Archive for August, 2006

Simbol yang Bingung

Wednesday, August 30th, 2006

KoperKoper, koper yang terhilang, apa sih isi dirimu? (Dan, sebelumnya hamba minta maaf karena hendak membocorkan "isi" dirimu itu.)
Koper itu ditemukan Yahya (Anjasmara), seorang pegawai bagian arsip yang sudah puas dengan pencapaian dan penghasilannya sejauh ini. Istrinya, Yasmin (Maya Hasan), yakin koper itu berisi uang semilyar dari perampokan bank yang diceritakan tetangganya, Sri (Virnie Ismail).
Koper adalah karya debut Richard Oh, novelis penggagas Khatulistiwa Literary Award dan pendiri jaringan toko buku QB World Books. Dengan film ini, ia hendak menawarkan sajian, black comedy, komedi dibumbui satire. Berhasilkah?
Film ini mencoba memotret benturan sikap dan persepsi antara Yahya dan orang-orang di sekitarnya. Yasmin, yang merengek menginginkan taraf hidup yang lebih baik, mendesak Yahya membuka saja koper itu. Yahya, sebaliknya, bersikukuh mengembalikan koper itu kepada entah siapa pemiliknya, dengan cara apa pun. Koper itu sendiri entah bagaimana mengubah cara pandang para tetangga dan rekan sekerja Yahya terhadap pria penggemar P. Ramlee itu. Dan Yahya pun mengalami berbagai masalah "yang absurd sekaligus menggairahkan".
Frasa "yang absurd sekaligus menggairahkan" saya comot dari sinopsis dalam situs Jogja-Netpac Asian Film Festival 2006, ajang tempat film ini diputar perdana untuk publik. Ternyata, Koper memang absurd. Tidak masuk akal. Mustahil. Sayangnya, saya tidak berhasil menemukan di mana menggairahkannya.
Keabsurdan itu bertolak justru dari pilihan untuk membuat isi koper itu, ikut-ikutan Pulp Fiction, tetap misterius sampai akhir. Karena isi koper itu serbaspekulatif, perubahan sikap yang begitu drastis pada orang-orang di sekitar Yahya jadi tak terjelaskan. Hanya gara-gara dia tiba-tiba menenteng sebuah koper, mendadak orang sekantor, bahkan atasannya, bersikap amat ramah terhadapnya? Saat isi koper belum jelas, Pak RT sudah mengerahkan centeng berotot untuk mengawal Yahya? Absurd tak? Atau, itu termasuk bagian dari satire yang dimaksudkan: betapa masyarakat kita cenderung sudah heboh atas sesuatu yang masih tak jelas?
Keabsurdan itu juga terjadi karena film ini gamang di mana hendak berpijak: komedi yang berangkat dari realitas sosial atau komedi yang berlangsung di alam mimpi (ilusi)? Rangkaian shot atau sekuen awal, yang menurut Jim Emerson, editor RogerEbert.com, merupakan bagian mahapenting untuk membaca niatan sebuah film, menjanjikan yang pertama. Kecurigaan akan kemungkinan kedua muncul dengan hadirnya tokoh yang diperankan Djaduk Ferianto. Saat Yahya sedang duduk menunggu bus, dalam posisi yang mengingatkan pada Forest Gump, tokoh itu duduk di sebelahnya, asyik meniup harmonika. Namun, menjelang Yahya naik bus, tokoh itu telah lenyap secara misterius. Hanya ilusi?
Lalu, Yahya sedang mabuk saat menemukan koper itu. Ajaibnya, ternyata dia bisa membaca, dan nantinya langsung teringat, nomor plat mobil orang yang mungkin menjatuhkan koper itu. Heran juga dia masih sempat membawa pulang koper itu. Mimpi ‘kali ya?
Sengaja tadi tak saya sebutkan tokoh yang diperankan Djaduk. Karena, di film memang dibuat misterius dan baru jelas saat credit title bergulung. Anehnya, kenapa sebutannya dalam bahasa Inggris? Anehnya lagi, penjelasan itu membikin penafsiran film ini kian absurd.
Maka, pada satu titik, penonton yang belum tercemar menjadi absurd akan mengubah pertanyaannya: Koper, koper yang terhilang, simbol apa sih dirimu?
Apakah koper itu simbol dari durian runtuh, rejeki nomplok, lotere - keberuntungan? Kalau begitu, ya tidak usah repot-repot disimbolkan, langsung saja diwujudkan. Selama koper itu belum dibuka, dan selama belum terbukti isinya memang segepok uang, durian itu belum runtuh, rejeki itu belum nomplok, lotere itu belum dimenangkan. Sesederhana itu.
Masalahnya, kalau koper itu simbol keberuntungan, tanggapan orang-orang di sekitar Yahya jadi betul-betul absurd. Polisi, yang jelas-jelas meminta uang sogokan saat Yahya hendak melaporkan temuannya, kenapa justru menolak rejeki nomplok itu dengan alasan yang sok filosofis? Kenapa para tetangganya juga bukannya malah dengki? Barangkali mereka jauh lebih berbudi luhur daripada para tetangga Kino dalam The Pearl-nya John Steinbeck.
Kemungkinan kedua, dikaitkan dengan tokoh yang diperankan Djaduk tadi, tampaknya si koper dimaksudkan sebagai simbol sesuatu yang nonmateri. Entah itu integritas, entah itu kebahagiaan hidup. Kalau demikian, tanggapan orang-orang di sekitar Yahya tambah absurd lagi. Materialistis banget gitu lho! Untuk apa coba mereka mendadak antre mau menjilat dan memanfaatkannya? (Dan, ngomong-ngomong, seberapa basah sih bagian arsip, kok bisa-bisanya menjadi mesin uang bagi sebuah instansi?) Ngapain pula Yahya kudu repot-repot berpikir mengembalikan koper itu? Kalau Yahya dimaksudkan sebagai sebagai wakil sosok yang berpegang teguh pada integritas, mungkin ia bisa mengambil inspirasi dari Kameda dalam The Idiot-nya Akira Kurosawa.
Kemungkinan terakhir, koper itu, seperti diisyaratkan tagline film ini, tak lain adalah sesuatu yang kita cari, padahal kita tidak tahu apa yang hilang. Bingung dengan ungkapan barusan: "sesuatu yang kita cari, padahal kita tidak tahu apa yang hilang"? Oh, film ini bertaburan dengan ungkapan serupa itu, tertulis pada beberapa papan iklan dan badan bus. Salah satunya: "Jalan yang benar itu tidak meninggalkan jejak". Ada yang bisa menjelaskan mangsudnya? Inikah yang dimaksudkan dengan "Ilusi justru lebih riil daripada realitas itu sendiri" (kata-kata Richard Oh dalam sebuah wawancara)?
Berarti, koper itu hanyalah ilusi. Bagi Yahya, koper itu membangkitkan ilusi tentang integritas yang perlu dipertahankan. Bagi Yasmin, koper itu mengusik ilusi tentang rejeki nomplok. Bagi tetangga dan rekan sekantornya, ilusi yang lain lagi. Begitu? Wah, kalau begitu, Koper (ya, dengan "K" besar) ini mirip dengan Cincin yang harus dimusnahkan di Mordor itu, dong!
Atau, hanya Yahya yang berilusi? Semua orang dan peristiwa yang ditemuinya hanyalah ilusi? Itu bisa ciamik kalau meniru model pelintiran ala The Sixth Sense!
Eh, kenapa dari tadi perbandingannya dengan film dan novel asing melulu? Sebenarnya ada sebuah judul film Indonesia yang muncul dalam ingatan, dan rasanya cocok sebagai bahan perbandingan. Masalahnya, bagaimana mengakses lagi film Sang Guru yang diperani oleh S. Bagio itu? Ada sinetron remake-nya, namun saya belum menontonnya.
Selain itu, tokoh-tokoh film ini memang berada di ruang-ruang yang berwajah Indonesia, namun perilakunya seperti orang asing. Dalam obrolan dengan beberapa teman usai nonton, kami sempat mempertanyakan, pegawai rendahan mana yang sepulang kerja biasa mampir ke kafe untuk menghilangkan stres dengan gelas-gelas bir? Saat istri opname dan perlu banyak biaya, alih-alih pontang-panting cari uang, kembali si Yahya lari ke kafe dan bir. Dan penjaga kafenya secergas Djenar Maesa Ayu pula. Dengan kata lain, di sini Koper mengulangi kesalahan Pasir Berbisik, seperti yang dikeluhkan Totot Indrarto: "kegilaan" membuat film tentang suatu dunia yang tidak dipahami betul.
Keasingan itu sangat terasa dalam skenarionya. Skenario Koper sejatinya ditulis dalam bahasa Inggris, baru kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Sayangnya, kerja penerjemahan itu masih menyisakan bau yang tajam, terutama dalam dialog-dialog antara Anjasmara dan Djenar. "Apakah kamu mengetahui sesuatu yang orang lain tidak tahu?"
Para pemeran tampak sudah berupaya maksimal untuk membawakan materi tersebut meski masih terasa ada ketegangan pada para pemeran utama. Apakah mereka juga bingung bagaimana mesti menafsirkan tokoh-tokoh itu? Nada bicara Anjasmara, misalnya, entah kenapa seperti selalu ditekan setengah oktaf. Sampai saat mengusir Sri dari dapurnya pun, dia lebih terdengar menggeram ketimbang membentak.
Para figuran tidak diarahkan dengan baik, dibiarkan sekadar mengisi ruangan, tanpa tahu mesti bersikap atau berekspresi bagaimana. Perhatikan saja kerumunan orang di kantor dan di rumah Yahya. Hal serupa bahkan menimpa Djenar dan Arie Dagienkz saat mereka berdiri di latar belakang dalam adegan mengantar Yasmin ke mobil seusai opname. Yang tampil wajar dan rileks malah pemeran yang hanya tampil sekilas (cameo), seperti Fery Salim, Ninik L. Karim, dan Butet Kertaredjasa.
Selebihnya, saya menyukai beberapa close up dan extreme close up yang lumayan tidak biasa: sepasang kaki yang bergosokan, rokok menyala yang diisap dalam latar gelap, jam duduk yang menandakan rutinitas, dan ketiak berbulu. Wajah Jakarta juga hampir sesegar Jakarta dalam Janji Joni. Senang pula bisa berkenalan dengan lagu-lagu P. Ramlee, dan menyimak lengkingan Ubiet yang menyayat hati.
Akhirnya, saya ingin meminjam amatan Puthut EA tentang kepenulisan. Ia mencatat, seorang penulis cenderung asyik dengan ‘keliaran kreatif’ dan licentia poetica, sedangkan seorang penyunting memikirkan ‘ketertiban kreatif’ dan pro captu lectoris (demi daya tangkap pembaca). Ketegangan serupa berlaku pula bagi sebuah film, dengan peran penyunting berada di pundak sutradara, khususnya untuk film yang merupakan visi pribadi sutradaranya. Dengan Koper ini, Richard Oh tampak masih asyik dengan ‘keliaran kreatif’-nya sendiri, dan belum berhasil membesutnya menjadi suguhan yang enak untuk ‘dibaca’ oleh penonton.
Oh, koper, koper yang terhilang, kalau bisa lurus-lurus saja, kenapa sih kaubikin berliku-liku? *** [denmas marto]

