Pamitan

July 4th, 2009 by ariesaptaji

Mulai Minggu, 5 Juli 2009,
saya akan menghentikan pengelolaan blog/akun ini.
Menghentikannya, bukan menghapusnya. Artinya,
saya tidak akan memperbarui isi dan datanya,
tetapi data-data lama akan saya biarkan tersimpan di sini.
Bila Anda berminat mengikuti perkembangan kepenulisan saya,
Anda dapat mengaksesnya di:
Notes of 40+
Terima kasih!

Memilih Menderita

March 5th, 2009 by ariesaptaji

crucifixBaca: Lukas 22:39-46

“Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini dari pada-Ku; tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi” (Lukas 22:42)

Desperaux, tikus kecil berkuping besar dalam dongeng indah Kate DiCamillo, dua kali turun ke ruang tahanan bawah tanah di sebuah kastil. Yang pertama berlangsung sebagai hukuman gara-gara ia dianggap sebagai pelanggar tata tertib masyarakat tikus di kastil tersebut. Peristiwa kedua terjadi dalam konteks yang sama sekali berbeda. Ia melakukannya karena hendak menyelamatkan seorang putri yang dicintainya. “Kau tahu, kau pergi ke ruang bawah tanah bukan karena terpaksa. Kau ke sana karena kau memilih pergi ke sana,” seekor tikus lain berkomentar.

Kisah itu mengingatkan saya pada nyanyian yang sekian tahun lalu dipopulerkan Sandi Patti, Via Dolorosa. Salah satu bait lagu yang mengisahkan perjalanan Tuhan Yesus menuju Kalvari itu menyatakan, “Tetapi Dia memilih jalan itu karena Dia mengasihi anda dan saya.” Berbeda dengan dua pencuri yang tergantung di kayu salib gara-gara kelakuan buruk mereka masing-masing, Yesus meregang nyawa secara hina berdasarkan pilihan-Nya sendiri. Setelah pergumulan yang berpeluhdarah di Taman Getsemani, Yesus memilih untuk berserah pada kehendak Bapa-Nya: menggenapi rencana penebusan bagi umat manusia.

Yesus mengundang para pengikut-Nya untuk memilih jalan serupa: memikul salib, menempuh jalan sengsara. Sengsara bukan gara-gara kebodohan atau kesalahan kita sendiri, melainkan karena menepiskan kemauan dan kenyamanan pribadi demi menuruti kehendak Allah. Sengsara karena lebih mencintai jalan Tuhan daripada jalan dunia. Maukah Anda memilih salib? ***

Salib Kristus itu bukan paksaan, melainkan pilihan.

Memberdayakan Kaum Muda

March 5th, 2009 by ariesaptaji

pemuda01

Life begins at forty. “Hidup dimulai pada usia empat puluh tahun.” Tampaknya gereja-gereja sekarang termasuk lembaga yang berpandangan demikian. Seolah-olah ada konsesus tak tertulis bahwa Tuhan hanya dapat atau seyogyanya menggunakan mereka yang sudah berumur lebih dari empat puluh tahun untuk melakukan pekerjaan yang benar-benar penting dalam Kerajaan-Nya.

Dalam novel Mochtar Lubis, Jalan Tak Ada Ujung, ada ilustrasi yang mengena untuk keadaan ini. Mr. Kamarruddin – yang bersama rekan-rekan sebaya lainnya yakin: jika Belanda berkuasa lagi, semua akan beres – marah-marah kepada anaknya yang membawa pistol, lari ikut bergerilya, “Haziiilll! Kembali!”

Y.B. Mangunwijaya mengomentari, dalam teriakan itu tersembunyi perasaan yang lebih besar daripada kemarahan, yakni perasaan sayang seorang ayah kepada anak, dan rasa takut anaknya mendapat bahaya maut. Dalam teriakan itu juga tersembunyi rasa takut Mr. Kamarruddin sendiri yang dipendamnya jauh-jauh di dalam hatinya. Takut melihat perubahan-perubahan zaman, perubahan yang tidak dapat dimengerti olehnya.

Sindroma Mr. Kamarruddin ini tampaknya banyak menghinggapi gereja saat ini. Gereja cenderung memandang kaum muda sebagai bagian dari masalah, bukan bagian dari penyelesaian masalah. Dalam pembicaraan tentang anak muda, gambaran yang segera muncul adalah tawuran pelajar, pergaulan bebas, hedonisme atau penyalahgunaan narkoba. Sudah begitu, pelayanan kaum muda kurang ditangani secara serius, lebih sering hanya ditempatkan sebagai “acara tambahan” di tengah rangkaian tugas dan agenda gereja.

Kalau mencermati begitu hebatnya masalah dan tantangan yang dihadapi kaum muda, tidakkah ini justru mengisyaratkan bahwa di balik gejolak dinamika kemudaan mereka, tersimpan suatu potensi yang dahsyat?

Ledakan populasi dunia telah menempatkan kaum muda pada tempat penting yang belum pernah terjadi sebelumnya. Lebih dari separuh penduduk dunia adalah anak muda.

Winkie Pratney, hamba Tuhan yang banyak melayani dan menulis tentang kaum muda, menyatakan, generasi muda mencari sesuatu yang patut dipercayai, sesuatu yang patut diperjuangkan dalam hidup ini, sesuatu yang kalau perlu dibela sampai mati. “Allah juga memberikan perhatian khusus pada kaum muda. Anak muda memiliki imajinasi. Anak muda cepat menangkap suatu visi. Dan mereka akan berani untuk memperjuangkannya sekalipun menghadapi kemustahilan,” lanjutnya.

Dalam Perjanjian Lama, kurban yang dipersembahkan di atas mesbah haruslah hewan yang masih muda, sehat, sedang mencapai puncak kekuatan dan pertumbuhannya. Dagingnya harus segar dan empuk, tanpa cela atau bekas luka, tulangnya tidak ada yang patah, tidak terserang penyakit, dan tentu saja tidak cacat. Hewan kurban ini melambangkan pelayanan yang sungguh-sungguh terhadap Allah dan membantu semua orang percaya untuk menaikkan penyembahan mereka kepada-Nya. Hewan kurban ini sekaligus mengingatkan bahwa mereka harus memberikan yang terbaik kepada-Nya.

