Blog, Situs, dan Ketelanjangan
Wednesday, January 25th, 2006Apa sih beda antara blog dan situs (pribadi)?
"Kalau situs itu jaim, kalau blog itu dejaimisasi," seorang kawan menjelaskan.
O, maksudnya, blog itu lebih ‘telanjang’, lebih leluasa mengungkapkan jeroan sang blogger - seandainya dia mau telanjang tentu. Jadi, sebenarnya, yang menentukan bukan medianya (situs atau blog), melainkan the man behind the media. Mau ‘telanjang’ di situs juga tidak dilarang, kok.
Bagaimanapun, era internet memang telah menjungkirbalikkan dan merobohkan sekat-sekat ruang privat. Dulu, kalau kita menulis buku harian, kita akan mengamuk kalau ada orang lain yang membacanya tanpa izin. Sekarang? Orang justru mengumbar buku hariannya untuk dibaca oleh seluruh warga dunia yang punya akses ke jejaring jagad jembar.
Blog - bagi yang mengikuti aliran ‘dejaimisasi’ - menjadi ruang pengakuan publik.
Kembali, kita melihat runtuhnya ruang privat. Dalam tradisi Katholik, ada bilik pengakuan dosa. Pengakuan disampaikan secara perseorangan - dari umat kepada imam yang ditahbiskan sebagai wakil Tuhan.
Paling tidak, kita mengaku di bilik doa pribadi. Atau, memberanikan diri mendatangi orang lain yang bermasalah dengan kita. Semuanya dalam konsumsi privat. Kita risi bila masalah kita menjadi bahan omongan orang di balik punggung kita.
Blog, sebaliknya, justru memberi panggung untuk menguarkannya - sekali lagi, bagi yang bersedia.
Pengakuan dosa secara personal mengarah pada pemulihan. Pada rekonsiliasi. Pada resolusi dan seruan memohon rahmat dan anugerah untuk memperbaiki diri dan tidak mengulangi kesalahan serupa.
Pengakuan ‘dosa’ secara publik? Entahlah, karena aku sendiri belum cukup berani untuk menelanjangi diri di ruang publik. Aku hanya bisa menduga: Sebuah katarsis, barangkali? Atau, ‘dosa’ sudah menjadi, seperti disebut Philip Yancey, ‘an unspoken word’ - dan kita membicarakannya tanpa beban, dan bahkan dibubuhi nada bangga? Inikah perayaan keterbukaan dan kejujuran? Ataukah ini produk zaman yang kehilangan rasa malu dan rasa bersalahnya?
(Lalu, kita yang dengan sukahati mengintip blog-blog ‘telanjang itu’ - siapakah kita?)
Entahlah. Yang kutahu hanyalah: Ada waktu untuk menelanjangi ‘dosa’; ada waktu untuk menutupi ‘dosa’. Baik di situs maupun di blog. *** [denmas marto]