Petualangan Edan Kapten Jack

Wednesday, August 30th, 2006

Pirates_1 Film sebagai bahan refleksi tentang apa saja. Itulah moto nonton filmku. Hehe, serius amat. Nyatanya, tak jarang kita nonton film cuma untuk ketawa, untuk bersenang-senang, untuk melonggarkan otot dari ketegangan, untuk mencairkan kejenuhan. Kadang-kadang seperti masuk ke dunia fantasi: naik perahu ayun raksasa yang membikin kita memekik di ketinggian, menjajal wahana luncur-gulung yang menggenjot jantung empot-empotan. Di lain waktu serasa pelarian: memimpikan petualangan mendebarkan di bagian-bagian dunia yang serbaliar, penuh rahasia, dan menjanjikan harta karun terpendam. Saat kita membiarkan diri kita disergap oleh aliran citra hidup yang terpancar dari layar lebar di depan mata.

Pirates of the Caribbean: Dead Man’s Chest mengingatkan kembali akan daya pikat itu. Meski bisa saja mencoba repot-repot menggali makna di balik kompas, kunci, peti, kebakaan, harga tebusan nyawa Jack Sparrow, atau dinamika hubungan ayah-anak — tapi, sudahlah, tak ada salahnya ‘kan kalau kita mencebur dulu ke dalam petualangan edan serbategang, namun sekaligus serbangakak?

Di film terdahulu, Pirates of the Caribbean: The Curse of the Black Pearl, Johnny Depp, eh Kapten Jack Sparrow, muncul dengan berkibar-kibar di tiang layar. Di sini? Dor! Dia muncul dari dalam… peti mati! Lalu, dia mendayungnya dengan potongan tulang lengan manusia, membawa kita ke dalam pelayaran yang menggigilkan, namun juga penuh kelakar.