Prinsip tersebut tetap relevan pada masa Perjanjian Baru. Roma 12:1 menyatakan, kita harus mempersembahkan tubuh kita, seluruh diri kita, sebagai persembahan yang hidup bagi Allah. Ia menghendaki persembahan terbaik dari diri kita.

Mengapa persembahan masa muda ini bermakna? Masa muda yang masih “empuk” menjadikannya mudah diolah dan dibentuk oleh tangan Tuhan. Dengan mempersembahkan masa muda kepada Tuhan, orang belajar untuk mengendalikan kehidupannya dan mengambil keputusan yang bijaksana. Pada masa muda orang juga lebih fleksibel, dan dengan demikian lebih mudah untuk belajar mempercayai Allah.

Alkitab penuh dengan contoh tokoh-tokoh yang melayani Tuhan sejak masa muda, seperti Samuel, Daniel, Yusuf, Daud dan Yosia. Rasul-rasul Tuhan Yesus juga menerima panggilan mereka pada usia muda.

Dalam sejarah, kaum muda terbukti sebagai salah satu sarana utama Allah untuk memperluas Kerajaan-Nya. Martin Luther masih berusia 33 tahun ketika menyulut peristiwa yang nantinya dikenal sebagai Reformasi Prostestan. Allah menggunakan William Carey yang baru berusia 31 tahun untuk melahirkan gerakan misi modern. Charles Spurgeon, “Raja Pengkhotbah” dari Inggris, mulai berkhotbah pada usia 19 tahun dan memikat sekian banyak orang, sehingga sebelum berusia 30 tahun ia telah membangun dan mengisi penuh Metropolitan Tabernacle di London dengan kapasitas 5.000 tempat duduk. Evan Roberts masih 26 tahun ketika dipakai Tuhan untuk mengobarkan kebangunan rohani di Wales. Di kebangunan rohani itu pula, Tuhan memakai para remaja belasan tahun dan anak-anak kecil untuk melayani dan membimbing orang tua mereka dan orang-orang dewasa lainnya!

Mereka ini barulah sebagian kecil dari ribuan kaum muda yang telah dipakai Allah untuk memajukan Kerajaan-Nya. Dan tentunya Allah masih memanggil dan mengutus kaum muda sampai saat ini, seperti difirmankan-Nya, “Pada saat Engkau menyatakan kuasa-Mu, bangsa-mu akan memberi diri dengan sukarela; dalam perarakan yang kudus, dari kandungan fajar, anak-anak muda akan tampil bagimu seperti embun” (Mazmur 110:3, terjemahan New American Standard).

Untuk itu, gereja perlu menggeser paradigmanya tentang kaum muda. Alih-alih memarginalkan pelayanan kaum muda, gereja perlu menjangkau dan memenangkan generasi muda, serta berkomitmen untuk melayani, melatih dan memperlengkapi mereka dengan segala sumber daya yang tersedia, sehingga mereka dapat melayani kehendak Tuhan dalam generasi ini. ***

Kantung Baru untuk Anggur Baru

March 5th, 2009 by ariesaptaji

reuni1

Reuni Mantan Maranatha
Yogyakarta, 28 Februari – 2 Maret 2009

1.
Reuni yang bikin teler. Bagaimana tidak? Seluruh dunia tahu bagaimana kalau orang Maranatha (Jogja) sudah kumpul. Habis meeting, rencana mau ke warung poci, ngobrol dulu di ruang meeting. Lalu turun ke kamar untuk menaruh barang, ngobrol dulu di depan kamar. Lalu bergerak ke mobil, ngobrol dulu di sekitar mobil. Baru naik mobil, ke warung poci untuk ngobrol lagi panjang-lebar… dst. Intinya, sambil tidur pun masih terus ngobrol. Dan karena ini reuni hanya dua hari dua malam, alhasil masa tidur jadi menipis. Belum lagi aspek spiritual-mental yang menyala-nyala penuh gairah, semangat, kangen, nostalgia pahit-manis-getir-kecut yang membangkitkan tawa terbahak-bahak saat dikenang. So, ini memang reuni amat singkat, namun sudah bikin teler, dan amat sangat menyenangkan…

Oya, tadinya aku mau bikin laporan ala wartawan, meliput berbagai sisi reuni ini. Tapi, rasanya lebih asyik bercerita dari sudut pandangku sendiri, bagian-bagian yang memang kuketahui (data yang salah silakan dikoreksi). Biar kawan-kawan lain nanti melengkapi dari sudut pandang masing-masing.

2.
Jumat (27/2), sebagian peserta sudah datang. Malam-malam rencana mau angkringan. Aku ditelepon untuk meluncur ke Warung Ki Demang di Jamal. Di sana sudah menunggu, kusebut saja yang dari luar kota: Cak Joe (Batam), Anto (Palangkaraya), Arnold (Denpasar), dan menyusul Heru (Solo). Aku memesan wedang tape dan berbagi mi goreng ayam semur dengan Reynold.

Aku sempat ngobrol dengan Joe. Ia cerita soal sekolah musik yang tengah dirintisnya dengan seorang kawan dari Jogja. Impiannya sekolah ini nanti akan memperlengkapi gereja-gereja dalam pujian-penyembahan.

3.
Sabtu (28/2), sekitar pukul 5 sore, kami sekeluarga dijemput Shane dan Ine serta Anto. Penumpang lainnya… surprise: Pak Ronny & Mbak Santje dari Sidoarjo, beserta dua putri cantik mereka: Grace & Angel. Maria tak bisa ikut karena acara di sekolah. Grace yang dulu anak sekolah Minggu itu kini sudah mahasiswi Universitas Negeri Malang Jurusan Bahasa Jerman. Cepatnya waktu berlalu!

Mobil meluncur agak tersendat di Jakal. Rupanya malam Minggu begini banyak yang ingin menghabiskan waktu dengan menghirup udara dingin segar Kaliurang.

Pak Ronny sekeluarga sempat tinggal di center Jatimulyo, beberapa rumah dari tempat tinggal kami sekarang. Mereka lalu misi ke Purwokerto dan Tegal. Sekarang di Sidoarjo mereka melayani di GPdI. Pak Ronny cerita, ia berinisiatif mengadakan kebaktian pemuda dengan kostum informal, seperti pakai celana jin, awalnya diprotes, namun akhirnya malah disukai.

Sesampai di Taman Eden 3, Andhie Supriadi menyambut kami dan mempersilakan kami memilih kamar masing-masing. Menyusul di belakang kami Heru & Eel bersama Ninik dan Hendro Saputro. Andhie juga memberi tahu, makan malam sudah siap lantai 1.

