Archive for July, 2006

Injil Yudas: Benarkah Dihilangkan?

Sunday, July 23rd, 2006

Beberapa waktu lalu, seorang teman mengirimi saya surat-e bertajuk: "The Next Da Vinci Code". Apa isinya? Sampul buku The Gospel of Judas "Injil Yudas" yang akan segera terbit edisi bahasa Indonesianya. Sekarang buku itu telah terpajang mencolok di toko-toko buku besar se-Indonesia.

Apa pula Injil Yudas itu? Yang jelas, itu bukan injil. Dan buku itu bukan ditulis oleh Yudas. Buku itu baru muncul sekitar 150 tahun setelah Yudas Iskariot, murid Yesus yang menjual Gurunya itu, menjadi almarhum. Isinya? Ini barangkali yang menghebohkan. Ternyata Yudas itu bukan murid yang mengkhianati Yesus dan bunuh diri setelah didera penyesalan. Bukan, Yudas itu ternyata hanya melakukan apa yang Yesus perintahkan kepadanya. Yesus menjelaskan kepada Yudas bahwa ia akan "mengungguli semua [murid]" dengan menyalibkan Yesus.

Menghebohkan. Ya, seandainya itu benar. Ngomong-omong, orang yang pernah nonton Jesus Christ Superstar bilang, "Ah, cerita Yudas menjadi pahlawan mah sudah usang!"

Tentu, penemuan Injil Yudas terhitung penting. Mungkin bisa disebut penemuan naskah non-Alkitab terpenting sepanjang 60 tahun terakhir, seperti diklaim seorang pemuka National Geographic Society.

Apa pentingnya? Naskah itu meneguhkan pengetahuan kita tentang Gnostisisme. Aliran bidat kuno ini semula hanya disebut-sebut dalam apologetika para pemimpin gereja mula-mula seperti Irenaeus (Anda dapat mengunduh naskahnya di sejumlah situs internet). Kehadiran Injil Yudas memperjelas paling tidak dua ajaran pokok Gnotisisme.

Pertama, Yesus tidak benar-benar menjelma menjadi daging, atau sekurang-kurangnya Ia pengin cepat-cepat kembali ke alam roh. Yudas menolong hal itu terjadi. Kedua, kaum Gnostik percaya bahwa hanya sejumlah kecil orang terpilih yang dapat benar-benar memahami pengetahuan surgawi. Injil Yudas mengajarkan bahwa hanya Yudas, murid favorit Yesus, yang memahaminya sepenuhnya. Silakan bandingkan dengan iman Kristen berkenaan dengan inkarnasi dan penebusan.

Pertanyaan yang mengganjal: Benarkah Injil Yudas termasuk injil yang disingkirkan dalam pertarungan politis pembentukan kanon Alkitab? Bagi pecandu teori konspirasi seperti yang ditawarkan The Da Vinci Code, skenario semacam itu sangat memikat. Namun, coba kita berpikir secara sederhana saja. Gnostisisme adalah ajaran esoteris, artinya mereka percaya bahwa kebenaran rohani itu hanya dapat diketahui dan dipahami oleh orang tertentu. Bukankah dengan itu mereka sudah membatasi dirinya sendiri? Kalau pesannya hanya bisa dikunyah oleh kalangan terbatas, orang kebanyakan juga tak akan terlalu berminat menyimaknya, bukan? Lha, wong yang cuma segelintir juga kok yang bisa menjadi grandmaster (meminjam istilah penulis novel heboh itu)! Tak heran kalau tak banyak salinan yang bertahan dan sampai ke tangan kita.

Sebaliknya, kalau Alkitab tersebar luas dan bertahan sampai sekarang, bukankah itu karena beritanya "hidup" dan universal? Orang yang membaca dan mengimaninya, mengalami berkat dan kehidupannya diubahkan. Justru Alkitablah yang kerap dicekal oleh berbagai kekuatan politik sepanjang sejarah, namun orang tetap rela menyebarluaskannya sekalipun harus menjadi martir. Kanonisasi sendiri hanya meneguhkan pengakuan dan penerimaan yang sudah berlangsung di tengah umat ini. Penemuan Injil Yudas dan "injil-injil terhilang" sejenis, konon, juga menunjukkan betapa beragamnya kepercayaan Kristen pada mulanya, tidak tunggal seperti saat ini. Wah, saya justru tidak paham dengan cara pandang juling ini. Memangnya mereka tidak melihat betapa beragamnya Kekristenan saat ini? Apa mereka tidak menghitung bidat-bidat sempalan yang tetap hidup dan segar-bugar sampai sekarang? Saksi Jehova, misalnya, memiliki ajaran yang serupa dengan, untuk tidak menyebutnya bersumber dari, ajaran Arius (Arianisme) yang muncul pada abad ke-4.

Jadi? Jelaslah, dari dulu sampai sekarang, Allah masih membiarkan lalang tumbuh di antara gandum. Belum saatnya membakar lalang. *** [denmas marto]