Kelakar pertama berlangsung di pulau yang rasanya pernah didiami oleh King Kong. Sang kapten disembah-sembah sebagai dewa oleh penduduk setempat. Tapi, tunggu dulu! Mereka juga siap-siap untuk memanggang dan menyantapnya! Awak kapal yang lain, plus Will Turner yang datang mencari Jack, diringkus dalam takraw raksasa yang digelantungkan di antara dua tebing. Lalu, tentu saja, terjadi upaya pembebasan yang memadukan kemusykilan film kartun dan kekonyolan Jackie Chan! Adegan takraw terguling-guling itu sendiri terulang dalam duel pamungkas di dalam roda kincir yang menggelinding. (Eh, duel ‘kan perang tanding dua jagoan? Kalau melibatkan tiga jagoan, apakah kita menyebutnya triel?)

Di antara gulingan dua roda itulah tergelar pertarungan antara awak Black Pearl dan lawan yang, yah, itu tadi — betul-betul menggigilkan: Davy Jones si kepala gurita dan awak kapal zombie, The Flying Dutchman, yang menyeruak dari dasar samudera siap mengerkah setiap seteru.

Davy Jones tak ayal segera berdiri tegak dalam jajaran penjahat paling mengesankan dalam khasanah film laga petualangan: setanding dengan Darth Vader. Menjijikkan, menggetarkan, namun sekaligus kharismatik: lihatlah bagaimana dia memainkan piano dengan tentakelnya, bak Phantom of the Opera di ceruk rahasianya.

Dan kalau sampeyan sudah miris terhadapnya, awas… masih ada monster Kraken yang siap mencabik-cabik kapal!

Kalau Davy Jones sekelas dengan Darth Vader, maka Jack Sparrow mengingatkan kita pada Han Solo, Will Turner pada Luke Skywalker, Elizabeth pada Putri Leia. Tak ketinggalan punokawan ala C3PO dan R2D2, dalam sosok dua bajak laut ahmak. Kalau di The Curse of the Black Pearl, Jack Sparrow kayak badut mabuk dan Elizabeth mirip si cantik yang terseret ke dalam petualangan, di sini keduanya memperlihatkan sisi lain kepribadian mereka — yang siapa tahu akan terolah kian menarik dalam film ketiga nanti.

Betapapun, di tengah keriuhan karnaval para tokoh, yang mencuri perhatian dan menancapkan kesan khusus justru si dukun perempuan yang diperankan Naomie Harris: dalam pondok remang itu semestinya ia mewakili aura kegelapan, namun entah bagaimana yang tercuat justru sinar simpati. Ah, bukankah dia yang memberi suluh bagi jagoan kita, menunjukkan cara untuk menelikung muslihat lawan? Mungkin perannya akan lebih terang di film ketiga nanti.

Ya, Dead Man’s Chest adalah film pertengahan dari sebuah trilogi. Sebagai film kedua, ia lebih gelap daripada film pertama, dan mau tak mau kita akan membandingkannya dengan Indiana Jones and the Temple of Doom. Ia juga menawarkan ending menggantung, mengikuti jejak The Empire Strikes Back.

Menurut kabar, dalam film ketiga yang direncanakan rilis Mei 2007, akan tampil antara lain Keith Richards, personil The Rolling Stones yang mengilhami akting sedap Depp di film ini, sebagai… siapa lagi kalau bukan bapaknya Jack Sparrow. Jadi, tunggu saja Pirates of the Caribbean: At World’s End untuk kegilaan berikutnya. (Eh, tentang kompas, kunci, peti, dll. tadi? Ah, nanti, nanti saja itu — Denmas Marto lagi ogah berefleksi, nih! ;-)) *** [denmas marto]

Juruselamat yang Terlalu Sibuk

Wednesday, August 30th, 2006

Supermanreturns Superman datang kembali! Dan ia mendapatkan sambutan tak terduga: beberapa kalangan secara khusus menyoroti sosoknya sebagai figur Kristen. Situs CNN menurunkan artikel Jesus Christ Superman. Richard Corliss dari Time menyajikan The Gospel of Superman. Jangan ditanya lagi ulasan dari media dan situs Kristen.
Sejak heboh The Passion of the Christ, film-film yang dikait-kaitkan dengan Kristus seolah-olah membawa mantra ajaib untuk menangguk box-office. Dalam hal ini, Superman Returns bukannya ikut-ikutan. Ia cuma menghidupkan kembali sebuah kisah lama.
Kaitan antara Superman dan Kristus sudah diperbincangkan sejak komiknya, dan kian mencolok dengan kehadiran Superman: The Movie pada 1978, yang menampilkan Superman sebagai anak tunggal yang diutus bapaknya, ilmuwan alien dari Planet Krypton, untuk membawa terang ke bumi (baca: Dari Gelandangan Sampai Alien). Film ini diikuti oleh Superman II yang tak kalah menawan. Namun, sekuel ketiga dan keempat memburuk. Tampaknya Superman Returns garapan Bryan Singer ini mencoba menebus dua sekuel gagal itu dengan menyajikan kisah berlatar waktu sesudah ending Superman II.
Superman (Brandon Routh) kembali setelah menghilang selama lima tahun untuk menjenguk sisa planet asalnya. Sementara itu Lois Lane (Kate Bosworth) sudah punya anak, Jason (Tristan Lake Leabu), dan sedang menjalani "pertunangan yang berkepanjangan" dengan Richard White (James Marsden). Sehari-hari Superman kembali menyaru sebagai Clark Kent, yang segera mendapatkan pekerjaan lamanya sebagai wartawan di Daily Planet. Musuh besar Superman, Lex Luthor (Kevin Spacey), telah bebas dari penjara dan kini menyusun muslihat untuk menguasai bumi.
"Dunia ini tidak memerlukan penyelamat," cetus Lois Lane. "Begitu juga aku." Cetusan getir ini sebenarnya menyiratkan kekecewaan mendalam Lois atas kepergian tanpa pamit si Manusia Baja. Dalam Superman II, getar asmara di antara mereka dipungkasi dengan ciuman pelupaan, namun toh perasaan cinta tak bisa ditepiskan begitu saja.
"Kau menulis bahwa dunia tidak memerlukan penyelamat," kata Superman, "namun setiap hari mereka berseru mengharapkan seorang penyelamat."
Yap, dan kita pun menyaksikan berbagai aksi penyelamatan, dari ujung dunia yang satu ke ujung dunia yang lain, dari dasar laut sampai ke ruang angkasa. Namun, di luar jadwal yang padat itu, kita bertemu dengan sosok yang kaku. Baik sebagai Clark Kent maupun sebagai sang jagoan, ia tampak gagap dalam membangun hubungan dengan orang-orang di sekitarnya. Paling parah, ia terus termangu-mangu dalam hubungannya dengan Lois, terlebih kini dengan hadirnya orang ketiga. Singkatnya, ia sosok yang teralienasi.
Dalam prekuelnya, Jor-El, ayah Superman, mengingatkan, kalau Superman terlalu banyak menolong manusia, mereka akan bergantung padanya, bahkan untuk hal-hal yang sebenarnya bisa mereka lakukan. Dalam Superman Returns, kita melihat bagaimana Superman menggugah Lois dan tunangannya untuk melakukan tindakan heroik penuh pengorbanan.
Namun, akan susah bagi kita untuk meneladani Superman. Bagaimana mungkin kita mengikuti jejak sosok yang begitu super? Paling kita hanya akan berdiri dan menjadi penonton pasif seperti penduduk Metropolis.
Inilah bedanya dengan Sang Mesias dari Nazaret. Dalam misi-Nya sebagai Juruselamat, Ia memang sibuk, namun tidak sampai dibelenggu oleh kesibukan. Ia masih sempat menjamah ibu mertua Petrus, menyentuh orang yang dilayani-Nya, mengelus kepala anak-anak, bercengkerama dengan orang berdosa, dan pergi ke pesta dengan murid-murid-Nya. Ia Mesias yang gaul.
Yesus juga mengundang kita untuk mengikuti Dia. Dan oleh anugerah dan pertolongan Roh Kudus, kita dapat mengikuti teladan-Nya. Bukankah orang-orang percaya tengah dalam proses pembentukan karakter untuk menjadi serupa dengan Dia? Superman menyelamatkan dunia dengan menangkal petaka; Yesus menyelamatkan dunia dengan menebus dosa dan mengubah hati manusia.
Begitulah. Saat film berakhir, teman saya berkomentar, "Wah, kurang asyik, Supermannya kebanyakan pacaran!" Saya tergelak. Terbayang betapa repotnya kalau seorang juruselamat dunia, seorang dewa yang menitis, mencoba-coba menjalin hubungan asmara! (Dengar itu, Dan Brown?) *** [denmas marto]