Di ruang makan inilah, satu demi satu peserta bermunculan. Nah, langsung saja kubuat presensi peserta, baik yang ikut seluruh acara maupun hanya datang satu malam:

Batam: Joe Karsajati, Pedro Tololiu.

Jambi: Omega Cahyono,

Jakarta: Eriel & Sinta, Herry & Meri, Welly & Else, Lesmana & Yanti, Herbert Rajagukguk, Rikky Sebayang, Deny Ratulangi, Rudi Siregar, Arthur Montong.

Jogja: Tomy & Pipin, Reynold & Iie, Arie & Rina, Shane & Ine, Mibsam Rehuil Manu, Eq, Kris & Ambar, Eko & Irma, Ook, Ninik, Hendro, Andhie & Ida, Andi & Ita, Tony & Vivin, Stefanus Dadang, Tri Prasetyo, Ichus, Kris Juliadi, Yosua Sirait, Chocho Paputungan.

Solo: Heru & Eel, Jarot, Lilik.

Semarang: Yani & Ita.

Sidoardjo: Ronny & Santje.

Depansar: Yessy Arnold.

Palangkaraya: Bambang Bahan, Anto, Harnopelin.

Papua: Izaak Wondiwoy.

AS: Bob Weiner.

Sebagian datang lengkap dengan anak-anak, sebagian lagi datang sebagai lajang sementara.

3.
Aku antara lain ngobrol dengan Stefanus. Ia cerita pengalamannya ketika kerja di pertambangan. Gaya hidup yang berbeda (tidak merokok, tidak memaki, peduli dan mau bergaul dengan bawahan) membukakan kesempatan baginya untuk berbagi tentang Tuhan dan imannya.

Tony membawa satu album khusus foto-foto tua, sebagian berlokasi di center Puluhdadi. Arnold masih berambut sebahu, Heru Handoko masih langsing ramping, Herlak brewokan…

Reynold cerita pengalaman saat diajak mencari beras sampai ke Cilacap. Beras gratis sangat menggiurkan bagi anak-anak center saat itu. Nyatanya, sudah bersepeda motor jauh-jauh, dalam keadaan demam, sesampai di lokasi beras ternyata sudah tak ada. Untunglah, perjalanan itu malah menghilangkan demamnya!

Obrolan semacam itu terus bergulir satu per satu sambil kami menunggu Eriel & Sinta serta Bob yang sedang dijemput di bandara. Kalau diperhatikan wajah-wajah di ruangan itu satu per satu, ada yang sepuluh tahunan sudah tak bersua, kebanyakan tak banyak berubah: masih muda-muda dan segar-segar… cie! Perubahan nyata pada postur tubuh: dulu kurus kapiran kurang terurus, sekarang lemu ginuk-ginuk alias mendapatkan vitamin yang cocok. Tinggal Omega Cahyono yang tubuhnya masih ramping seperti dahulu.

4.
Ketika Eriel & Sinta dan Bob datang, kami turun ke aula kecil di lantai dasar. Bob, dengan baju formal berdasi, memberi salam dan berbagai soal DNA rohani dan pentingnya menjadi orang Kristen dunia. Maranatha dipanggil untuk memenangkan, membangkitkan, dan mengutus kaum muda (win – build – send, ingat?) untuk mendatangkan perubahan melalui 3R: revival (kebangunan rohani), reformasi masyarakat, dan restorasi Gereja Perjanjian Baru. Kita perlu menjadi orang Kristen yang berfokus pada Kerajaan Allah, bukan hanya sibuk dengan jemaat lokal dan pelayanan sendiri. Kita berfokus mulai dari yang global (Kerajaan Allah, bangsa-bangsa) lalu turun ke bagian-bagiannya sampai yang terkecil (jemaat lokal, keluarga, pribadi). Semacam think globally, act locally, begitulah.

Nantinya Tomy memancing komentar, ”Mas Arie, apa coba yang baru dari khotbah Bob Weiner?”

”Pesennya tetep sama. Ilustrasinya saja yang bertambah mengikuti perkembangan. Kayak saat ini ada ilustrasi dari Olimpiade Beijing. Apa lagi?”

”Sekarang Bob suka ke mal?”

”Maksudnya?”

”Dia kasih diskon lima puluh persen.”

”Hah?”

”Dulu, VIP seminggu menjangkau dua belas orang. Sekarang dia kasih hanya enam orang!”

Bob membagi-bagikan foto keluarga, foto pernikahan Stephanie, foto klasiknya bersama Ronald Reagan, dan foto terbarunya bersama ”Barack Obama”….

Yang mengesankan, ia mengakui kesalahan Maranatha dulu. Maranatha berusaha membuat orang berubah dengan kekuatan pengawasan, kontrol (”Lihat mata saya!”), dan rebuke. Kita lupa bahwa yang bisa mengubah seseorang hanyalah perjumpaan dengan Allah. Karenanya, untuk melihat seseorang berubah, yang bisa kita lakukan hanyalah mengajarkan dan mendorongnya untuk membangun keintiman dengan Tuhan, mengalami perjumpaan dengan-Nya hari demi hari. That’s the missing ingredient!

5.
Bob diantarkan ke hotel, yang lain hijrah ke warung poci di depan taman bermain. Benar saja, malam Minggu begitu, tempat itu sesak padat. Pilihan pun bergeser ke warung sate Pak Min yang buka 22 jam! (Nggak tahu kapan mereka mengambil dua jam istirahat!)

Warung segera penuh dengan peserta reuni, Eriel memesan 300 tusuk sate ayam dan 100 batang sate kelinci, minuman silakan pesan sendiri-sendiri, teh panas atau ronde. Obrolan berlanjut sampai…

Dua bencong melenggang ke ambang pintu dan langsung kricik-kricik menepuk tamborin dan menembangkan baris awal Kucing Garong. Izaak teriak menghentikan mereka, ”Mas (atau Mbak?) bisa nyanyi yang lain nggak? Tuhan Yesus tidak berubah!” Izaak mencoba menyanyikan lagu itu mengajari mereka.

Kedua bencong itu bengong berpandangan.

”Tuhan Yesus iku sopo to?” kata bencong yang satu.

”Wis nyanyi wae!” sambar temannya.

