawang
Mengikuti jejak pembimbingnya, Norman Vincent Peale, Schuller memusatkan pengajarannya pada aspek-aspek Kekristenan yang menurutnya positif. Alih-alih menempelak orang akan dosa, yang ia yakin memang mereka lakukan, ia berupaya meyakinkan orang-orang non Kristen bahwa melalui pemikiran yang positif mereka dapat mewujudkan impian mereka.
Doktrin ini ternyata memantik perdebatan yang sengit di kalangan kaum Injili konservatif, baik di dalam maupun di luar denominasinya. Ia sempat dituduh mengajarkan bidat dan dikucilkan, termasuk oleh Western Theological Seminary, tempatnya dulu menimba ilmu. Ia mengaku sempat terluka oleh perlakuan tersebut.
Tidaklah mengherankan kalau ia sangat tersentuh ketika Western pada 2005 menganugerahinya Distinguished Alumnus Award. Anugerah semacam itu baru pertama kali diberikan sepanjang 126 tahun berdirinya seminari tersebut.
"Hal itu membuat saya menangis," katanya. "Ternyata saya benar, dan akhirnya mereka dapat melihatnya. Saya pikir saya sedang membentuk Kekristenan. Yesus memperlakukan orang dengan penuh kasih. Gereja tidak selalu demikian. ‘Aku akan mengasihimu kalau…. Aku akan mengasihimu ketika…. Aku akan mengasihimu sesudah….’ Dan itu bukan Kekristenan. Kekristenan yang otentik berkata, Allah berkata, ‘Aku mengasihimu.’ Titik."
Suatu ketika sebuah artikel menyatakan bahwa khotbahnya berfokus pada citra diri yang positif karena sebenarnya dia sendiri memiliki citra diri yang buruk. Dalam sebuah wawancara, Robert Schuller diminta berkomentar tentang hal itu.
"O ya, saya tahu itu," jawabnya membenarkan. Ia lalu menceritakan pengalaman masa kecilnya. Sebagai anak yang gemuk dan kurang tegap, ia mengaku kurang dilibatkan oleh teman-temannya dalam permainan. Kalau mereka membentuk tim pertandingan, ia hanya dianggap sebagai pupuk bawang. Ikut tim mana saja, perannya tidak terlalu diperhitungkan.
"Saya pikir di situlah munculnya dorongan yang nantinya membuat saya tertarik untuk menekuni kajian teologi citra diri," katanya. *** [denmas marto]