Kode Relativisme

Wednesday, August 30th, 2006

Davincicode The Da Vinci Code, film yang diangkat dari novel Dan Brown berjudul sama, gagal memuaskan para kritisi. Usai pemutaran perdana di Cannes, film ini mengundang berbagai cemooh. Di situs Rotten Tomatoes, 73% pengulas melemparinya dengan tomat busuk. Singkatnya, sebagai sebuah film, besutan Ron Howard ini dianggap jeblok.
Toh hal itu tidak menghentikan minat penonton untuk berduyun-duyun ke bioskop. Dalam tiga hari pertama pemutaran di seluruh dunia, film ini telah menangguk 224 juta dolar AS, rekor terbesar kedua setelah Star Wars III: The Revenge of the Sith ($253 juta). Kontroversi novel sumbernya, belum lagi merebaknya sejumlah protes dan pemboikotan, tak ayal malah kian memancing orang untuk menengok versi layar lebarnya.
Kisahnya mungkin sudah tak asing bagi Anda. Sebuah pembunuhan di Louvre menyeret Robert Langdon (Tom Hank), profesor simbologi dari Harvard, ke dalam petualangan berbahaya untuk menyingkapkan "selubung dusta terbesar sepanjang sejarah umat manusia". Ia didampingi oleh perwira polisi Perancis, Sophie Neveu (Audrey Tautou), cucu korban. Menyadari kasus ini berkaitan dengan konspirasi di kalangan Gereja Katholik dan dengan misteri Cawan Suci, mereka pun meminta bantuan seorang pakar, Sir Leigh Teabing (Ian McKellen).
Melalui dialog antara ketiga tokoh itulah, terlontar berbagai klaim yang mencengangkan, atau malah menggelikan, seputar Kekristenan. Tak perlu didaftarkan di sini karena, selain ruangnya tak cukup, sudah banyak buku dan artikel yang mengulasnya.
Andaikan klaim itu benar. Alangkah konyolnya dunia kita: Gereja Katholik adalah lembaga yang begitu tangguh, namun sekaligus begitu tolol. Masakan selama 2000 tahun tak kunjung berhasil menggebuk habis Priory of Sion? Tak kalah ganjil, para grand master Priory of Sion cenderung mati-matian merahasiakan ‘kebenaran’ itu, bukannya mati-matian berusaha menyiarkannya. Memangnya, mana sih yang lebih berfaedah bagi kesejahteraan umat manusia? Leonardo da Vinci jadi lebih mirip seorang ‘bocah’ yang keranjingan petak umpet: ia cuma sibuk menyembunyikan berbagai kode dalam berbagai karyanya, sementara orang kebanyakan dibiarkan ‘tetap buta’ terhadap ‘kebenaran sejarah’. Dan, setelah 2000 tahun berkembang biak, keturunan Yesus dan Maria Magdalena tinggal Sophie Neveu seorang?
Lalu, kenapa banyak orang penasaran akan (atau malah mempercayai?) klaim konyol Dan Brown? Kenapa orang terpikat akan teori konspirasi, khususnya yang menghantam lembaga masif pemegang hegemoni (dalam kasus ini Gereja Katholik)?
Penggalan kalimat Robert Langdon mungkin bisa dijadikan kode penyingkap. "Kita tak bisa memastikan siapa yang memulai kekejian itu," katanya mencoba ‘meluruskan’ Teabing, yang menyatakan bahwa pada abad-abad pertama itu justru orang Kristenlah yang menganiaya orang Romawi!
Pernyataan Langdon tersebut bisa dibaca sebagai wakil roh zaman kita: relativisme, yang dilatari oleh memudarnya respek terhadap otoritas. Sejarah itu, konon, rekaan pihak yang menang. Kita tidak bisa memastikan apa yang benar dan apa yang salah. Kebenaran pun menjadi perkara yang subyektif, bukan lagi obyektif. Dalam suasana begini, klaim-klaim yang terkesan baru, dari perspektif yang bersimpati pada korban (walau kita tidak bisa memastikan siapa yang menjadi korban), dan tidak main mutlak-mutlakan, akan sangat menggoda.
Dari sisi lain, Brown paling tidak ‘berjasa’ memperlihatkan kepincangan kita. Merebaknya relativisme bisa jadi hanyalah selubung dari kedangkalan wawasan kita dan keengganan kita untuk menyelidiki kebenaran. Kita cenderung puas dengan Kekristenan yang encer, Kekristenan yang trendy, dan malas untuk mencerna makanan keras. Lantas, kita kelimpungan saat fondasi iman kita diguncangkan.
Jadi, menghadapi kontroversi The Da Vinci Code, kita bisa acuh tak acuh, misuh-misuh, atau malah tertantang untuk bertekun mempelajari Alkitab dan sejarah gereja. Yang terakhir itu bukan melulu tugas para pendeta atau teolog, lo. Kita masing-masing kudu mengenal kebenaran akan apa yang kita percayai, dari mana kita berasal, dan yang lebih penting lagi: Siapa yang kita percayai. *** [denmas marto]