”Tuhan Yesus tidak berubah….” Ya, liriknya begitu, tapi melodinya, asoi… tetap saja… Kucing Garong! Kok ya kebetulan pas banget! Seluruh warung bergetar terpingkal-pingkal. Apalagi kedua bencong itu menutup lagu dengan begitu aduhai, sambil melenggokkan pantat, mereka berdendang, ”Tuhan Yesus tidak berubah… (staccato) se-la-ma-la-ma-nya!” Sukses deh mereka ”merusak” bayangan lagu itu di benak kami semua.

6.
Minggu (1/3), peserta turun ke Jogja untuk kebaktian penjangkauan Youth Awakening. Kami kebagian kloter terakhir, tiba di Auditorium RRI, Jl. Gejayan, tepat mendahului mobil yang menjemput Bob. Ruangan sudah penuh sesak dengan 500 lebih hadirin. Aku malah menyelinap ke luar, diantar Yosua mengambil buku yang rencana hendak kujual seusai kebaktian.

Balik lagi, Bob sudah menjelang akhir khotbah. Masih seputar misi dunia, fokus pada Kerajaan Allah, komitmen sepenuh hati pada Kristus, hidup dalam kekudusan. Akhirnya Bob mengundang jemaat untuk bangkit dari kursi dan maju ke depan, bahkan naik ke panggung. Ia menyampaikan berita Injil secara singkat, dengan ilustrasi presiden yang menggantikan hukuman mati bagi anaknya, dan menantang orang untuk bertobat. Yang mengangkat tangan sekitar 5 orang. Lainnya diajak untuk berkomitmen pada tujuan Allah. Bob juga berdoa kesembuhan. Sesudahnya, kebaktian rehat sejenak, untuk diteruskan dengan sesi berikutnya berupa pengajaran.

Kesempatan rehat dimanfaatkan untuk foto-fotoan, sempat ketemu dengan Gogoh Sulaksono, lihat gambar-gambar di laptop Izaak, lalu makan siang bareng Pak Ronny di warung Bale. Mau pesan ayam bakar dan ayam goreng, eh, stok ayamnya lagi habis. Ya sudah kami semua makan nasi goreng.

Selesai makan, Rina dan anak-anak pulang ke rumah, nggak naik ke Kaliurang lagi karena besok anak-anak sekolah. Kembali ke RRI, aku nggak masuk ke dalam, tapi duduk di luar bareng Eriel, Sinta, Reynold, dan Arnold, membaca visi Youth Awakening dalam bahasa Inggris susunan Eriel yang sudah lengkap. Eriel lalu mengajak makan ke Selera Kuring, namun para istri mengatakan lebih mak nyus di Pelem Golek. Meluncurlah dua mobil ke Jl. Monjali.

7.
Aku naik lagi ke Kaliurang ikut mobil Tomy. Bambang dan Anto singgah di Mirota Batik untuk membeli oleh-oleh. Tunggu saja potret Anto berblangkon di Facebook.

Setelah mandi aku ke kamar Bambang dan Anto, ngobrol seputar keadaan jemaat di Palangkaraya. Tak lama kemudian rombongan Solo datang. Lalu kami naik ke atas untuk makan. Kali ini Kris & Ambar yang membawa foto-foto kenangan, tiga album kalau nggak salah. Ditunggu upload-nya ya Mr. Fotografer!

reuni2

Setelah ngobrol santai berkelompok-kelompok, Reynold mengajak semua peserta duduk melingkar. Aku diminta memimpin sharing. Nanti setelah Eriel dan Bob datang baru pindah ke aula.

Satu per satu peserta bercerita. Joe menceritakan pengalamannya memulai dari nol di Padang, dan kini setelah ia di Batam, ia mendengar jemaat di sana sudah berjumlah 70-an orang. Arthur yang paling awal oncat dari Medan sekarang melayani di GKPB, juga dipercayai untuk memegang kaum muda. Begitu juga dengan Rudi Siregar yang sempat melayani di GKPB, dan sekarang menangani kaum muda di jemaat Barsilea, Banten. Omega Cahyono melayani di GBI Abadi dalam bidang musik, namun setahun terakhir ini ia bergumul, berdoa dan berpuasa, tentang pelayanannya ke depan. Istrinya, yang bukan orang Maranatha, merasakan bahwa Tuhan mau Omega kembali terlibat ke dalam pelayanan kaum muda. Omega tentu kaget karena istrinya itu tidak terlalu paham kiprahnya di Maranatha. Maka, momen reuni ini membuatnya semakin bergairah untuk kembali melayani kaum muda. Heru juga terus setia dengan visi kaum muda sampai gereja-gereja lain di Solo mengenal kekuatan mereka tersebut dan mempercayakan pengurusan berbagai event kepemudaan kepada mereka. Generasi Baru Solo antara lain mengadakan kebaktian rock ‘n roll untuk menjangkau komunitas rocker dan underground di kota itu. Anto juga dipakai untuk melayani kaum muda di kota-kota tempatnya bekerja. Bambang memutuskan untuk tidak menjadi anggota legislatif lagi, dan setelah undur dari DPRD akan berfokus melayani jemaat. Tomy memaparkan bahwa jemaat Jogja dibawa ke level berikutnya, dengan dipercaya jemaat-jemaat lain membantu membangkitkan pelayanan kaum muda. Ia sendiri saat ini terlibat dalam kepengurusan GBI Yogyakarta. Arnold diperlengkapi untuk melayani keluarga-keluarga, namun pada awal tahun ini Tuhan membukakan pintu untuk melayani kaum muda. Semula baru ada 12 pemuda di jemaatnya, namun ketika mengadakan penjangkauan, ada 60 pemuda yang hadir dan dilayani. Eq panjang lebar menceritakan petualangannya keluar-masuk Maranatha (sampai ada yang komentar, “Bagus kalau dibuat novel!”), tentu dengan highlight bagaimana Tuhan memakainya untuk menularkan prinsip kelompok sel dan pergerakan kaum muda di jemaat lain. Izaak menceritakan perintisan jemaat di Sorong yang dimulai dari pembunuh dan pelacur, dan sekarang jemaat itu sedang membangun tempat kebaktian berkapasitas 1.500 orang…

Entah ketika orang keberapa sedang sharing, Bob masuk. Ia lalu memberikan komentar atas kesaksian masing-masing orang. Hehe, kupikir mau ganti memberikan pengajaran dia.