Puisi Kegigihan

Wednesday, August 30th, 2006

>> My Left Foot (Jim Sheridan, 1989)
My Left Foot adalah puisi tentang kegigihan. Kisah semacam ini bisa terpapar perih menyayat dan sekadar mengharukan. Hebatnya, Jim Sheridan berhasil menyuntikkan kehangatan, humor, dan bahkan renjana yang keras kepala dalam membesutnya.
Leftfoot Itu tentu tak lepas dari sosok Christy Brown sendiri, pribadi yang kisahnya dijadikan biopik apik ini. Lahir terserang cerebral palsy di sebuah keluarga besar miskin di kawasan kumuh Dublin, Irlandia, hidupnya seperti digariskan tanpa harapan. Seluruh anggota tubuhnya lumpuh, hanya satu yang bisa dikendalikan: kaki kiri. Namun, dengan modal satu kaki itulah, ia berjuang menepiskan kungkungan ketakberdayaan. Kelak ia mampu mengguratkan sejumlah buku bagus, beberapa lukisan indah, dan sebuah teladan kegigihan yang menggetarkan.
Peran kaki kiri itu, mulai dari yang mengharukan sampai yang menggelikan, menjadi benang merah dalam adegan demi adegan. Kaki itu menuliskan kata pertama di lantai rumah, mencetak gol dalam permainan bola di halaman, membuat lukisan cinta monyet, digunakan untuk mencoba bunuh diri, memasang batu bata, sampai menjotos seorang pengunjung bar yang mulutnya asal njeplak. Di luar itu, kita melihat Christy di dalam gerobak kayu didorong-dorong keliling halaman oleh saudara dan kawan-kawannya; Christy membisiki saudaranya untuk menjarah batu bara; Christy yang mengamuk bagaikan banteng ketaton ketika patah hati; Christy yang sembunyi-sembunyi menyedot minuman keras dari botol yang disusupkan di balik jasnya. Bila dibandingkan dengan orang-orang bertubuh sehat yang gampang nglokro, berputus asa, hidup Christy betul-betul jauh lebih hidup. Sosok seperti ini bukan lagi mengharukan, namun malah menggedor kelunglaian mentalitas kita.
Sosok Christy dibawakan dengan cemerlang baik oleh Hugh O’Conor (Christy muda) maupun oleh Daniel Day-Lewis (Christy dewasa). Betapa menyakitkan mereka harus memuntir-muntir otot seperti itu, mengubah gaya bicara, sambil tetap memancarkan sikap yang pantang menyerah. Oscar Aktor Terbaik sungguh layak dianugerahkan pada Daniel Day-Lewis.
Oya, kalau ada pengulas yang mengacungkan dua jempol untuk Men of Honor, maka dia mesti repot jungkir-balik untuk mengacungkan empat jempol buat film ini! *** [denmas marto]

Malaikat Kecil Pembawa Transformasi

Wednesday, August 30th, 2006

Kolya >> Kolya (Jan Sverak, Republik Cheska, 1996)
(AWAS BOCORAN!)

Karena asal berkicau di depan polisi rahasia, Louka kehilangan posisi terhormatnya di Czech Philharmonic Orchestra. Untuk mengongkosi hidupnya, ia hanya bisa bermain selo mengiringi upacara kremasi, dan kadang-kadang membersihkan batu nisan. Kalau ada yang bertanya, dia menjawab dirinya bermain di semacam ensambel. Di usia 55 tahun, ketika semestinya ia mengecap masa kejayaan, hidupnya malah macet.
Di sisi lain, bujangan bersosok ala Sean Connery itu mirip ABG yang tengah ditimang-timang oleh pubertas. Meski baginya menjadi musisi berarti siap melajang, toh bukan berarti ia tak bisa menjawil sejumlah wanita. Dengan santainya ia mencemol bokong Klara yang tengah menyanyikan Mazmur 23 dengan khidmat. Ketika menerima murid perempuan, tak ayal gadis manis itu menjadi sasaran rayuannya. Singkatnya, kehidupan cintanya tanpa pelabuhan.
Di luar itu, ia, tentu saja, membenci Rusia, yang tengah menginjak-injak negerinya. Ironisnya, justru dari Rusialah datang sebuah rahmat terselubung bagi kebuntuan hidupnya.
Seorang teman menawarinya untuk pura-pura menikahi perempuan Rusia yang memerlukan kewargaan Cheska, agar tidak ditundung balik ke Rusia. Ia akan mendapatkan bayaran lumayan untuk itu. Namun, alih-alih kemudian bercerai seperti direncanakan semula, perempuan itu minggat ke Jerman menyusul pacarnya. Sialnya (atau, untungnya?), perempuan itu juga meninggalkan bocah laki-laki berumur lima tahun, Kolya, ke dalam penjagaan Louka. Tentu saja Louka berusaha secepatnya lepas dari si bocah, namun keganjilan pun terjadi: semakin keras Louka berupaya, semakin erat keduanya melekat.
Kisah selanjutnya, bisa ditebak, memaparkan dinamika hubungan Louka-Kolya yang mendatangkan transformasi bagi keduanya. Keunggulan Jan Sverak dan penulis skenario Zdenek Sverak (ayahnya, yang sekaligus berperan sebagai Louka) terlihat dalam membubuhkan detil-detil yang bersahaja namun mengena. Kolya mendesak Louka nonton film kartun Rusia; Louka mengajak Kolya ke rumah ibunya, yang sengit rumahnya disinggahi bocah Rusia; Kolya menelepon neneknya dari bathtub; Kolya mendampingi Louka menjalani interogasi di kantor polisi; Kolya menirukan ritual kremasi. Semua itu ditopang akting menonjol para pemainnya. Selain Zdenek Sverak, Andrej Chalimon sebagai Kolya dan Libuse Safrankova sebagai Klara tampil mantap. Oscar untuk Film Berbahasa Asing Terbaik pun disematkan pada film ini.
Titik balik bagi Louka berlangsung ketika Kolya terserang demam tinggi. Kamera berputar menggambarkan rasa pusing yang mendera Kolya, namun juga mewakili kamar (baca: dunia) Louka yang terputar berbalik arah. Setelah beberapa waktu mengasuh Kolya, Louka menemukan sebuah tataran baru: bahwa cinta tidak diraihnya dengan merenggut, melainkan dengan merengkuh dan menyambut. Bahwa cinta bukan sekadar perkara syahwat, namun soal komitmen dan tanggung jawab. Dengan mempedulikan dan melindungi si bocah, ia menemukan sisi kepriaan dirinya yang selama ini terkubur oleh gaya hidup sembrono. Ia mendapati dirinya menjadi sesosok bapak.
Menariknya, transformasi pribadi tersebut secara halus ditautkan dengan transformasi nasional yang berlangsung di latar belakang. Melalui Revolusi Beludru pada 1988, Republik Cheska mengibaskan cengkeraman komunisme.
Ketika film berakhir, Kolya kembali terbang ke Rusia, mengangkasa seperti malaikat kecil. Louka kembali menjadi musisi terhormat, dan telah menikah. Istrinya berdiri di antara penonton konser dalam keadaan hamil. Sebuah kehidupan baru siap merekah *** [denmas marto]

Cinta Tanpa Manipulasi

Wednesday, August 30th, 2006

Bewitched_1 Bagaimana bila seorang penyihir ingin hidup secara normal dan mengalami percintaan tanpa trik dan manipulasi? Komedi romantis Bewitched garapan Nora Ephron berkisar pada pertanyaan itu.
Isabel Bigelow (Nicole Kidman) adalah penyihir yang ingin menanggalkan kemampuan adikodratinya, dan hidup sebagai wanita biasa. Ia juga ingin menemukan pria yang benar-benar membutuhkan dirinya, bukannya tersihir untuk mencintainya. Ayahnya, Nigel (Michael Caine), meragukan niatnya itu.
Di tempat lain, ada Jack Wyatt (Will Ferrel), bintang film yang beberapa film terakhirnya jeblok di pasaran. Untuk mendongkrak kembali karirnya, ia berencana mendaur ulang Bewitched, sinetron komedi yang populer di AS pada 1960-an. Hanya saja, pemeran utamanya bukan lagi Samantha Stephens si penyihir, melainkan suaminya, Darrin, yang tentu saja akan diperankan oleh dirinya. Untuk pemeran Samantha, mereka akan mencari pendatang baru.
Pendatang baru itu siapa lagi kalau bukan Isabel, yang ternyata bisa mengedutkan hidungnya persis Elizabeth Montgomery, pemeran Samantha terdahulu. Jack mendapuknya tanpa tahu Isabel itu memang penyihir.
Nora Ephron sebelumnya telah menggarap sejumlah film komedi romantis, seperti Sleepless in Seatle dan You’ve Got Mail, serta menulis skenario When Harry Met Sally. Film ini pun senada dan mengikuti formula serupa: pria bertemu dengan wanita dan jatuh cinta, mereka salah paham, mereka berpisah, dan setelah berputar-putar sedikir, keduanya bersatu lagi.
Isabel digambarkan begitu naif menghadapi dunia normal, dan beberapa kali tergoda memanfaatkan kembali ilmu sihirnya. Lalu, ia menyesalinya dan memutar kembali peristiwa itu agar berlangsung normal (lengkap dengan ikon tombol rewind di sudut kanan bawah layar). Ya, seandainya Anda tinggal menjentikkan jari dan apa yang Anda inginkan langsung tersedia, apa yang akan Anda lakukan?
Namun, ada satu trik yang sangat mengganjal dan sungsang secara moral, namun justru tidak diputar ulang. Suatu kali di tengah syuting istri Jack muncul. Hubungan mereka sedang renggang, namun tampaknya sang istri berusaha menyalakan kembali api cinta mereka. Walaupun bisa jadi termotivasi oleh naiknya popularitas Jack, upaya itu patut dihargai, bukan? Astaga, Isabel malah menyihirnya untuk menyetujui rencana perceraian mereka!
Di sisi lain, Jack juga memainkan kartu manipulasinya sendiri demi menjaga agar karirnya tidak ambruk. Dan Isabel begitu naif sehingga setelah tersandung secara menyakitkan baru ia menyadari kepura-puraan pria egois itu.
Di sela-sela itu, ayah Isabel terus melenggang dengan trik sihir untuk memperdayakan berbagai wanita. Siapa yang bisa menandinginya? Tentu saja penyihir lain juga (diperankan Shirley MacLaine), yang mahir menangkal triknya. Manipulasi dilawan dengan manipulasi - bisakah Anda membayangkan ‘nikmatnya’ hubungan semacam itu? Tampaknya para penyihir seperti Nigel perlu belajar dari Peter Parker bahwa "kekuatan yang besar menuntut tanggung jawab yang besar pula."
Manipulasi, ketidakjujuran, kepuran-puraan, jelas hanya akan merusak hubungan secara parah. Hubungan yang otentik hanya bisa terbuhul bila masing-masing pihak bersedia melepaskan topeng, jujur dan transparan, untuk kemudian belajar saling menerima apa adanya.
Akan benar-benar menyihir seandainya Bewitched memaparkan proses penyadaran itu secara tuntas. Apa boleh buat, film ini lebih suka tergesa-gesa mengejar formula happy ending. *** [denmas marto]

Pernikahan Masih Penuh Berkat

Wednesday, August 30th, 2006

Cincin_1 Menikah?! Wah, cuma tambah masalah saja! Enakan melenggang sendiri. Pernikahan itu cuma menambah beban, bikin capek, isinya cuma cekcok melulu. Dan ujung-ujungnya: C-E-R-A-I!

Pernah Anda mendengarkan lontaran seperti itu? Mungkin tidak ’sesadis’ itu, namun toh tetap diwarnai nada sinis dan skeptis terhadap lembaga pernikahan. Biduk pernikahan tak lagi dianggap sebagai jembatan menuju taman bahagia, namun malah dicibir sebagai perangkap yang menyulut neraka di bumi.

Pandangan pesimistis tersebut sedikit banyak disebabkan karena orang lebih banyak terpapar oleh potret-potret negatif pernikahan. Kapan terakhir kali Anda membaca tabloid yang memaparkan resep keharmonisan sepasang suami-istri yang telah mengarungi pernikahan mereka selama 40 tahun atau lebih? Bandingkan dengan berita kekerasan dalam rumah tangga dan kisah perceraian para selebritas yang lalu-lalang sebagai cerita sampul!

Tentu saja kita tak ingin menutup mata terhadap realitas memilukan itu. Namun, tidak pada tempatnya pula kalau kita lantas mengetukkan palu dan memvonis pernikahan sebagai lembaga yang sudah sekarat. Masalahnya, kita terlalu sering mengutuki kegelapan. Padahal, pernikahan, bagaimanapun, tetap menjanjikan kecerahan. Masih penuh berkat.