Dari kesaksian-kesaksian itu, jelaslah bahwa orang-orang Maranatha itu akan sukses saat mereka bergerak menurut DNA rohani, panggilan yang Tuhan letakkan melalui pergerakan ini: melayani kaum muda.

Saat Bob masuk, dan kemudian disusul Eriel & Sinta, aku lupa menanyakan pada Reynold, apakah sharing akan terus dilanjutkan atau acara mau dipindahkan ke aula. Ini kan memang reunian, bukan konferensi pelatihan. Kita mau silaturahmi, sharing, dan kangen-kangenan. Jadi, biarlah suasana ”konferensi meja bundar” yang sudah cair itu terus mengalir.

Akhirnya, Bob kembali menegaskan visi Kerajaan Allah, dan menumpangkan tangan pada seluruh peserta reuni.

8.
Setelah rehat dan fellowship sebentar, dan Bob diantar ke hotel, ”konferensi meja bundar” kembali dilanjutkan. Eriel sharing, menegaskan apa yang TIDAK ingin dibangunnya dan apa sebenarnya yang sedang dibangunnya.

Maka berkatalah Yesus kepada mereka: “Karena itu setiap ahli Taurat yang menerima pelajaran dari hal Kerajaan Sorga itu seumpama tuan rumah yang mengeluarkan harta yang baru dan yang lama dari perbendaharaannya.”—Matius 13:52

Kita memiliki ”harta yang lama”—warisan nilai, prinsip, dan pengajaran yang kita terima melalui pergerakan Maranatha. Bahan-bahan itu berguna, namun tidak memadai untuk membawa kita masuk ke tanah perjanjian. Hal itu hanya akan membuat kita seperti Musa, yang hanya bisa memandang tanah perjanjian dari jauh, namun tidak pernah memasukinya. Atau, seperti Daud, yang hanya bisa menyediakan bahan-bahan untuk pembangunan Bait Suci, namun tidak diperkenankan Tuhan membangunnya.

Kita memerlukan juga ”harta yang baru”—generasi Yosua yang memasuki tanah perjanjian, generasi Salomo yang membangun Bait Suci. ”Harta yang baru” ini, ”anggur yang baru” ini, tidak bisa diwadahi dengan kantung anggur yang lama. Apa wadah yang baru ini?

Relationship. Kita ingin membangun hubungan, bukan struktur organisasi. Secara organisasi kita sudah terpencar ke berbagai denominasi, namun kita tetap ingin keep in touch dan mendukung satu sama lain. Hubungan yang otentik memungkinkan adanya trust satu sama lain. Dalam atmosfir trust inilah, spiritual covering sungguh-sungguh berlangsung: kita menjadi penjaga saudara kita. Hubungan semacam inilah yang membuat Tuhan mencurahkan berkat dan urapan-Nya (Mazmur 133).

Power. Kita memerlukan power yang tangible. Eriel mencontohkan Jerame Nelson yang dipakai Tuhan secara luar biasa dalam kuasa dan mukjizat. Namun, ia juga anak muda yang cool banget (baru 28 tahun!), dan tidak terlalu hirau dengan formalitas. Mesti menunggu 2 jam, tidak masalah. Berdoa dengan iringan musik cadas, urapan Tuhan juga tetap mengalir deras.

Power ini muncul dari tengah api kekudusan, dari keintiman dengan Tuhan dan takut akan Dia. Namun, paradigma kita tentang kekudusan berbeda dengan perspektif old generation. Bukan lagi kekudusan yang legalistik, tidak boleh ini, tidak boleh itu—melainkan kekudusan yang muncul karena kita berapi-api bagi Tuhan—roh kita menyala-nyala. Katakanlah, kalau dosa dan kenajisan itu kegelapan, kita tidak sibuk mengutuk kegelapan, sebaliknya kita giat menyalakan terang.

Prosperity. Dulu, ibarat di padang gurun, kita begitu bersemangat dalam pelayanan, namun hanya ada manna hari demi hari. Artinya, dana pendukung pelayanan hanya pas-pasan. Kita percaya, dalam pergerakan kali ini, Youth Awakening, Tuhan akan menyediakan dana yang memadai, bahkan berlimpah-limpah.

Namun, tetap, kita tidak akan merekrut orang dengan cara-cara yang dulu. Kita tidak akan bergerak secara eksklusif dan bersikap holier-than-thou. Kita justru ingin membaur dan meniadakan sekat-sekat denominasi. Kita ingin orang tergabung karena mereka rela dan merasa terpanggil. ”Pada hari tentaramu bangsamu merelakan diri untuk maju dengan berhiaskan kekudusan; dari kandungan fajar tampil bagimu keremajaanmu seperti embun.”—Mazmur 110:3

9.
Begitulah. Untuk sebuah acara dadakan, reuni ini beyond my expectation. Peserta juga merasa dibangkitkan bisa bertemu satu sama lain. Karenanya, acara ini diharapkan bisa dilangsungkan secara teratur. Anggaplah sekarang ini baru reuni penjajakan. Direncanakan menjelang atau awal bulan puasa nanti, akan diadakan lagi reuni yang lebih tertata pelaksanaannya. Bagi yang berminat, silakan tunggu kabar-kabar selanjutnya.

Begitulah, itu tadi reuni dan silaturahmi mantan Maranatha dari sudut pandang seorang Denmas Marto. Kutunggu kawan-kawan lain melengkapi.

Love you all, guys!

Curdie dan Ibunya

July 13th, 2008 by ariesaptaji

CurdieThe Princess and the Goblin, dongeng anak-anak terkenal karangan George MacDonald. Pendeta, novelis dan penyair Skotlandia ini bisa disebut "bapa rohani"-nya C.S. Lewis. Karya-karyanya yang memancarkan cheerful goodness ‘kebaikan yang menyenangkan hati’, khususnya Phantastes, telah memukau imajinasi Lewis dan meyakinkannya, bahwa kebenaran itu bukan sesuatu yang menjemukan.

Dalam salah satu bagian dongeng ini, dikisahkan hubungan Curdie, anak seorang penambang, dan Ibunya. Nyonya Peterson adalah lbu yang sangat baik dan manis. Ibu-­ibu yang lain memang baik dan manis, dengan segala kelebihan dan kekurangannya, namun Nyonya Peterson benar-benar baik dan manis, serba lebih dan tanpa kekurangan. Rumah sederhana di lereng bukit telah dijadikannya surga kecil bagi suami dan anaknya – tempat peristirahatan yang nyaman bagi mereka sepulang dari tambang yang redup dan berdebu. Tangannya memberikan kehangatan, namun kasar, tebal dan besar karena tekun bekerja bagi mereka; karena itu, di mata para malaikat, tangannya tampak sangat indah.

Suatu ketika, Curdie kerja lembur di tambang selama sekian malarn. Itu dilakukannya antara lain agar dapat membelikan rok merah baru bagi ibunya sebelum musim dingin tiba. Namun, sekalipun Curdie bekerja keras, kenyamanan yang dihasilkan oleh kerja keras Ibunya jauh lebih dirindukan Curdie bila dibandingkan dengan kerinduan ibunya akan rok baru, sekalipun pada musim dingin. Ini bukan berarti Curdie dan Ibunya menghitung-hitung seberapa besar yang telah mereka lakukan bagi yang lain: perhitungan itu justru akan merusakkan segala-galanya.

Dan ini bukan cerita tentang kasih Ibu sepanjang jalan, kasih anak sepenggalah. Lebih dalam dari itu. Penggalan dongeng ini menggambarkan dengan bagus kesimpulan Yohanes tentang mengasihi Allah, "Sebab inilah kasih kepada Allah, yaitu, bahwa kita menuruti perintah-perintah-Nya. Perintah-perintah-Nya itu tidak berat" (I Yohanes 5:3).

Perintah-perintah-Nya tidak berat kalau kita mengasihi Dia. Kalau kita tidak berhitung-hitung dalam memberi diri dan melayani Dia – kalaupun benar-benar dihitung, akan jomplang-lah timbangan kita: karena Tuhan serba baik dan tanpa kekurangan. Karena itulah Paulus menasihati kita "demi kemurahan Allah" (Roma 12:1), agar mempersembahkan tubuh kita, seluruh hidup kita, untuk memuliakan Tuhan. Dari sini kita bisa melayani Dia dengan sukacita dan dengan gembira hati.

Dan dalam kisah Curdie tadi, bukan lagi perintah Ibunya saja yang dilakukannya. Ia hendak memberikan pula apa yang menjadi kerinduan hati ibunya. ***

Manusia Wakil Allah

July 13th, 2008 by ariesaptaji

GodmanManusia diciptakan dengan tujuan untuk mewakili Allah di bumi ini. Ia membawa rupa dan gambar Allah. Ciptaan lainnya dapat melihat Allah melalui manusia karena manusia begitu menyerupai atau mirip dengan Tuhan yang menciptakannya.

Sebagai mahkota ciptaan Allah, manusia memikul tanggung jawab khusus dalam hidupnya. Mazmur 8 menggambarkannya dengan indah.

Hampir sama seperti Allah. Kondisi ilahi manusia menjadikannya tidak sama dengan ciptaan lainnya. Ketidaksamaan ini adalah suatu kehormatan dan kemuliaan, tetapi juga sekaligus tanggung jawab. Ia dituntut untuk bertindak sesuai dengan kehormatan yang ia miliki. Ada berbagai interpretasi teologis yang berbeda-beda mengenai keberadaan manusia sebagai gambar dan rupa Allah. Gambar (image) mengacu pada penampilan manusia yang secara indah menggambarkan Allah; sedangkan rupa (likeness) mengacu pada moralitas, daya rasio dan intelektual manusia yang seperti Allah. Tetapi pada dasarnya, frase "hampir sama seperti Allah" (terjemahan Inggris: "sedikit lebih rendah dari Allah") atau "dalam gambar dan rupa Allah" lebih memperlihatkan ketergantungan manusia kepada Tuhan. Seperti tanaman memerlukan sinar matahari untuk tumbuh, demikian juga kita memerlukan Tuhan sendiri untuk menghidupkan rupa dan gambar-Nya di dalam diri kita. Manusia diberikan kehormatan untuk membawa karakter, kemuliaan dan kuasa Allah di dunia ini di dalam Tuhan, bukan di dalam dirinya sendiri. Oleh karena itu “hampir sama seperti Allah” atau “diciptakan dalam rupa dan gambar Allah” juga mengacu pada keterbatasan manusia bila berjalan tanpa Allah.

Dimahkotai dengan kemuliaan dan hormat. Karena manusia tidak diciptakan sama dengan yang lainnya, iapun dituntut untuk bertindak sesuai dengan penciptaannya. Manusia tidak dapat bertindak seperti alam seisinya. Ia tidak dapat mencontoh dan meniru binatang, alam dan kosmik. Ia tidak dapat hidup kawin-mengawinkan seperti hewan, atau menerapkan sistem yang kuat yang menang (survival of the fittest) dalam perekonomiannya; atau percaya pada cycle of life yang melihat hidupnya integral berputar dalam alam; atau menganggap manusia adalah spesies yang sama dengan hewan mamalia lainnya. Tidak! Manusia lebih tinggi daripada ciptaan lainnya, sebab ia memiliki mahkota kemuliaan dan hormat.

Berkuasa atas segala ciptaan. Manusia ditetapkan untuk melatih wewenang (otoritas) dan kuasa yang ia miliki. Ia harus menjalankan pemerintahan Allah dan menegakkan kebenarannya oleh iman dan Roh Kudus, untuk meneguhkan Kerajaan Allah.

Segala-galanya telah diletakkan di bawah kakinya. Manusia ditentukan untuk memiliki kemenangan. Kemenangan adalah sesuatu yang diberikan Tuhan, yang perlu diterima oleh manusia. Inilah pertempuran dan pertandingan yang sesungguhnya telah ditetapkan Tuhan bagi setiap orang. Setiap orang harus mengambil jalannya dan berjalan di dalamnya. Seperti Yosua dan Kaleb yang berhasil memiliki dan mewarisi janji Allah. Mereka menang dan mereka berhasil memenuhi tujuan hidupnya. Setiap orang bertanggung jawab atas kehidupannya. Apakah ia telah menaklukkan bumi ini dan meletakkannya di bawah kakinya seperti yang telah Tuhan tentukan? Manusia diciptakan bukan untuk pasif dan tanpa pilihan; melainkan aktif dan menentukan pilihannya. ***

Lebih Lambat, Lebih Baik

July 13th, 2008 by ariesaptaji

SekolahMakin cepat, makin baik. Lebih dini masuk sekolah, lebih pintar anak kita. Orang tua pun berlomba-lomba menyekolahkan anaknya seawal mungkin. Kalau umur lima atau enam tahun anak sudah masuk SD, sudah lancar membaca, berhitung, menulis, dan berbahasa Inggris, Mandarin atau bahasa asing lain—betapa mekar bangga dada orang tua!