Sebuah penelitian, misalnya, menunjukkan bahwa pernikahan justru memperbaiki kesehatan mental dan mengurangi depresi. Seperti dikutip Nova, "Orang yang tidak pernah menikah justru lebih besar kemungkinannya mengalami depresi. Banyak wanita yang merasakan kepuasan dan kebahagiaan hubungannya dalam ikatan perkawinan. Perasaan saling memiliki membuat seseorang merasa berharga, berguna, dan hal ini jelas membuat stabil kejiwaan seseorang."

Penelitian Prof. Nick Stinnett, kepala Department of Human Development and the Family di University of Nebraska di Lincoln, AS, membuhulkan kesimpulan serupa. Ia mengadakan "proyek penelitian tentang kekuatan keluarga". Kajiannya mencakup keluarga-keluarga yang kokoh dari berbagai latar belakang etnis, termasuk keluarga bahagia dengan orang tua tunggal. Tim penelitiannya mengamati dan mewawancarai keluarga-keluarga dari Amerika Selatan, Swis, Autria, Jerman, Afrika Selatan, dan Amerika Serikat. Satu saja kriterianya: keluarga itu harus menilai diri mereka sangat bahagia dan pernikahan dan sangat puas dalam hubungan orangtua-anak. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan seperti, "Bagaimana kalian mengatasi konflik?", "Apakah kalian mengalami perebutan kekuasaan?", "Bagaimana kalian berkomunikasi?" Tujuannya tak lain untuk mengetahui apa yang menjadikan sebuah keluarga kokoh.

Hasilnya? Stinnett menulis, "Kami mempelajari 3.000 keluarga dan mengumpulkan sekian banyak informasi. Namun, setelah menganalisisnya, kami menemukan enam kualitas utama dalam keluarga yang kuat. Keluarga yang kuat itu: 1) berkomitmen pada keluarga; 2) meluangkan waktu bersama; 3) memiliki komunikasi keluarga yang baik; 4) mengungkapkan penghargaan pada satu sama lain; 5) memiliki komitmen rohani; dan 6) mampu menyelesaikan masalah di tengah krisis."

Wah, masing-masing aspek bisa menjadi artikel tersendiri! Yang jelas, keluarga harmonis itu tidak terjadi begitu saja. Perlu tekad yang bulat, ketetapan hati, dan ketekunan untuk berlatih dan terus meningkatkan diri. Singkatnya, perlu keras. Jadi, kalau Anda merasa pernikahan itu sebuah belenggu, tampaknya Anda belum mengerjakan PR dengan semestinya. *** [denmas marto]

Dari Tanah Pertanian ke Katedral Kristal

Wednesday, August 30th, 2006

Robertschuller Saat itu, empat minggu lagi usianya lima tahun. Henry, pamannya yang menjadi misionaris di China, datang untuk berlibur. Ia mengusap-usap rambut Robert dan berkata, "Kamu Robert, ya? Kamu akan jadi pengkhotbah kalau besar nanti."
Robert menjawab, "Oh, terima kasih, Paman Henry." Ia menganggap pernyataan itu sebagai nubuatan dari Tuhan.
Keesokan harinya, Henry berkata, "Itu artinya, Robert, kamu harus bersekolah selama 20 tahun."
"Benarkah?"
Kata pamannya, "Ya, delapan tahun di sekolah dasar, lalu empat tahun di sekolah menengah, lalu empat tahun di perguruan tinggi, dan tiga tahun di seminari. Itu sekitar 20 tahun."
"Baik, tidak masalah," kata Robert.
Peristiwa kecil itu nyatanya menanamkan tujuan hidup yang kuat dalam diri Robert Schuller. Nubuatan itu menjadi penuntunnya menuju masa depan.
Ketika ia menceritakannya pada ayahnya saat sarapan, ayahnya menatapnya dan menangis. Namun, baru 20 tahun kemudian, saat ia lulus pascasarjana teologi, ayahnya menjelaskannya. Ternyata itu adalah impian ayahnya sendiri. Karena menjadi yatim piatu ketika masih kecil sehingga putus sekolah untuk mencari makan sendiri, ayahnya harus melepaskan impian itu. Ia lalu berdoa agar diberi anak yang dapat mewujudkannya. Ternyata dialah, si bungsu dari lima bersaudara, yang menjadi jawaban bagi doa sang ayah.

Suka Langit
Robert Harold Schuller lahir di Alton, Iowa, 16 September 1926. Ia dibesarkan di tanah pertanian orang tuanya, di tengah komunitas warga Amerika keturunan Belanda. Keluarga Schuller pengikut Dutch Reformed Church, denominasi Protestan tertua di Amerika Utara.
Sebagai anak tani, ia terbiasa dengan kesunyian. Ia kerap berjalan menyusuri sungai, duduk-duduk di tepiannya dan memandangi sungai yang mengalir tenang. Ia juga dapat mengamati awan yang berarak pelan-pelan melintasi langit yang lapang. Ia merasa jatuh cinta pada langit!
Siapa menduga kalau kesukaan masa kecil itu akan berpengaruh pada pelayanannya? Sekitar seperempat abad kemudian, ketika ia pergi ke California untuk merintis gereja baru, ia memilih bioskop drive-in sebagai tempat mengadakan kebaktian. Di situ ia bisa berkhotbah sambil memandang ke langit luas. Hal itu pula yang kelak mengilhaminya membangun Katedral Kristal, gedung yang dipenuhi panil-panil jendela kaca.
Selulus dari Hope College, Robert menempuh pendidikan teologi di Western Theological Seminary, Michigan. Pada 1950 ia mendapatkan gelar Masters of Divinity. Ia lalu menikah dengan Arvella DeHaan, dan pasangan muda ini pindah ke Chicago. Di sana ia ditahbiskan sebagai pendeta Ivanhoe Reformed Church. Selama pelayanannya, jemaat itu bertumbuh dari 38 orang menjadi lebih dari 400 orang.
Pada 1955, denominasinya mengutus Schuller merintis gereja baru di Garden Grove, California. Dengan hanya dibekali dana 500 dolar, ia kesulitan untuk mendapatkan gedung pertemuan. Akhirnya, ia memutuskan untuk menyewa sebuah bioskop drive-in. Pada kebaktian Minggu pertama, muncul 100 orang. Seperti kalau sedang menonton bioskop, mereka mendengarkan khotbah di dalam mobil masing-masing! Schuller sendiri berkhotbah dari anjungan penjualan camilan.
Banyak orang di Reformed Church menganggap tidak sepantasnya sebuah kebaktian yang sakral diadakan di bioskop drive-in. Namun, Schuller sangat suka berkhotbah di udara terbuka. Jemaatnya pun bertumbuh dengan pesat. Pada 1961, mereka mendirikan gedung permanen pertama, gereja pertama di dunia yang bergaya drive-in.