Pandangan semacam ini terfokus pada salah satu aspek perkembangan anak saja. Kesiapan anak masuk sekolah ditakar hanya menurut kemampuan kognitifnya. Kecerdasan intelektualnya dijadikan tolok ukur utama kesuksesan pendidikannya. Perspektif ini mengandung ketimpangan.

Secara umum perkembangan manusia normal berlangsung secara stabil dan normal pula. Setiap anak akan melewati fase-fase pertumbuhan sesuai dengan tahapan usianya. Menurut penelitian pendidik Jean Piaget, anak melewati empat fase menuju kedewasaan. Pada fase awal (0-2 th), anak mempelajari cara berkomunikasi dan menyerap dasar-dasar kepercayaan melalui pengetahuan yang diterimanya. Pada fase prastudi (2-7 th), anak mulai memperluas wawasan dan pergaulan, mulai mengembangkan berbagai perlengkapan dasar yang ia perlukan dalam membangun kapasitas hidup. Pada fase belajar (7-11 th), anak bersemangat mencari tahu, mengembangkan segala aspek dirinya, baik rasional, emosional, maupun keterampilan. Mulai usia 11 tahun, anak memasuki fase dewasa, saat ia masuk ke tengah masyarakat dan menerapkan hasil belajarnya dalam kehidupan.

Pendidikan anak perlu memperhatikan fase-fase perkembangan tersebut. Kita tidak dapat mengarbit anak. Memang perkembangan kognitif anak biasanya jauh lebih cepat daripada kestabilan emosinya. Namun, ini bukan alasan untuk mempercepat memasukkan anak ke sekolah. Mengapa?

Pendidikan dimaksudkan untuk mempersiapkan seseorang menjadi betul-betul dewasa, matang di dalam segala aspek pembelajaran dan kehidupan. Anak bertumbuh menjadi manusia seutuhnya, siap memenuhi panggilan Tuhan dalam hidupnya.

Masalahnya, orang tua—didukung pula oleh kultur sekolah di negeri ini—lebih mengutamakan aspek kognitif, dengan mengabaikan atau menomorduakan aspek perkembangan lain dalam diri anak. Pendidikan atau belajar di sekolah berkutat pada mengetahui informasi, menghafalkan, mengerjakan ujian agar lulus UAN, namun sesudahnya gagap menerapkan pengetahuan tersebut dalam kehidupan. Kita sempat dikejutkan dengan kasus seorang juara Olimpiade Fisika Nasional yang gagal lulus SMU. Atau, kita menemukan orang yang cerdas, namun gagap dalam membina hubungan dengan orang lain. Ini baru contoh kecil kegagalan akibat pola pendidikan yang tidak holistik.

Pendidikan adalah pendalaman pengertian yang mengubahkan kehidupan. Hal ini melibatkan seluruh aspek pribadi anak, bukan hanya sisi kognitifnya, namun juga perkembangan rohani dan kesiapan mentalnya. Pada usia di bawah tujuh tahun, perkembangan kerohanian dan mentalitas anak belum siap. Ia, misalnya, masih perlu lebih banyak bermain, bukannya duduk berjam-jam menyimak pelajaran. Walaupun secara kognitif rasional anak itu sudah mampu, ia tetap membutuhkan waktu untuk mengembangkan kestabilan emosinya. Bila dipercepat, pertumbuhan emosionalnya menjadi kurang wajar. Pendidikan yang sehat, sebaliknya, akan memampukan anak menghadapi masalah yang berkaitan dengan ilmu yang dipelajari.

Dalam paradigma ini, anak terlambat masuk sekolah satu atau bahkan dua tahun lebih baik daripada lebih cepat satu atau dua tahun. Mereka itu akan memiliki kematangan pribadi yang kuat. Kematangan yang dipersiapkan (bukan karena anak malas masuk sekolah atau tidak dididik dengan baik) akan menghasilkan kesiapan secara menyeluruh bagi anak untuk berkembang menjadi manusia dewasa. Orang-orang yang berkembang matang seperti ini biasanya akan lebih bijaksana di dalam setiap langkah hidupnya. ***

Sumber: Sutjipto Subeno, ”Tujuh Tahun (Baru) Masuk Sekolah?”, Logos, Edisi 3, 2007.

Finalis CIBFest Zone 2008

July 13th, 2008 by ariesaptaji

Cibfesta Dulu ikut karena ingin meluaskan pertemanan, ternyata blog ini terpilih sebagai salah satu finalis CIBFest Zone 2008 kategori personal. Syukurlah! Semoga tulisan di blog ini kian banyak memberkati orang.

Menemukan Tujuan Hidup

April 2nd, 2008 by ariesaptaji

”Mengapa saya dilahirkan?”

            Kalau pertanyaan itu ungkapan keputusasaan seorang TKI yang dianiaya majikannya di negeri jiran, lantas malah dijebloskan ke dalam penjara, kita akan ikut geram. Kalau pertanyaan itu desah kepedihan seorang bapak tunawisma yang tidak memiliki biaya untuk menguburkan anaknya sehingga terpaksa membopong jenazahnya sepanjang jalan, kita akan ikut pilu. Dalam forum yang serius, pertanyaan semacam itu biasanya diutarakan di tengah wacana filsafat atau ceramah keagamaan.

            Namun, kali ini pertanyaan tersebut terlontar dari mulut seorang tokoh yang telah disemati salah satu penghargaan paling bergengsi di muka bumi ini. Suatu hari sebuah artikel memerikan kehidupannya yang sangat sukses itu secara mendetail. Pembaca tentu akan menyimpulkan bahwa sang tokoh telah menjalani sebuah kehidupan yang utuh, memuaskan, penuh faedah. Namun, di ujung artikel itu, orang tersebut mengucapkan pernyataan yang sungguh mengusik. Ia berkata, ”Namun, anda tahu, ada pertanyaan-pertanyaan yang masih mengganggu saya saat ini seperti halnya lima puluh tahun yang lalu.” Dan, pertanyaan utama yang mengganggu tokoh kita itu tak lain adalah pertanyaan eksistensial tadi, ”Mengapa saya dilahirkan?”