Katedral Kristal
Pelayanannya pun kian berkembang. Pada 1970 ia membuka The Robert H. Schuller Institute for Successful Church Leadership, yang mahasiswanya berasal dari berbagai denominasi, Prostestan dan Katholik. Bill Hybels dan Rick Warren termasuk orang yang menemukan hasrat untuk menekuni pelayanan melalui institut ini.
Pada tahun yang sama ia juga memulai siaran televisi dari gerejanya. Acara itu, The Hour of Power, disiarkan oleh ratusan stasiun di seluruh dunia. Diperkirakan 30 juta orang menonton siaran ini setiap minggunya. Dan ternyata penontonnya tidak terbatas dari kalangan Kristiani. Sekitar sejuta orang Muslim juga menjadi pemirsa setia acara ini.
Pencapaiannya yang paling monumental tak lain adalah Katedral Kristal. Saat jemaat Garden Grove memerlukan gedung yang lebih besar, Schuller meminta arsitek termasyhur Philip Johnson untuk membangun gedung yang keseluruhannya terbuat dari kaca. Setelah melewati berbagi kesulitan, bangunan megah berkapasitas 2.736 tempat duduk ini didedikasikan pada 1980, "Untuk Kemuliaan Manusia bagi Kemuliaan Allah yang Semakin Besar." Saat ini, satu juta orang mengunjungi katedral ini setiap tahunnya, untuk kebaktian Minggu, konferensi, seminar, lokakarya, dan dua pertunjukan tahunan, The Glory of Christmas dan The Glory of Easter.
Sampai saat ini, Robert Schuller telah menulis sekitar 30 buku. Pernikahannya dikaruniai satu putra, empat putri dan 17 cucu. Anak-anaknya terlibat dalam pelayanan, dan pada 22 Januari 2006, Robert Anthony Schuller menggantikannya sebagai pendeta senior Katedral Kristal.

Pupuk Bawang
Mengikuti jejak pembimbingnya, Norman Vincent Peale, Schuller memusatkan pengajarannya pada aspek-aspek Kekristenan yang menurutnya positif. Alih-alih menempelak orang akan dosa, yang ia yakin memang mereka lakukan, ia berupaya meyakinkan orang-orang non Kristen bahwa melalui pemikiran yang positif mereka dapat mewujudkan impian mereka.
Doktrin ini ternyata memantik perdebatan yang sengit di kalangan kaum Injili konservatif, baik di dalam maupun di luar denominasinya. Ia sempat dituduh mengajarkan bidat dan dikucilkan, termasuk oleh Western Theological Seminary, tempatnya dulu menimba ilmu. Ia mengaku sempat terluka oleh perlakuan tersebut.
Tidaklah mengherankan kalau ia sangat tersentuh ketika Western pada 2005 menganugerahinya Distinguished Alumnus Award. Anugerah semacam itu baru pertama kali diberikan sepanjang 126 tahun berdirinya seminari tersebut.
"Hal itu membuat saya menangis," katanya. "Ternyata saya benar, dan akhirnya mereka dapat melihatnya. Saya pikir saya sedang membentuk Kekristenan. Yesus memperlakukan orang dengan penuh kasih. Gereja tidak selalu demikian. ‘Aku akan mengasihimu kalau…. Aku akan mengasihimu ketika…. Aku akan mengasihimu sesudah….’ Dan itu bukan Kekristenan. Kekristenan yang otentik berkata, Allah berkata, ‘Aku mengasihimu.’ Titik."
Suatu ketika sebuah artikel menyatakan bahwa khotbahnya berfokus pada citra diri yang positif karena sebenarnya dia sendiri memiliki citra diri yang buruk. Dalam sebuah wawancara, Robert Schuller diminta berkomentar tentang hal itu.
"O ya, saya tahu itu," jawabnya membenarkan. Ia lalu menceritakan pengalaman masa kecilnya. Sebagai anak yang gemuk dan kurang tegap, ia mengaku kurang dilibatkan oleh teman-temannya dalam permainan. Kalau mereka membentuk tim pertandingan, ia hanya dianggap sebagai pupuk bawang. Ikut tim mana saja, perannya tidak terlalu diperhitungkan.
"Saya pikir di situlah munculnya dorongan yang nantinya membuat saya tertarik untuk menekuni kajian teologi citra diri," katanya. *** [denmas marto]

Dari Mukjizat Sampai Jelangkung

Wednesday, August 9th, 2006

Syukurlah, awal bulan Agustus ini empat buku baru saya terbit. Ada Sibuk bagi Tuhan (Gloria Graffa), Operasi Humor Ganas dan Senyum Itu Dosa, Ketawa Masuk Surga (Papyrus), serta Dari Mukjizat Sampai Jelangkung (PBMR ANDI).
Dari Mukjizat Sampai Jelangkung bisa disebut sebagai sekuelnya Gagal Menjadi Garam. Isinya tetap seputar gereja di tengah gejolak budaya. Sebagai kumpulan artikel yang sebagian besar telah dimuat di Bahana, buku ini mencatat sejumlah isu dan fenomena yang sempat melanda kekristenan di Indonesia pada tahun-tahun belakangan ini. Berikut ini kutipan dari sampul belakanganya:
"Siapa yang tidak tahu film dan novel Harry Potter? Dari anak-anak sampai orang dewasa "tergila-gila" dengan cerita buah karya J.K Rowling ini. Sebagian kalangan Kristen mencerca serial Harry Potter sebagai "menyelundupkan" agenda okultisme dan sihir. Benarkah demikian? Lantas bagaimana dengan film Jelangkung yang menjadi ikon remaja kota besar? Pertanyaan-pertanyaan tersebut dibahas secara tuntas dalam buku yang merupakan kumpulan artikel ini.
"Penulis dengan pemahaman Alkitab yang mendalam dan dasar pengetahuan umumyang luas menganalisis setiap fenomena dan kontroversi yang merebak di kalangan Kristen, seperti: Bagaimana sikap kita terhadap selebriti yang baru bertobat? Efektifkah pendekatan yang lebih menekankan peperangan rohani terhadap roh teritorial tertentu? Apakah mukjizat merupakanunsur terpenting dalam kesaksian? Bisakah orang Kristen kerasukan roh jahat? Apakah pengalaman rohani mencari hadirat Tuhan lebih penting daripada pemahaman firman Allah? Dan sebagainya.
"Buku ini memberikan sudut pandang baru bagi orang Kristen agar lebih efektif menjalin hubungan dengan Tuhan dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari."
Nah, jangan lupa beli ya! Juga buku-buku yang lain. Laris, laris, hehe! Yang jelas, kutunggu komentar dan masukan kalian semua. *** [denmas marto]