Tokoh kita itu bernama Isaac Singer. Ia pemenang Nobel Sastra 1978.

Pencapaian seluhur itu ternyata belum juga menjawab kegelisahannya perihal makna hidup. Di mana lagi kita bisa menemukan jawaban yang memuaskan? Kekuasaan, kekayaan melimpah, gebyar popularitas, kenikmatan indrawi – tidak sedikit orang yang telah membuktikan bahwa semuanya itu bukan sumber kebahagiaan final, bukan penyingkap makna kehidupan. Psikolog terkenal Karl Jung mengakui, ”Ketiadaan tujuan hidup adalah penyakit saraf yang menimpa generasi ini.”

Dalam Katekismus Singkat yang dipakai di gereja-gereja Inggris ada pertanyaan: "Apakah tujuan utama manusia?" Jawabannya: "Tujuan utama manusia adalah memuliakan Allah dan menikmati Dia untuk selama-lamanya." Jawaban ini selaras dengan seruan kedua puluh empat tua-tua yang tersungkur dan menyembah Dia yang hidup sampai selama-lamanya, "Ya Tuhan dan Allah kami, Engkau layak menerima puji-pujian dan hormat dan kuasa; sebab Engkau telah menciptakan segala sesuatu; dan oleh karena kehendak-Mu semuanya itu ada dan diciptakan.” Dalam terjemahan versi King James diungkapkan: ”untuk kesenangan-Mu semuanya itu ada dan diciptakan.” Ya, Allah menciptakan kita untuk kesenangan-Nya; Ia menjadikan kita untuk diri-Nya sendiri!

Kesia-siaan hidup ditakar dari kegagalan kita menggenapi tujuan hidup yang telah digariskan sebelumnya oleh Pencipta kita. Kehidupan yang egois, berpusat pada pengejaran ambisi dan pemuasan pribadi, menyeret kita ke dalam rawa-rawa kesia-siaan.

            Kita akan mulai menemukan tujuan hidup saat kita mengalihkan pandangan dari diri sendiri. Kita tidak melihat diri kita sebagai pusat. Sebaliknya, kita menyadari bahwa keberadaan kita di dunia ini adalah untuk memuliakan Allah. Ketika kita menyadari bahwa kita hidup untuk mencari dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, bukannya membangun Kerajaan Aku, di situlah kita akan menemukan sumber kepuasan sejati. ***

Impian yang Luruh

April 2nd, 2008 by ariesaptaji

Kadang-kadang kita bisa memetik hikmah dari kegagalan. Pengalaman buruk dapat menyengat kita, mengingatkan kita akan jalan yang lebih baik. Kisah berikut ini kiranya menggugah kita untuk menjalani kehidupan secara arif.

Namanya Howard Hughes. Kebanyakan orang akan menganggap ia telah berada di puncak dunia. Apa lagi yang masih kurang? Sejak kecil ia telah bermimpi – “Kalau aku besar nanti, aku akan menerbangkan pesawat tercepat yang pernah dibuat manusia, membesut film terhebat yang pernah ada, dan menjadi orang paling kaya di dunia” – dan hidupnya merupakan penggenapan dari impian tersebut.

Ketika masih remaja ia telah mewarisi bisnis ayahnya yang sukses. Dengan kucuran dana yang seperti tak kunjung habis, ia mengerahkan segenap kenekatan untuk mewujudkan serangkaian ide gilanya. Dunia dibuatnya tercengang. Selebihnya, sederetan selebritas jelita jatuh ke dalam pelukannya.

Penggalan hidupnya tersebut diangkat ke dalam film The Aviator (2004) garapan Martin Scorsese. Hughes tampil sebagai sosok yang flamboyan, jenius, visioner, keras kepala, playboy, dan eksentrik. Namun, dia juga sekaligus penyendiri: Dia fobia terhadap orang dan bakteri, dan nantinya digerogoti penyakit mental dan fisik. Dalam dirinya, kita melihat batas tipis antara kejeniusan dan kegilaan. Impiannya, akan pesawat yang mampu terbang di atas awan dan mengangkut banyak penumpang sekaligus, merupakan sebuah terobosan jauh ke masa depan. Di sini kita salut akan kegigihannya mewujudkan visi, berapa pun harga yang harus dibayarnya.

Di sisi lain, menyimak gaya hidupnya yang serba gemerlap, namun sekaligus dihantui gangguan mental, kita serasa menyaksikan embrio budaya pemujaan selebritas, obsesi seksual dan cengkeraman materialisme yang saat ini kian merebak. Sebuah gaya hidup yang menggilas akal sehat.

Film ini merayakan sisi tersebut secara gegap-gempita, namun The Aviator berhenti saat Hughes berada di tubir ketidakwarasan. Scorsese tampaknya enggan memotret akhir tragis tokoh ini. Selama sepuluh tahun terakhir masa hidupnya sampai meninggal pada 1976, Hughes menghabiskan sebagian besar hidupnya dengan menyendiri, berpindah-pindah dari penthouse hotel satu ke penthouse hotel lainnya.

Ketika selama empat tahun tinggal di Desert Inn Hotel, Las Vegas, ia suka menonton televisi mulai dari tengah malam sampai pukul enam pagi. Sayangnya, stasiun setempat hanya mengudara sampai pukul sebelas malam. Asisten Hughes berulang mendesak Hank Greenspun, pemilik stasiun, untuk menyiarkan film-film koboi dan penerbangan kesukaan Hughes pada jam-jam dini hari. Greenspun akhirnya menjawab, “Kenapa dia tidak membeli saja stasiun ini dan memutar program sesuka hatinya?” Hughes sepakat, dan ia pun mengeluarkan 3,6 juta dolar untuk membeli stasiun itu – agar dapat menyiarkan acara favoritnya dari pukul sebelas malam sampai pukul enam dini hari.

Sewaktu ia meninggal dunia, gaya hidupnya yang suka menyendiri dan penggunaan obat-obatan secara berlebihan membuat penampilannya sulit dikenali. Rambut, cambang, kuku jari tangan, dan kuku jari kakinya bertumbuh panjang tak terurus. Tubuhnya yang semula kuat dan tegap tinggal berbobot sekitar 41 kilogram. FBI mesti mengambil sidik jarinya guna mengenali identitas jenazahnya tersebut. Hidupnya berakhir secara mengenaskan. ***